Suamiku Tak Lagi Menyentuhku

Suamiku Tak Lagi Menyentuhku
Diusir


__ADS_3

Pukul 09:00 aku dan Cahya sudah rapi. Hari ini aku mau menemui orang pintar itu.


Bude Mira melihatku tak berkedip.


"Mau ke mana kok, sudah rapi?" tanyanya. Sembari memegang sapu.


"Mau ke tempat teman, Bude," sahutku.


"Enak ya, makan tidur. Terus ngelayab nggak jelas!" sungut Bude.


Deg!


Ada yang nyeri di dalam dadaku. Ah, bodo!


Turun dari angkot langsung mencari alamat rumah orang pintar yang disarankan temanku.


Langkah kaki ini ku percepat kini sudah di halaman rumah bercat ungu. Halamannya dipenuhi bunga melati.


Tok!


Tok!


Tok!


"Permisi ...,"


"Sebentar!" ujar pemilik suara itu dari dalam rumah.


Pintu dibuka berdiri seorang ibu berambut putih. Uban lah menghiasi kepalanya. Usia kisaran seperti ibuku 42 tahun.


Aku mengangguk lalu tersenyum. Dan berkata, "Bu Lorence, ya?"


"Iya, betul."


"Saya ada perlu dengan sampaian,"


"Mari silakan masuk!"


"Terima kasih,"


"Ada keperluan apa, Mbak datang ke mari? Silahkan duduk,"


Aku duduk di sofa coklat harum ruangannya berkesan mistis. Seperti bau minyak wangi melati. Hampir saja aku muntah.


"Begini, Bu. Menurut informasi yang saya dapatkan. Ibu katanya bisa mengirim ilmu pengasihan ya? Saya minta tolong, Bu."

__ADS_1


"Oh, itu. Bisa-bisa," sahut Bu Lorence menganggukkan kepalanya. "Ceritakan kronologisnya, Mbak. Dan Mbak tinggal di mana?"


Sementara aku menceritakan permasalahan ku. Bu Lorence menggenggam bunga melati dan menyediakan segelas air mineral dalam gelas kaca.


"Jadi, Mbak pinginnya Ferdi kembali ke pelukan, Mbak?"


Aku mengangguk.


"Berapapun akan saya bayar," ulasku.


"Mbak ini keponakannya, Bu Mira ya?"


Aku mengangguk lagi.


"Gampang itu! Tunggu sebentar ya,"


Bu Lorence merapal doa dan jampi-jampi. Entah, apa yang diucapkan. Kemudian ia tiupkan di permukaan gelas kaca itu.


"Minum air ini sebut namanya dalam hati." Ia menyodorkan padaku.


Glek!


Glek!


Glek!


"Saya kenal dengan Bu Mira dan juga iparmu,"


Aku terkejut bahaya jika ia membocorkan rahasia kehamilanku.


Aku pun berpamitan pulang.


****


Malamnya aku berniat mencoba menghubungi Mas Ferdi melalui telpon. Siapa tahu jampi-jampi dari Bu Lorence manjur.


Tuut ... Tuut ... Tuut ...


"Halo, siapa ini?" ucap wanita di seberang sana.


Apa aku salah nomor? Kenapa suara perempuan terus yang menjawab.


Atau jangan-jangan istrinya Ferdi?


"Halo!"

__ADS_1


Klik.


Aku matikan sebelah pihak.


Terkutuk kamu mas!


Aku benci kamu!


Hiks ... Hiks ... Hiks ...


Dor!


Dor!


"Larasati, keluar kamu!" teriak Bude.


Segera kuhapus sisa air mataku. Belum kubuka Bude sudah menerobos masuk.


Plak!


Bude menampar pipi kananku. Panas dan perih menjalar tak terkira.


"Kamu hamil anak siapa, hah?! Pantas saja betah numpang di sini,"


Aku terdiam tak bisa menjawab. Tak berani ku tatap mata monster itu.


Tunggu dulu, Bude tahu dari mana aku hamil?


"Bikin malu saja. Pakai ke orang pintar segala. Besok kamu balik ke rumah ibumu. Aku nggak sudi menampung keponakan pezina sepertimu!"


Jadi, Bu Lorence yang membocorkan rahasia ku?


Tak manjur jampi-jampinya, malah aku kena tampar.


Bangs**!


Aku remas ujung bajuku. Dalam hati hanya bisa memaki.


Tak banyak yang kulakukan. Semua memandangku di depan kamar ini.


Bude mengusirku? Aku harus ke mana lagi.


Ya Allah, tolong hamba-Mu yang nista ini.


5 bulan kepergianku Mas Beni tak juga mencari ku. Berarti usia kandunganku sudah memasuki 5 bulan. Aku mau melahirkan di mana? Bude sudah mengusirku.

__ADS_1


__ADS_2