
Renungan Larasati
Tuhan, kenapa nasibku tak sebagus kedua saudaraku?
Kehidupan mereka layak dan berkecukupan. Rupa bagus ayu nan rupawan. Sedangkan aku?
Hidup pontang-panting memenuhi kebutuhan. Suami dingin bagai lautan.
Rupaku buruk nasibku pun sama buruknya. Apa karena hidupku tak seberuntung mereka?
Dari kecil tak terurus sudah dewasa apalagi. Ayahku telah tiada, ibuku? Bukan seperti seorang ibu. Apa salahku? Bu. Aku kau perlakukan tak seperti selayaknya seorang anak.
Tuhan sudi lah kiranya memberiku kebahagiaan. Meski satu kali saja. Aku ingin tahu apa itu bahagia.
Tuhan ubah lah suamiku menjadi seorang penyayang. Setidaknya, menjadi seorang ayah bagi anak-anaknya untuk bertanggung jawab.
Aku lelah dengan beban yang aku pikul. Kuatkan dan sehatkan aku agar bisa membimbing anak-anak biar tak sama nasibnya seperti ibu mereka.
*
*
*
10 tahun usia pernikahanku banyak pilu dan pahit aku lalui. Apakah sikap Mas Beni berubah? Ya, meskipun sedikit.
Kini ia mulai memberiku nafkah walau sedikit. Meskipun, tetap saja aku tak disentuhnya. Apakah aku wanita kesepian? Tentu.
Biarlah tak mengapa aku ikhlas. Toh, sekarang dia tak mengungkit siapa ayah Samudera.
Drrt ....
Suara dering telpon membuyarkan lamunanku. Aku raih benda pipih itu di atas nakas.
__ADS_1
Nomor tak dikenal?
"Halo, Dik," sapa laki-laki di dalam telpon.
Suara lembut Mas Ferdi. Benarkah?
"Iya, halo. Siapa?" tanyaku pura-pura tak kenal.
"Kamu benar tak ingat aku? Aku Mas Ferdi." Ia menyakinkan ku.
"Oh, Mas Ferdi? Aku pikir siapa," sahutku datar.
Mas aku merindukanmu. Jerit hatiku.
"Kok, sudah lupa?"
Aku menahan tangis yang hampir luruh.
"Aku tidak pernah melupakan bajingan seperti mu, Mas! Kamu laki-laki biadab yang tak punya o*ak!"
Telpon ku putus.
Arghhh!
"Bangs*t! Kenapa kamu datang lagi, Mas. Aku sudah hampir melupakan secara perlahan-lahan ...." Tangisku pecah juga.
"Ma--ma." Samudera memanggilku dengan bahasa cadelnya.
Ia memeluk dan menatap wajahku beberapa detik.
Mas Ferdi dia buah hati kita. Dia yang kau paksa untuk mati. Tumbuh lincah dan aktif. Apakah kau tak ingin menemuinya?
Aku hapus air mata ini tak usah lagi ada air mata. Menangisi Ferdi itu artinya aku masih bodoh sangat bodoh mengharapkan cinta yang tak pernah bisa dimiliki.
__ADS_1
Esok harinya aku tengah berkumpul dengan ibu-ibu di depan komplek.
Seorang wanita tampak biasa saja, baju gamis bewarna merah muda senada dengan jilbabnya turun dari mobil Avanza.
"Permisi, ini gang Dolly Blok C, ya?" tanyanya. Seraya menurunkan kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.
"Iya, betul!" jawab ibu-ibu serentak termasuk aku.
"Oh, ya. Saya mau tanya di mana ya warung makan biasa yang dihampiri para supir truk?"
"Di sini ada tiga warung makan, Mbak. Kenapa ya, kalau boleh tahu," kata Mbak Meli tetanggaku.
"Saya mau cari di mana wanita gatal simpanan suami saya!" ketusnya.
Aku terhenyak dan sedikit mundur.
"Siapa memangnya nama suami, Mbak?"
"Ferdi." Mata wanita itu melotot. Ia menahan amarah.
"Siapa ya, Ferdi." Ibu-ibu saling pandang.
Untungnya, ibu-ibu di sini tak kenal siapa itu Ferdi.
Huftt!
Aman .... Apakah dia benar-benar istrinya?
Hampir saja jantungku copot dibuatnya.
"Saya kenal dan tahu di mana warung itu!" ucap seseorang lantang dari belakang.
Ibu-ibu berbalik badan dan melihat siapa pemilik suara itu.
__ADS_1
Astaga! Ibu?
Ya Allah, tolong aku. Jangan sampai ibu memberi tahukannya.