Suamiku Tak Lagi Menyentuhku

Suamiku Tak Lagi Menyentuhku
Hubungan Terlarang


__ADS_3

Sampai rumah aku menangis pilu. Tuhan aku mencintai orang yang salah. Tapi mengapa ia yang mampu menggetarkan relung hatiku?


Mas Ferdi tak kunjung pergi ia masih duduk di warungku.


Drrt ... Drrt ...


Ponselku bergetar.


"Dik, mas mohon jangan tinggalkan aku." Isi pesan SMS dari Mas Ferdi.


Tak kuhiraukan biarlah nanti juga lelah sendiri.


Tring! Tring!


Panggilan telpon masuk. Rupanya Mas Ferdi tak menyerah.


Klik ponselku dinonaktifkan.


Beres!


*****


Selama satu Minggu warung tak kubuka. Menghindar darinya.


Malam ini hujan begitu deras sekilas kulihat laki-laki meringkuk di ujung warung milikku.


Mas Ferdi?


Cepat-cepat kuhampirinya.


"Mas Ferdi? Ngapain di sini malam-malam?" Sedikit khawatir dengan keadaannya.


Mas Ferdi menggigil hebat, apakah dia sengaja hujan-hujanan?


"Dik. Mas senang kamu datang,"


Bibirnya biru pucat, bajunya basah.


"Hubungan kita sudah berakhir tolonglah mengerti."


"Apakah, kamu tak mencintaiku? Selama seminggu ini aku menunggumu. Aku rela hujan-hujanan demi kamu!"


Jleb!

__ADS_1


Hatiku seperti tertusuk belati.


Aku membuka pintu warung dan membiarkan ia masuk. Mas Ferdi demam suhu badannya panas. Ya Tuhan!


Aku mencari baju Mas Beni yang tak pernah dipakai lalu kuberikan untuknya. Merawatnya dan memberi obat.


"Dik ...," Ia mengecup bibirku. Aku terbuai dalam pelukannya.


Kami saling berpelukan dan tak ingin melepaskan.


"Berjanjilah, jangan tinggalkan Mas. Bila perlu kita tinggal bersama."


Mas Ferdi meyakinkanku benarkah, ia mencintaiku?


"Tapi ...."


Ssst ....


Jari telunjuknya ia letakkan di bibirku. Ia tertidur dalam pelukanku begitu lelap.


****


Aku mengecek anak-anakku mereka nyenyak dalam peraduannya.


"Loh, sudah bangun."


"Terima kasih, Dik. Sudah merawatku,"


Mas Ferdi memelukku dan mengecup bibirku lagi. Jari-jemarinya lihai membuka kancing di dadaku.


Hingga ....


Ya! Kami melakukan hubungan layaknya suami istri sampai berulang-ulang. Di mana ada kesempatan dan tempat kami melakukannya.


*****


Mas Beni kembali dari perjalanannya. Ia meminta haknya. Tapi aku selalu menolaknya.


Ia rebut paksa haknya. Dasar! Tak pandai merayu.


Sekarang di dalam otakku hanya ada ....


Ferdi!

__ADS_1


Ferdi!


Dan ...


Ferdi!


Mas Beni sudah berangkat kerja ia bilang hanya seminggu. Pulang atau tidak aku tak peduli. Pastinya aku bisa bertemu dengan kekasihku. Ya, kan?


Malam yang syahdu rembulan bersembunyi di singgasananya.


Aku terkapar dalam dekapan Mas Ferdi peluh masih membanjiri kami. Dibelainya rambutku dengan mesra.


"Kapan kamu bercerai dari Beni, Dik?" tanya Ferdi.


"Sabar. Tak mungkin kan, tiba-tiba minta cerai. Aku lagi mencari alasan untuk pisah dengannya,"


"Jangan lama-lama ya, tak sanggup lagi Mas jauh denganmu."


Aku mengangguk.


Segera kukenakan pakaian yang berserak di lantai. Sepintas aku menyesal dengan hubungan terlarang ini.


*****


Ada yang mengganjal di hatiku. Tapi apa?


Tunggu, tunggu, tunggu! Aku terlambat datang bulan. Oh, tidak!


Tak butuh waktu yang lama segera aku periksakan ke bidan terdekat. Dan ...


"Saya kenapa ya, Bu? Akhir-akhir ini pusing dan mual,"


Bidan itu tersenyum dan menyuruhku ke toilet untuk menampung air urin dan tes kehamilan pada tespeck.


Atau jangan-jangan, aku?


Detak jantungku hampir loncat dari tempatnya. Menepis dugaan yang tidak-tidak.


"Wah, selamat ya, Bu. Ibu positif hamil." Digeser benda pipih putih bergaris dua samar-samar ke arahku.


Duar!


Bagai palu menghantam jantungku. Aku hamil? Anak siapa? Mas Ferdi atau Mas Beni? Siapa ayah dari anak yang ku kandung ini?

__ADS_1


__ADS_2