
Pukul 01:00 dini hari.
Mataku tak bisa berpejam khawatir akan banjir. Hujan kian deras disertai gemuruh dan petir. Andai aku dan Mas Beni tidur satu kamar mungkin bisa saling menghangatkan. Itu dulu sebelum aku melakukan kesalahan fatal.
Hujan deras tak berhenti mengungkit kenangan indah bersama Ferdi. Aku lewati malam-malam yang indah bersamanya.
Flashback
"Dek. Jangan tinggalkan, Mas ya. Mas sayang sama kamu. Mas kepingin kita membina rumah tangga," ucapnya. Ia memelukku dari belakang sambil rebahan. Aku dan Mas Ferdi selesai olahraga malam.
"Caranya?" tanyaku. Aku berbalik ke arahnya.
"Kita tinggalkan pasangan kita masing-masing. Dimulai dari kamu dulu minta cerai dari Beni. Kalau sudah cerai baru Mas akan menceraikan istriku." Mas Ferdi mengecup pucuk kepalaku.
"Ehmm," hanya gumaman yang aku ucap.
"Kamu nggak, bisa ya?"
"Aku ragu."
"Ragu kenapa?"
"Ragu hubungan kita berakhir pahit. Dan Mas akan pergi meninggalkan aku gitu, aja," ulasku ragu.
"Hei." Ia menarik daguku pelan. "Mas sayang dan cinta sama kamu. Mas janji tidak akan meninggalkanmu." Matanya berbinar.
"Benarkah, Mas?" tanyaku lagi.
"He'em." Ia mengangguk.
Dieratkan pelukannya di tubuhku. Sungguh malam yang syahdu.
Flashback off
Tak terasa air mataku mengalir begitu saja. Kenangan indah itu telah sirna nyatanya aku yang ditinggalkan dan dicampakkan.
Belum sepenuhnya aku bisa melupakan Ferdi. Tuhan hapuskan lah ingatanku tentang dirinya.
"Laras!" panggil Mas Beni mengejutkan.
Aku usap perlahan. "Iya, Mas." Aku mendekatinya di ambang pintu.
"Air sungai kayanya naik. Cepat naikan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi," katanya sambil memerintah.
Ia membuka pintu dan melihat ke arah luar. Nampak genangan air di sudut-sudut got dan jalanan.
__ADS_1
"Banjir kayanya, Mas." Aku berlalu mulai mengangkat barang-barang berharga ke tempat yang aman.
Brak!
Mas Beni menutup pintunya ia pun mulai membereskan barang-barang. Kegiatan rutin setiap tahun musim penghujan.
*
*
*
Pukul 10:00 pagi
Banjir mulai menggenangi jalanan dan naik ke permukaan rumah-rumah warga.
Ibu? Apakah rumahnya banjir?
"Bisa-bisa nggak jualan aku!" umpat Mas Beni.
Jika Mas Beni tak jualan berarti beban ku bertambah. Untung kalau memberiku uang. Tapi percuma jika ada uang banjir di mana-mana.
Dua jam kemudian air memasuki rumahku setinggi lutut. Pukul 15:00 sore air mulai surut lagi. Bergegas aku bersihkan sisa-sisa lumpur dan kotoran di dalam serta lantai.
Ponselku bergetar di atas lemari plastik kecil.
Lisa?
Tumben telpon ke sini.
Klik
"Halo, Mbak." Suaranya sedikit membentak.
"Iya, Lis. Tumben telpon ke sini?!" tanyaku tak suka.
"Tumben, tumben. Ibu noh, bantuin! Bersihkan rumahnya kebanjiran. Kasian Orangtua dibiarkan," ujarnya.
"Loh, kamu kira aku nggak, kebanjiran?"
Aku duduk di kursi pojok dapur karena lelah. Dan lantai pun masih basah. Seenaknya saja Lisa asal bicara.
"Ya kan, bisa ke sana dulu. Kalau keberatan bantu ibu. Aku bayar deh, Mbak. Jangan khawatir!"
"Maksudmu apa sih, Lis--,"
__ADS_1
Tuut ... Tuut
Dasar kupret!
Setelah lelah ku hilang saatnya ke rumah ibu. Membantunya membersihkan rumah ibu akibat dampak banjir.
"Mas, titip Cahya sama Faisal. Aku mau ke rumah ibu dulu," ucapku berpamitan.
"Ke nenek sihir itu lagi? Nggak ada kapok-kapoknya, kamu."
Aku meliriknya sekilas, "Jangan begitu, Mas. Dia ibuku,"
"Ya, ya, ya. Nanti kalau ada apa-apa jangan ngadu," ejek Mas Beni.
*
*
*
Selesai membantu ibu akupun pulang. Ibu memberiku satu plastik bewarna putih. Entah isinya apa. Dan menggenggam kan uang di tangan Samudera.
Sesampainya di rumah aku membuka isi plastik itu.
Alhamdulillah!
Isinya bisa untuk makan esok. Ada beras, mie instan, ikan kaleng, dan telur.
*
*
*
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat Faisal tumbuh kembang ia bersekolah dan kelas tiga SD sedangkan, Cahya memasuki kelas satu SD.
Mas Beni perlahan mulai berubah hanya saja mabuk dan judinya masih melekat pada dirinya. Itu pun sudah jarang. Aku harap ia bisa meninggalkan kebiasaan buruknya.
Ibuku pun sedikit demi sedikit berubah dan tetap saja ia belum bisa menerima Beni padahal ibu juga yang menjodohkan ku dengannya. Anehnya, mereka tahan tak berteguran.
Bagaimana dengan iparku? Yah, begitulah. Judes dan cerewet.
Terus Mas Ferdi? Sudah tak ada kabarnya lagi. Tapi masih kuingat atas apa yang ia lakukan padaku. Biarlah berlalu Tuhan yang akan membalasnya. Perlahan aku mulai melupakannya walau sedikit saja karena sakit hati yang membuatku hampir gila tak kan pernah lupa.
Terima kasih, teman-teman sudah sudi dan meluangkan waktunya membaca cerita ini. Ambil sisi positif dan buang negatifnya. Jangan dibully ya, penulis pemula. Salam hangat dariku di ujung tanduk.
__ADS_1