
Tujuh tahun kemudian ....
Samudera telah menjadi anak-anak yang aktif ia pun telah bersekolah.
Hampir tiap pagi aku menemaninya dan menunggu sampai jam pulang sekolah.
Suatu hari aku tak sengaja mendengar teman-temannya berbicara kasar.
"Mau apa kamu kesini!" kata salah satu temannya.
Tubuh Samudera didorong dan menyebabkan Samudera jatuh.
"Aku kan, mau bermain sama kalian." Samudra bangun dari jatuhnya sambil membersihkan bokongnya yang kotor karena tanah.
"Pergi sana! Aku tak mau bermain sama anak haram sepertimu,"
"Anak haram!"
"Week, anak haram!"
Aku hanya bisa mengelus dada dan menyaksikan pilu pemandangan di depan mataku. Samudera berlari ke arahku dan menangis dalam pelukanku.
"Mereka tak mau bermain denganku. Salahku apa Ma?" tanya Samudera sambil menghapus air matanya.
Aku tak banyak bicara hanya bisa tersenyum getir melihat mereka memperlakukan Samudera seperti sampah.
Tak banyak yang bisa kulakukan hanya bisa berkata, "Sabar ya, Sayang suatu saat mereka mau berteman dan bermain bersama,"
Samudra mendongakkan wajahnya ke arahku ada pancaran harapan yang ia tunggu.
"Benarkah, Ma. Mama Nggak bohong 'kan?"
__ADS_1
Aku mengangguk lalu tersenyum.
"Lalu anak haram itu apa, Ma?" tanya Samudera kembali.
Aku menggigit bibir bawahku karena bingung tak sanggup rasanya berucap dan menjelaskan pada bocah yang belum tahu apa-apa.
"Tidak ada kata haram, Sayang." Aku meyakinkannya.
"Lalu mengapa mereka mengatai ku anak haram?"
Aku raih tangannya dan menuntun ia menuju bangku taman.
"Entahlah, Sayang. Mungkin mereka mendengarkan dari orang-orang yang berbicara sembarangan."
Samudra menunduk ia menatap sepatunya yang hampir koyak bulir matanya hampir terjatuh dan lolos begitu saja. Aku tahu dia laki-laki yang hebat anak yang kuat. Aku tak rela jika ia disakiti tapi bagaimana, caranya aku bisa melawan mereka karena kesalahan itu Samudera menjadi imbasnya.
Maafkan Mama, Nak. Ini salah Mama telah berbuat hina. Mama janji kok, menjadi Ibu yang baik dan bertanggung jawab untuk mu juga kakak-kakakmu.
"Apakah aku punya Ayah, Ma?" tanya Samudera sendu.
"Samudra kan punya ayah. Ayah B--beni."
Hatiku makin perih mendengarkan ucapan bocah polos di sampingku itu.
Samudra belum puas dengan jawabanku Ia pun bertanya lagi, "Benarkah, Ma? Lalu kata mereka Ayah Beni itu bukan ayahku. Ayahku pergi tak tahu kemana itu kata mereka!"
Samudra lari menjauh dariku ia masuk ke kelasnya dan membanting pintu.
Bibirku kelu tak mampu berkata apa-apa lagi aku lihat di sekitar ibu-ibu memandangku sinis. Aku tahu mereka membicarakan ku itu sudah pasti.
Bel berbunyi pertanda kelas telah berakhir aku lihat Samudera keluar dengan berlari menghampiriku.
__ADS_1
"Ayo, Ma cepat pulang jangan lama-lama di sini!" Samudera menarik tanganku sedikit diseret.
Aku kebingungan dan berkata, "Ada apa Samudera? Tak usah terburu-buru,"
Langkahnya semakin melaju dan ia bilang, "Samudera sudah tak tahan mendengar ejekan teman-teman,Ma."
Kepalaku mendidih mendengar perkataan itu bukan ini yang aku harapkan dan bukan ini kemauan ku. Jika kalian membenciku bencilah aku tapi jangan membenci Samudera ia terlahir tak tahu apa-apa.
Sepanjang perjalanan air mata perih yang berbicara samudra terlihat bolak-balik menghapusnya. Aku tahu ia sakit mendengar perkataan itu terlebih aku pun merasakan hal yang sama.
"Ma besok aku tak mau sekolah lagi," katanya.
Aku usap rambutnya ia menepis tanganku.
"Kenapa tak mau sekolah?"
Dia diam seribu bahasa.
"Malu diejek seperti itu terus, Ma."
Samudra berlari meninggalkanku ia masuk ke rumah terlebih dahulu.
Aku pun masuk ingin menghibur lalu mengetuk pintu.
Tok tok tok!
"Samudra dengarkan, Mama!"
"Samudra nggak, mau. Pergi saja Mama!" teriaknya di dalam kamar.
Aku pun mundur perlahan ku biarkan ia meluapkan emosinya.
__ADS_1
"Baiklah Mama tidak akan mengganggu."
Tuhan jangan hukum Samudera seperti diriku. Cukup aku saja yang merasakan sakit di hati ini tolong jangan gores luka hati Samudera.