
Dengan tegar dan kuat coretan tanda tanganku di atas kertas bermaterai terlukis di sana sebagai tanda aku menyetujui perpisahan ini.
Aku resmi bercerai dan bukan lagi menjadi istri mas Beni.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Aku pasrah, Tuhan. Jika memang ini yang terbaik.
Lembaran baru menanti untuk diisi dengan sebuah coretan pena. Perjalanan hidupku masih panjang. Terutama untuk Samudera.
Tuhan menghukum dosaku dengan cara memisahkan ibu dan kedua anaknya.
Ferdi dan Beni adalah masa laluku. Tapi, status mereka pun tak luput dari anak-anakku.
Aku pilih kota sebelah membesarkan Samudera. Sementara kedua anakku biarlah, dengan Beni. Setiap ada waktu kami pun bertemu.
Satu tahun kemudian aku menikah dengan laki-laki yang tulus mencintaiku. Dan menerima masa laluku.
Di tempat lain ....
Ferdi dan Beni tak sengaja bertemu. Mereka berdiri di pinggir jalan.
"Wah, perebut istri orang nampaknya, bahagia," sindir Beni.
"Apa maksudmu?!" Ferdi tak kalah sengit.
Ferdi dan Beni terlihat sangat emosi.
"Alah, jangan pura-pura tak tahu!" Beni tersenyum lebar.
"Bukankah, kau menikah dengan Larasati?!"
"Aku? Justru aku ke mari menanyakan keberadaannya. Dia menghilang selama satu tahun."
Beni mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Jadi, dia tak bersamamu?"
Ferdi menggeleng. "Tidak. Kau sembunyikan di mana dia?"
"Kau menuduhku menyembunyikannya? Cih, tak sudi!"
"Lalu?"
"Satu tahun yang lalu aku resmi menceraikannya."
"Apa?!"
"Kenapa? Bukankah, kau ingin memilikinya. Kenapa terkejut." Beni menghampiri Beni.
Tangan Ferdi mengepal hendak melayangkan bogem mentah. Akan tetap, Beni menghampiri dirinya.
"Kau laki-laki tak punya hati. Tega menceraikan Larasati. Dia telah membawa anakku. Dan aku harus mencari ke mana, hah?!"
"Ssst. Jangan emosi." Beni tersenyum puas. "Jika aku lelaki yang tak punya hati, lalu, kau sebut apa dirimu?"
Bugh!
"Hahaha! Pukul aku sampai kau puas," ejeknya lagi.
Ketika bogem mentah hendak dihadiahkan, orang-orang melerai keduanya.
Mobil putih berhenti tepat di depan mereka. Keduanya saling pandang. Siapa gerangan pemilik mobil putih itu.
Brak!
Seorang perempuan turun dari mobil mengenakan masker.
Dan disusul seorang pria menggandeng tangannya.
Ketika perempuan itu membuka maskernya.
__ADS_1
"Larasati?!" Beni dan Ferdi berbarengan memanggilnya.
Larasati tersenyum. "Ya, ini aku."
Beni dan Ferdi terkejut. Perempuan yang mereka sia-siakan telah bahagia dengan pria lain. Bahkan kehidupannya pun berubah drastis.
Wanita di depan mereka tampak cantik, kulit terurus. Bersih dan wangi.
Larasati memandang sinis ke pada Ferdi yang telah mencapakkannya. Dan juga Beni yang telah menyia-nyiakan kehadirannya.
"Kau menikah dengan pria lain, sedangkan aku menunggumu," kata Ferdi.
"Gimana rasanya ditinggalkan?" ujar Larasati lagi.
"Kau egois, Laras!" Ferdi menatap kecewa.
"Cukup! Jangan salahkan istriku. Seharusnya, kalian belajar dari kesalahan kalian!" bentak suami Larasati.
Ferdi terdiam.
"Lalu, ke mana Samudera?"
"Ada. Dia aman bersamaku."
Larasati pun kembali ke mobil diiringi suaminya.
"Tunggu! Aku ingin menemui Samudera." Ferdi menghampiri Larasati yang mau masuk ke dalam. Ia meraih tangannya.
"Jangan sentuh istriku!" bentak pria bertubuh besar.
Ferdi sadar diri ia pun melepaskan pegangannya.
Ferdi terpaku melihat mantan kekasihnya pergi begitu saja.
Dia telah menyesal seandainya waktu bisa diputar kembali. Tak mungkin ia lepaskan Larasati begitu saja.
__ADS_1
Begitu juga dengan Beni. Ia menyesal seribu penyesalan. Ketika melihat mantan istrinya digandeng pria lain hatinya, merasa sakit. Apakah masih ada cinta di dalam hatinya? Ataukah cinta datang terlambat.
Tamat