
Tak lama telpon ibu terputus. Kini panggilan masuk. Nomor tak diketahui, apakah ini Mas Beni?
Dengan sigap jariku menggeser layar ponsel. Ok.
Setelah ngobrol banyak ada sesuatu di dalam dadaku. Apakah aku jatuh cinta? Mustahil, aku tak pernah melihat Beni.
Apakah Mas Beni serius denganku? Atau dia sama saja seperti keluargaku terpaksa menyayangiku.
Aku kurang kasih sayang dari kedua orangtuaku dan keluarga.
Ingin seutuhnya merasakan kasih sayang yang benar-benar tulus.
****
Perkenalanku dengan Mas Beni lumayan membuatku jatuh cinta semu.
Tak tahu parasnya, hanya suara.
Empat bulan komunikasi melalui telpon, akhirnya ....
"Dek, maukah kamu menjadi istriku?" ucapnya melalui telpon.
"Ah, jangan bercanda,Mas. Aku banyak kurangnya," selorohku.
Aku tak yakin dengan ucapan Mas Beni.
"Iya, aku mau menerima kekuranganmu."
Kali ini benar-benar serius ucapan Mas Beni.
Apa? Aku dilamar, ini bukan mimpikan? Kutampar pipiku memastikan ini benar-benar nyata.
Plak!
Au, sakit. Aku tak lagi bermimpi. Ini nyata!
"Bagaimana kita akan menikah, Mas? Aku di sini. Mas di sana?"
"Kemari lah. Aku kan membiayai keperluanmu, juga transportasimu, Dek."
Dengan girang aku katakan, "Yes."
__ADS_1
****
Satu bulan setelah lamaran melalui telpon akhirnya aku pulang. Mas Beni sudah mengurus surat-surat persyaratan untuk nikah. Tinggal aku saja yang datang.
Kabar ini disambut bahagia oleh Kak Farhan dan Kak Luna.
Kak Farhan dan istrinya tentu senang, terlepas dari benalu sepertiku.
Dengan antusias Kak Luna membawakan baju-baju baru dan bekal untuk di perjalanan.
"Kabarin ya, kalau sudah sampai di sana," pesan Kak Luna.
Ia nampak bahagia dari aura wajahnya. Jarang sekali kulihat senyum manis itu terukir. Ah, nasibku.
"Iya, Kak. Tentu,"
Apakah aku bahagia? Tentu. Setidaknya ada calon suami yang sayang sama aku.
Ya, Tuhan. Berilah aku kebahagiaan ....
Sampai di kota ibuku tinggal ....
Seminggu kemudian aku telah sah menjadi istri Mas Beni. Sungguh, aku jatuh cinta dengannya.
Entahlah, dengan Mas Beni. Sekarang aku berada di dalam kamar pengantin dengan pria yang menyandang status sebagai suami.
****
Tiga bulan tinggal bersama perlakuan buruk Mas Beni terungkap. Mas Beni seorang pemabuk, dan penjudi ulung.
Jika uang dirasa banyak maka, siang dan malam mabuk-mabukan dan berjudi. Jarang memberi uang nafkah.
Hampir tiap hari kubersih kan sisa-sisa muntahan di lantai, di seprai, dan di manapun Mas Beni muntahkan. Aku tak risih, hanya harapan mendapat ridha-Nya.
Sikapnya yang kasar, tak jarang aku dibentaknya, dicaci-maki, bahkan ditendang.
Tuhan, kenapa sepahit ini kehidupanku?
Empat bulan usia pernikahanku, aku dinyatakan hamil oleh dokter. Begitu senang tentunya, semoga dengan adanya kehamilanku Mas Beni berubah.
Tapi, angan tetaplah angan ....
__ADS_1
"LASTRI!" panggil Mas Beni menggelegar di penjuru ruangan.
Aku tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Iya, Mas. Ada apa?"
"Nanya, lagi! Apa tidak lihat di atas meja tidak ada apa-apa?!" tanyanya. Berkacak pinggang di sudut meja makan.
"Maaf, Mas. Aku mual dan lemas. Lagipula, Mas tak memberiku uang untuk berbelanja," kataku.
"Halah! Alasan saja, kamu."
Mas Beni pergi dan menyambar kunci motor di atas televisi. Bukanya memberi uang dia malah pergi. Dan menyalakan kuda besi miliknya.
Kurasakan sakit pada gumpalan daging ini. Harapan tinggal lah harapan. Pernikahan yang kuimpikan tak sesuai dengan kenyataan.
Hampir setiap hari aku tak makan dan hampir tiap hari pula makan di tempat ibuku.
Pernah kudengar ibu mengungkit pemberiannya pada semua orang. Sesuap nasi yang ku makan pun, tak luput dari nyinyiran ibu.
Ibu aku anakmu sejak kecil kurang kasih sayangmu, dan sekarang kita menjalin hubungan yang dekat seperti tak tampak di matamu.
****
Tok! Tok! Tok!
"Buka pintunya!" suara bariton itu membangun tidurku.
Ceklek!
"Bodoh! Lama sekali buka pintunya. Dari mana saja, sih?" Tercium mulutnya bau alkohol. Pasti ia mabuk lagi.
Pintu belum terbuka sempurna Mas Beni menyerobot masuk dengan paksa.
Aku hampiri laki-laki galak itu di kamar. Begitu masuk dan mendekatinya tanganku ditarik kasar dalam pelukannya. Ia memberondongiku ciuman tanpa ampun, seperti laki-laki yang merenggut mahkota dengan paksa.
Apa nikmatnya?
Setiap melakukan hubungan intim tak ada kemesraan pada umumnya.
Apa aku hanya dijadikan boneka sebagai pemuas *****?
__ADS_1