Suamiku Tak Lagi Menyentuhku

Suamiku Tak Lagi Menyentuhku
Beni Marah


__ADS_3

Uangku sudah menipis dan tak memiliki pegangan lagi.


Terpaksa kubuka warung makan ku. Baru juga lima belas menit Mas Ferdi muncul.


Gawat!


"Dari mana saja kamu? Warungnya kok, tutup," celetuk Ferdi.


"Aku sedang tak enak badan." Aku berdiri menghampiri bangkunya. "Mau pesan apa?" tanyaku.


"Kopi saja," sahutnya singkat.


"Sudah kamu gugurkan kandungan mu?"


"Sudah. Tapi tak berhasil ...,"


"Bodoh!" makinya.


Aku tersentak mendengar ucapannya.


"Aku bodoh? Kamu yang bangsat, Mas!" geram ku.


Sedikit kubanting gelas berisi kopi panas untuknya.


Arghh!


Brak!


Ia menggebrak meja dan mengacak rambutnya frustasi.


"Mas punya rencana ...,''


"Apa?"


"Kau pergi saja dari rumah Beni. Ke mana kek, nanti aku menyusulmu." Ferdi memberi saran.


"Tapi, anak-anakku?"


"Ya bawa salah satu. Faisal kau tinggal di sini. Kan, ada neneknya,"


"Aku pergi ke mana, Mas?" tanyaku bingung.


"Ke rumah ibumu atau ke Jawa tempat pamanmu. Aku janji akan menemui di sana. Asalkan kamu keluar dari rumah Ferdi."


Ah, rupanya Mas Ferdi sangat mencintaiku. Buktinya ia masih ingin bersamaku. Kemarin aku terlalu berprasangka yang tidak-tidak.


Huft ....


"Benar kah, Mas?"


"Iya. Jangan menunda-nunda."


"Baik, Mas."


****

__ADS_1


Tok!


Tok!


Tok!


Tengah malam ada yang mengetuk pintuku. Kusibak gorden melihat siapa tamu di luar sana.


Mas Beni? Tumben ingat pulang.


Ceklek!


"Assalamualaikum ...," ucap Mas Beni memberi salam.


"Waalaikum salam."


Biasanya Mas Beni akan meminta haknya itu artinya ada kesempatan untuk memberi tahu bahwa aku hamil anak Mas Beni. Benarkan?


Eh, tapi ....


Tumben Mas Beni cuek. Biasanya menemuiku di kamar.


Pagi harinya ....


"LARAS!" panggil Mas Beni berteriak.


Aku kaget dan telonjak dari tidurku.


"Iya, sebentar!"


Aku hampiri Mas Beni di kamar mandi. Ia berdiri dengan berkacak pinggang dan tangan satu lagi memegang benda putih dan pipih.


Tespeck?


Ya Allah aku lupa membuangnya.


Bodoh, bodoh, bodoh!


"I--itu. Tespeck lah, Mas," sahutku terbata-bata.


Mas Beni menatapku tajam bagai singa menemukan mangsa.


"Iya aku tahu ini tespeck. Kamu hamil?" tanyanya.


"I---iya. Aku hamil," sahutku. Dan berusaha tersenyum.


"Anak siapa, Laras?!"


Benda itu dilemparkan ke mukaku.


"Anak kita lah, anak siapa lagi."


Mas Beni mencengkeram bahuku dan berkata ,"Jangan bohong kamu! Aku hampir tak pernah menyentuhmu. Dan kamu tak mau memberikan hak-ku."


"Aku harus apa, Mas? Biar kamu percaya,"

__ADS_1


Air mataku berlinang membasahi pipiku.


"Dia bukan anakku ya, kan?" tanyanya sekali lagi.


Aku tak sanggup menjawabnya. Mas Beni maafkan aku.


"Jawab!"


Cuih!


Mas Beni pergi ke kamarnya.


Dgum!


Ia membanting pintu.


Aku menangis di depan pintu kamar mandi.


Aku juga bingung bayi yang kukandung anak siapa.


"Ma--ma." Suara Cahya. Ia memelukku.


Aku hanya menangis.


"Ne--nen ....," ucapnya cadel.


Ya Tuhan!


Tolong aku ....


"Anak siapa, Laras!" bentak Mas Beni mengagetkanku.


Tiba-tiba Mas Beni muncul lagi.


Aku masih terduduk dan bilang, "Y--ya, anak kita lah ...,"


Aku tak berani menatap mata elangnya.


"Jangan bohong kamu! Jika terbukti dia bukan anakku maka, kamu harus pergi dari rumah ini," ucapnya.


Aku berdiri, "Aku tidak bohong Mas. Ini anak kita."


Mas Beni menyilang kedua tangannya di dada.


"Oh, ya? Bukankah, kita sudah jarang berhubungan badan selama ini. Dan kamu selalu menolak ku!"


Ya, benar. Aku selalu menghindar ajakan Mas Beni.


"LARAS!"


"Anak kita, Mas ...." Aku bersimpuh di kedua kakinya.


"Aku tidak percaya bahwa anak yang kau kandung itu darah daging ku."


Huhu .... Huhu ....

__ADS_1


"Enyah dari hadapanku wanita ja**ng!"


Mas Beni sedikit menendangku kemudian menjauh.


__ADS_2