
Namaku Mira, umurku 27 tahun. Aku telah menikah dengan suamiku yaitu Mas Doni selama 6 tahun. Ya benar, saat itu usiaku menginjakkan 21 tahun. Aku menikah oleh Mas Doni atas dasar saling mencintai. Umur kami terlampau hanya 3 tahun saja, aku mengenal Mas Doni pada saat aku duduk dibangku SMA, dia adalah tetanggaku.
Selama 6 tahun pernikahan, kami belum kunjung diberi momongan. Tapi itu tak membuat kami pusing, karena kami sama sama sibuk dengan dunia pekerjaan. Walau banyak cibiran cibiran dari mana saja yang masuk ke telinga kanan atau kiri ku, aku tak memperdulikannya. Sebab Mas Doni selalu meyakiniku bahwa anak bukanlah satu satunya hal yang perlu dipermasalahkan.
**********
"Mas, aku besok ke rumah Sofi ya?" tanyaku.
"Mau ngapain ke sana?" tanya Mas Doni.
"Enggak Mas, aku cuman bosen di rumah aja. Lagian udah lama gak ngobrol bareng Sofi" jawabku.
"Oh, mau Mas antar?" tanya Mas Doni.
"Gak perlu Mas, aku biar bawa mobil sendiri" kataku.
Aku memang wanita yang mandiri dan suamiku tak mempermasalahkan ke mandiri-anku. Bahkan dia tak pernah menyuruhku untuk berhenti menjadi wanita karir, karena dia tau aku memang senang berkerja. Walaupun aku berkerja dan memiliki penghasilan sendiri, suamiku tidak pernah mengurangi jatah belanjaku dan bahkan dia memberikan uang bulanan untuk kebutuhan rumah dan kami.
**********
"Akhirnya sampai juga" kataku
Sofi yang mendengar suara mobilku pun langsung keluar dari pintu sambil menyambut ku dengan senyum lebar di bibirnya.
"Ya ampun Mira, lama banget gak liat kamu. Terakhir liat pas di acara aqiqah anaknya Lina, sekitar 7 bulan lalu." kata Sofi
"Iya bener banget, kangen rasanya" kataku
"Eh iya, ayo masuk. Sampai lupa ngajak kamu masuk" kata Sofi sambil tertawa
__ADS_1
Sofi mengajakku masuk kedalam rumahnya tapi kami tak duduk di ruang tamu, melainkan di ruang keluarga. Disitu aku melihat putri Sofi yang berusia 3 tahun sedang makan sambil menonton tv, tentunya disuapin oleh baby sitter nya.
"Eh gimana kabar yang lain? Udah lama nih gak ketemu ngobrol sama mereka mereka" tanya Sofi sambil berjalan menuju dapur.
"Aku juga gak tau, lagian juga kita ngobrol cuma di grup WA aja" jawabku sambil mendekati putri dari temanku ini.
"Hai Erna, lagi apa?" sapa ku
"Hai tante, lagi nonton Elmo" jawab Erna
"Erna suka Elmo ya?" tanyaku
"Suka" jawabnya
Sedang asyik menemani Erna menonton tv sambil basa basi menyapanya. Sofi datang dari dapur membawakan kami minuman dan camilan.
"Gimana apanya?" tanyaku malas
Aku paham yang di maksud oleh pertanyaan Sofi. Jujur aku merasa malas untuk membahasnya.
"Kok gimana apanya? kamu udah belum?" tanyanya sambil memegang perutnya.
"Ya kamu liat gak perut aku? Apa ada perubahan?" tanyaku kesal.
"Hmmm, mau sampai kapan di tunda Mir? Kita kita ini bakalan menua loh. Apalagi Doni" katanya
"Iya aku tau, tapi Mas Doni gak pernah mempermasalahkan ini. Lagipula aku gak menunda kok, cuma belum dikasih aja sama yang di atas" jawabku
"Inget, kamu mesti ati ati, takutnya Doni" ucap Sofi yang tak dituntaskannya
__ADS_1
"Mas Doni kenapa? Selingkuh?" tanyaku
" Aku gak bilang ya, tapi aku mengingatkan aja kalo Doni itu anak satu satunya dan dia itu pewaris tunggal. Dia harus mempunyai penerus untuk jadi penggantinya kelak di kantornya" jelas Sofi
Setelah mengobrol banyak dengan Sofi akhirnya aku pamit untuk pulang.
**********
"Tut.. Tut.. Tut.."
"Hallo mas? Kamu dimana?" tanyaku
"Hallo sayang, aku masih di cafe bareng anak anak. Kamu sudah pulang?" Mas Doni
"Udah Mas, aku udah di rumah. Cepetan pulang" pintaku
"Iya sayang" jawabnya dari sebrang sana.
Aku menunggu Mas Doni di ruang tamu sambil merebahkan badan di atas sofa dan bermain HP. Setelah menunggu sekitar 1 jam Mas Doni pun datang, aku mendengar suara mobilnya. Cepat cepat aku berlari keluar untuk membukakan suamiku pagar, karena asisten rumah tangga kami hanya berkerja mulai pagi hingga sore.
"Kok lama banget kamu Mas?" tanyaku
"Macet tadi, aku mandi dulu ya" katanya
Aku bergegas masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan baju suamiku. Tak lama Mas Doni keluar dari kamar mandi dan langsung mengenakan baju yang telah ku siapkan.
Sebelum tidur kami selalu melakukan perbincangan di atas kasur. Yang kami perbincangkan seputaran kejadian hari itu.
Menurut kami melakukan obrolan sebelum tidur di atas kasur bisa membuat kami merasa ringan seperti separuh beban hidup hilang saat bangun di pagi hari.
__ADS_1