
"Dek, aku pergi dulu ya?" kata Mas Doni sambil mengambil jaket dan tasnya.
"Mau kemana kamu Mas? Udah malam ini"
"Ada urusan aku Dek, bentar aja kok"
"Tapi ini udah jam 10 Mas"
"Aku pergi dulu ya sayang" Mas Doni mengecup keningku dan pergi begitu saja.
Aku langsung siap siap ketika mobil Mas Doni keluar dari rumah kami.
Ku buka apk pelacak Mas Doni, ku ikutin suamiku. Ternyata Mas Doni menuju ke rumah Ayu. Rumah Ayu benar benar gelap gulita.
Pagar rumah Ayu tak di tutup oleh Mas Doni, maka aku turun dari mobil dan menyusul suamiku masuk ke rumah itu. Pintunya tertutup rapat, ku intip melalui jendela yang ada di terasnya. Ada Mas Doni dan Ayu di ruang tamu mereka duduk di atas sofa sedang bercumbu di tengah padamnya listrik.
Ku lihat Ayu duduk di atas pangkuan suamiku dan mereka saling berciuman dengan bergairah.
Aku menangis terduduk di bawa jendela melihat mereka. Sendirian di teras rumah orang yang merebut suamiku dengan hembusan angin malam yang membuat diriku terlihat di campakkan oleh orang yang ku sayang.
Aku memutuskan untuk pulang menenangkan diri di dalam kamar.
Ponselku berbunyi, itu panggilan masuk dari suamiku yang ke 3 kalinya.
Aku tak ingin mengangkatnya, sungguh sakit hati ku di buatnya.
Mas Doni tak menyerah untuk menghubungiku, ia mengirimiku pesan.
__ADS_1
"Dek, kamu tidur aja duluan gak usah nungguin aku. Aku belum bisa pulang, urusanku belum selesai"
"Heh kamu bener bener menjijikan Mas! Aku benci sama kamu!" teriakku sambil melempar ponselku ke sembarang arah.
Esok siang Mas Doni pulang dengan wajah yang tak bersalah. Dia pikir aku tak tahu kemana dia pergi semalam.
"Semalem urusan apa Mas? Sampek kamu gak bisa pulang?" dengan wajah datar aku bertanya
"Eh anu Dek, urusan kantor" jawab Mas Doni gugup
"Terus kamu tidur dimana?"
"Di kantor Dek, di ruang kerja aku. Udah dulu ya sayang, Mas capek banget mau langsung tidur" Dengan raut wajah yang tak bisa dijelaskan Mas Doni mencium pipiku dan berjalan ke kamar.
"Gimana gak capek kalo yang dilayani monyet gatel yang pengen kawin?" batinku
Aku ke kamar melihat Mas Doni sudah tertidur. Ku perhatikan wajahnya. Benar benar membuatku muak. Ingin rasanya menampar wajahnya.
Aku di utus atasanku menemui klien di ruko samping perumahan elit yang Ayu tinggali.
Selesai dari menemui klien aku menuju ke rumah Ayu. Ku beranikan diri menekan bel yang ada di pagar rumahnya. Dengan tubuh yang bergetar, tangan yang dingin dan perasaan yang gugup aku menemui Ayu.
Ayu membuka pagar rumahnya dan keluar menemui ku. Raut wajahnya terkejut melihatku.
"Kamu tau siapa saya kan?" tanyaku dengan nada marah
Belum sempat ia menjawab, tanganku melayangkan tamparan yang sangat keras ke wajahnya hingga ia jatuh tersungkur. Ayu masih dalam posisi terduduk aku langsung menarik rambutnya dengan kasar. Ayu memegang tanganku yang menarik rambutnya, namun ia tak memiliki tenaga untuk melawan ku.
__ADS_1
"Kamu pikir saya bodoh? Kamu kira saya gak tau hubungan kamu dengan suami saya Mas Doni? Hah wanita murahan!" kataku berteriak masih dengan tangan yang menarik rambutnya.
"Bukan salahku kalau suamimu jatuh ke pelukan ku" katanya dengan percaya diri.
"Dasar ******!!" ku lepas tanganku dari rambutnya lalu ku tendang wajahnya.
Aku pun berlalu pergi meninggalkannya yang masih terduduk di depan pagar menahan sakit.
Sampai di rumah ku lihat Mas Doni dengan wajah panik memegang ponselnya.
"Kamu dari mana sayang?" dengan suara parau Mas Doni menanyaiku
"Bukan urusanmu Mas. Aku capek mau istirahat" kataku berlalu meninggalkan Mas Doni di ruang tamu.
"Kamu di tanya suami baik baik kok jawabnya begitu?" Mas Doni mulai meninggikan suaranya
Aku hanya diam meneruskan langkahku menuju kamar tidur.
Mas Doni menyusul ke kamar dengan raut wajah yang tak bisa di jelaskan.
"Mas tanya sekali lagi. Kamu dari mana?" tanya Mas Doni sambil menggenggam tanganku.
Aku mulai terpancing karena sikap Mas Doni.
"Aku dari menghabisi hama yang mau menghancurkan rumah tanggaku!" jawabku berteriak di depan wajah Mas Doni persis.
"Maksud kamu apa?"
__ADS_1
"Tanya aja sendiri sama diri kamu. Atau kamu bisa tanya ke hama yang mau merusak rumah tangga kita!" aku menghempas genggaman tangan Mas Doni.
"Aku capek Mas harus pura pura gak tahu dan aku capek kalau harus diam diam aja seakan akan gak terjadi apa apa antara kita" lanjut ku sambil mengenakan pakaian lagi.