
Mas Haris mengajakku mencari cincin untuk proses lamaran nanti dan juga barang barang yang di butuhkan dalam proses lamaran.
Hari dimana Mas Haris akan melamar ku semakin dekat. Ibu mulai sibuk mempersiapkan segala hal yang di bantu oleh Bapak dan si Mbok. Karena ini adalah lamaran sederhana antar keluarga intim saja, jadi Ibu tak terlalu menyiapkan hal hal yang terlalu besar. Namun tetap saja membuat Ibu menjadi repot mempersiapkan apa yang harus di siapkan agar proses lamaran berjalan lancar dan hikmat.
Tiba juga hari yang kami tunggu. Mas Haris datang bersama dengan orang tuanya dan kakak beserta adiknya tak lupa ipar dan keponakannya yang masih batita ia ajak. Mas Haris anak ke dua dari tiga bersaudara, tak ada keluarga lain yang ia bawa. Karena memang ini kesepakatan kami agar hanya keluarga intim saja yang menghadiri prosesi lamaran kami.
Ibu, Bapak dan aku tak lupa juga dengan Devi yang izin dari kuliahnya menyambut kedatangan Mas Haris dan keluarga dengan hangat. Kami sekeluarga langsung mempersilahkan Mas Haris dan keluarganya untuk masuk dan duduk bersama dengan kami.
Tak ada acara pembuka atau apapun, Mas Haris langsung mengatakan tujuan dan maksudnya. Proses lamaran pun berlangsung dengan penyerahan seserahan dan bertukar cincin. Setelah semua proses selesai, kami tutup dengan makan bersama.
Mas Haris pamit setelah semua selesai dan akan datang lagi minggu depan untuk membicarakan tanggal pernikahan kami.
**********
Tanggal telah di tentukan, sekarang aku dan Mas Haris sibuk mempersiapkan apa yang harus di persiapkan. Aku tak kaget lagi karena aku pernah melakukan hal ini sebelumnya namun bagi Mas Haris yang baru pertama kali menikah membuatnya sedikit bingung.
Mas Haris mendatangi ruangan ku.
"Sore ini jadi fitting baju kan Mir?"
"Iya Mas, sore nanti pulang ngantor aja"
__ADS_1
Mas Haris mengangguk.
"Ya sudah kalo gitu aku masih banyak kerjaan." ucap Mas Haris
"Iya Mas" jawabku yang masih duduk di balik meja kerjaku.
Mas Haris keluar dari ruanganku.
Jam kantor selesai, Mas Haris menemui ku di parkiran kantor. Karena sudah janjian akan fitting baju, aku tak membawa kendaraan.
Butik tempat untuk fitting baju berada di dalam Mall. Saat kami akan masuk, kami bertemu dengan Mas Doni. Momen ini sama seperti terakhir kali aku bertemu dengannya saat aku sedang bersama Devi, namun bedanya kali ini aku bersama dengan Mas Haris dan ia sendirian.
"Mas Doni?" sapa ku.
"Baik Mas, oh iya ini kenalin Mas Haris calon suami aku."
Mereka bersalaman, Mas Doni memasang wajah tak percaya saat aku mengatakan Mas Haris adalah calon suamiku.
"Kapan kalian bakal menikah?" tanya Mas Doni.
"InsyaAllah dua bulan lagi Mas. Oh iya dateng ya Mas, nanti aku anterin undangannya ke rumah." kataku.
__ADS_1
"Oh iya iya. Ya udah aku duluan ya Mir. Lagi buru buru" kata Mas Doni.
"Iya Mas silahkan."
Mas Doni berlalu meninggalkan ku dan Mas Haris. Kami berdua langsung menuju butik dan mencoba baju pengantin yang akan kami kenakan di acara pernikahan kami.
Selesai sudah fitting baju hari ini, besok kami harus mengurus catering. Tak hanya akan berakhir esok persiapan kami, karena masih banyak lagi hal hal yang harus dipersiapkan.
Sesampai di apartemen aku langsung bersih bersih diri dan merebahkan tubuhku ke atas kasur. Ini melelahkan walau aku pernah berada diposisi ini, namun lelah ini adalah lelah kebahagian maka aku tak akan mengeluh seperti saat dulu aku mempersiapkan pernikahan dengan Mas Doni.
Aku masih belum bisa tidur walaupun tubuhku lelah. Aku menelpon Devi, menceritakan kejadian tadi saat bertemu dengan Mas Doni. Adikku ini malah bersemangat mengejek Mas Doni.
Selesai mengobrol dengan Devi di telpon, aku pun mulai mengantuk dan tertidur.
Mas Haris sudah ada di depan apartemenku. Kami menyelesaikan apa yang harus di urus hari ini. Setelah selesai aku izin dengan Mas Haris untuk mendatangi Sofi dan Lukman yang berada di Cafe tempat biasa kami kumpul. Mas Haris pun dengan cekatan langsung mengantarku ke Cafe tersebut dan meninggalkanku bersama dengan Sofi dan Lukman, karena ia masih ada urusan lain.
Kami bertiga membicarakan soal pernikahanku dan Mas Doni. Sofi mengatakan bahwa Mas Doni merasa menyesal kali ini karena aku akan menikah dengan Mas Haris dan Sofi yakin kalau Mas Doni masih sangat mencintaiku.
Sofi dan Lukman mendukungku menikah dengan Mas Haris dan membuka lembaran baru dengannya.
Lukman mengatakan, sungguh terpukul hati Mas Doni saat ini karena karma sedang menghampirinya.
__ADS_1
Sedang kan denganku, buah kebahagian lah yang sedang aku terima saat ini.
Selesai bertemu dengan Sofi dan Lukman membuatku merasa semakin yakin dengan keputusanku menerima lamaran Mas Haris dan menikah dengannya.