Suamiku Ternyata Berselingkuh

Suamiku Ternyata Berselingkuh
Dua Puluh


__ADS_3

"Mau kemana sih Mas? Ini udah lumayan jauh loh dari rumah ku."


"Sebentar lagi juga sampek Dek."


Mas Doni mematikan mesin mobilnya, kami turun dan masuk ke rumah makan bergaya pedesaan. Rumah makan yang menyimpan kenangan indah, tempat makan ini adalah tempat bersejarah bagi kami. Disini lah Mas Doni menyatakan cintanya padaku tujuh tahun lalu dan disini juga tempat kami melaksanakan lamaran setelah satu tahun pacaran.


"Gak ada tempat lain buat ngobrol Mas?" tanyaku saat berada di pintu utama rumah makan.


"Udah, kita ngobrol di dalam aja ya."


Kaki kami melangkah bersamaan masuk ke rumah makan tersebut, kami duduk di tempat biasa ketika kami berkunjung.


"Kamu udah rencanakan ini kan Mas? Sampai sampai kamu reservasi meja disini."


"Iya Dek, karena aku gak tau harus ngajak kamu ngobrol dimana."


"Ya udah, apa yang mau kamu omongin?"


"Kita pesan makanan dulu gimana?"


"Aku gak lapar."


Mas Doni tetap memesankan makanan ringan dan minuman untuk kami.


"Langsung aja Mas, kita kesini gak untuk tamasya" kataku ketus karena aku sudah gemas dengannya.

__ADS_1


"Dek, apa kamu bisa pertimbangkan lagi masalah perpisahan kita?"


"Gak bisa! Keputusanku sudah bulat Mas. Kamu pikir aja sendiri, pasangan mana yang bisa terima kalau kekasihnya tidur dengan orang lain?"


"Aku memang salah Dek, waktu itu mataku di tutupi oleh nafsu. Tolong maafin aku ya Dek."


"Aku tanya ke kamu ya Mas. Pas kamu pergi ke Bandung saat itu harusnya kamu cuma 3 hari aja kan? Tapi kenapa kamu malah jadi genap seminggu di sana? Apa ada hubungannya sama Ayu?"


"Aku di sana cuma urusan pekerjaan. Jujur aku memang bertemu Ayu di sana. Karena Ayu orang yang di bawa oleh perusahaannya untuk berkerja sama dengan perusahaan ku. Ayu memang sempet mampir ke kamar aku menginap tapi kita gak ngelakuin apapun Dek, Ayu cuma mengantarkan berkas berkas kantornya ke aku"


"Tapi dari situlah awal mulai permainan kalian yang rendah kan!" nadaku mulai naik.


"Aku bener bener salah Dek, aku minta maaf. Kamu boleh siksa aku atau menghukum ku sesuka mu tapi aku mohon kita jangan berpisah Dek" Mas Doni menggenggam tanganku.


"Aku belum bisa maafin kamu dan aku gak akan merubah keputusanku Mas. Hatiku bener bener hancur, aku melihat semuanya Mas. Aku liat apa yang kamu lakuin sama perempuan itu selama ini. Aku benar benar muak ketika kamu berbohong ketika kamu mengarahkan mobilmu kerumahnya, pokoknya aku muak dengan apa yang berhubungan dengan kalian" air mataku mulai turun karena teringat oleh semua kejadian antara suamiku dan Ayu.


"Dek aku menyesal tolong jangan nangis lagi sayang. Aku bener bener menyesal Dek" Mas Doni mulai berlutut di depan ku.


"Sudah terlambat untuk menyesal Mas. Sudah berapa banyak aku memberikan kamu kesempatan tapi bukannya kamu pergunakan malah kamu masih asik aja bermain sama perempuan itu. Lagian aku sudah menyuruh sekretaris ku ke pengadilan agama untuk menyerahkan berkas. Kamu yang berbuat salah kenapa juga harus aku yang mengalah untuk mempertahankan rumah tangga yang sudah kamu rusak!"


Aku berdiri dari dudukku dan berjalan meninggalkan Mas Doni tanpa melihat ke belakang.


Mas Doni terus memanggil namaku dan memintaku untuk tunggu, namun aku tak memperdulikannya.


Saat di luar rumah makan Mas Doni menarik tanganku. Dengan nafas tak beraturan Mas Doni berkata.

__ADS_1


"Tunggu Dek! Aku gak tau mulai kapan kamu tau tentang aku sama Ayu. Jujur aku juga gak tau kapan kamu mulai ngasih aku kesempatan untuk berubah. Tapi yang jelas kalau memang kamu mau menghukum ku dengan cara kita bercerai maka dengan berat hati aku menyetujuinya."


Aku diam tak merespon ucapannya dan tanganku melepaskan gandengannya.


"Gak perlu antar aku pulang, sebentar lagi Devi datang jemput aku. Mas boleh pergi duluan."


"Aku bakal disini sampek Devi datang"


Aku diam tak menjawab perkataan Mas Doni. Setelah 20 menit menunggu akhirnya Devi datang, tanpa mengucapkan sepatah kata pun ke Mas Doni aku langsung pergi meninggalkannya.


(Di atas motor dengan Devi menuju rumah)


"Kalian habis ngapain di sana? Habis makan ya? Atau Mas Doni minta Mba Mira pulang?"


"Ih banyak banget pertanyaannya."


"Pokoknya jangan mau ya Mba di ajak balik sama Mas Doni."


"Yee sok tau. Siapa juga yang mau diajak balik? Wong Mba sudah ngirim berkas ke pengadilan agama kok"


"Yang bener Mba?" kepala Devi menengok ke arahku.


"Eh liat depan Dev!" teriakku heboh saat motor yang di kendarai Devi mulai bergoyang.


"Hih heboh banget sih Mba kayak bakal jatuh aja" ucap Devi kesal namun aku menertawakannya dan akhirnya Devi ikut tertawa.

__ADS_1


__ADS_2