
**********
Pukul 11.15 malam aku dan Mas Doni sampai di rumah. Kami memutuskan untuk pulang, walaupun Mama memaksa kami untuk menginap dirumahnya.
Setelah memasuki rumah, aku pergi ke kamar mandi untuk mandi. Mas Doni menunggu ku di ruang tamu sambil menonton tv.
"Mas, mandi sana biar seger" kataku setelah keluar kamar mandi
Mas Doni langsung mengarah ke kamar mandi tanpa membalas perkataan ku.
Yah, kami memutuskan pulang karena Mas Doni tak mau aku merasa terbebani tentang apa yang telah di bicarakan Mama saat makan malam tadi.
Setelah 15 menit, akhirnya Mas Doni keluar dari kamar mandi. Mas Doni mendekatiku yang sedang bermain HP di atas tempat tidur.
"Kamu capek sayang?" tanyanya sembari merebahkan badannya di sampingku.
"Biasa aja Mas. Kenapa?" aku balik bertanya
"Gapapa Dek. Habisnya Mas perhatiin kamu main HP mulu" kata Mas Doni
"Iya Mas, biasa lagi baca novel. Ini aku matikan HP ku. Yuk kita tiduran" kataku sambil meletakkan HP ku di atas meja lampu
Aku dan Mas Doni mulai memejamkan mata namun aku merasa kalau suamiku sedang gelisah.
"Kamu kenapa Mas? Gak bisa tidur?" tanyaku
"Iya nih dek, tiba tiba kepikiran itu tuh" jawabnya
__ADS_1
"Apaan?" tanyaku
"Ih kamu ini dek gak peka banget sama suaminya. Udah 6 tahun bareng bareng masa gak paham juga" Mas Doni ngambek
Aku hanya cengengesan melihat suamiku ngambek, aku paham apa yang di maksud oleh suamiku.
Aku pun berinisiatif mendekatkan wajah ku ke wajah suamiku dan begitu pun Mas Doni langsung menempelkan bibirnya ke bibirku. Setelah kita saling berciuman, Mas Doni turun ke dadaku.
"Emang kamu gak capek Mas? Ini udah tengah malem loh. Besok kita kerja" kataku
Mas Doni tak menghiraukan apa yang ku ucapkan, karena dia sedang sibuk berada di bukit kembar ku yang kencang dan padat.
Walau aku sudah menikah selama 6 tahun dan umurku tak muda lagi, tapi tubuhku masih sama seperti saat aku berusia 20 tahun. Itu yang bikin Mas Doni ketagihan padaku, bahkan Mas Doni meminta haknya hampir setiap hari padaku hanya saja aku yang membatasi, karena tak sanggup bila harus melakukan hubungan intim setiap hari.
"Dek, pegang punya Mas" pintanya sambil mengarahkan tanganku ke senjatanya tanpa melepaskan mulutnya yang ada di ****** ku.
"Dek langsung aja ya. Mas udah gak tahan banget" kata Mas Doni
Belum aku mengatakan "iya" Mas Doni langsung memasukan burungnya ke sangkar ku. Kami saling bertukar nafas, suara desahan terdengar di seluruh kamar. Setelah 1 jam melakukannya, Mas Doni pun akhirnya tumbang.
"Emang enak banget punya kamu sayang" kata Mas Doni sambil menggodaku dengan menyentil ****** ku.
Aku hanya bisa mendesah di perlakukan seperti itu oleh Mas Doni.
Aku beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi, begitu pun suamiku menyusul ku. Kami membersihkan diri bersama lalu beranjak untuk tidur karena besok harus berkerja.
**********
__ADS_1
"Dek, bangun dek" kata Mas Doni
"Jam berapa ini Mas?" tanyaku dengan mata yang masih berat
"Jam 9 dek" jawab Mas Doni
Aku langsung terduduk dan beranjak dari tempat tidur. Aku menuju kamar mandi dengan berlari kecil karena terburu buru.
Mas Doni langsung menarik tanganku saat aku berada tepat di depan pintu kamar mandi.
"Mau kemana sih kok bubu buru banget?" tanyanya
"Ya mau kerja dong Mas. Kamu ini aneh aneh aja nanyanya. Udah lepasin, aku mau mandi" kataku kesal
"Gak usah kerja, aku udah minta izin ke HRD kamu. Jadi yuk kita lanjutin yang semalem" kata Mas Doni sambil menuntun ku ke atas tempat tidur.
Kami melakukan hubungan suami istri pagi ini dan membersihkan diri sebelum akhirnya turun ke dapur untuk makan sarapan yang terlambat.
"Hari ini kamu mau jalan kemana aku turutin dek" kata Mas Doni
"Bener ya! Tapi aku belum tau mau kemana Mas, belum ada tujuan" jawabku senang
"Apa mau ke atas kasur lagi kamu dek?" goda Mas Doni
"Dih itu sih maunya Mas. Ada Ratna tuh gak malu apa?" kataku tersipu malu
Mas Doni tertawa melihatku yang tersipu malu karena godaannya padaku.
__ADS_1
Setelah selesai makan kami memilih bersantai di ruang tamu sambil menonton tv dan mengobrol. Rasanya tak ada yang salah dengan pernikahan kami, aku dan Mas Doni merasa kami sudah saling melengkapi. Pikirku tanpa kehadiran buah hati Mas Doni pun tetap menyayangiku dan memperlakukanku sama seperti awal pernikahan kami.