
Hari bahagia yang di tunggu tunggu tiba. Mas Haris dan aku resmi menjadi suami istri. Hari ini hanya akad yang kami laksanakan, tamu undangan yang datang hanya orang orang terdekat kami.
Esoknya kami akan melakukan resepsi.
Saat selesai akad Mas Haris melihat Mas Doni menjadi salah satu tamu undangan di akad pernikahan kami.
Aku meminta izin pada Mas Haris untuk menemui Mas Doni dan Mas Haris mengizinkannya.
Aku berjalan mendekati Mas Doni yang sedang berada di kerumunan tamu undangan.
"Mas." sapa ku.
"Eh iya Dek selamat ya, semoga keluarga baru kamu selalu dalam lindungan Allah." ucap Mas Doni.
"Iya Mas, makasih buat doanya."
"Kamu cantik banget Dek, masih sama kayak dulu, delapan tahun lalu saat aku yang mengucapkan akad di sampingmu. Aura mu masih terpancar." Seketika mata Mas Doni berbinar binar.
Entah Mas Doni terharu atau apa, aku tak peduli. Namun ku yakin ia merasa benar benar menyesal dengan semua hal yang ia lakukan padaku saat melihatku berdiri dengan suami baruku.
"Ah kamu bisa aja Mas. Makasih loh pujiannya." aku tertawa kecil yang di barengi oleh kedatangan Mas Haris.
Mas Doni menjabat tangan dan merangkul Mas Haris sambil mengucapkan kata selamat.
"Di jaga Mas, jangan sampai lepas." kata Mas Doni.
"Oh kalau itu pasti karena saya akan berusaha untuk membuat air mata Mira tidak menetes keluar dari matanya. Agar ia tak lepas dari pelukan saya."
__ADS_1
Mas Doni mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapan Mas Haris yang begitu percaya diri.
Acara akad telah selesai, semua tamu telah bubar, kini hanya ada aku dan Mas Haris bersama keluarga saja.
Esoknya kami merayakan resepsi pernikahan. Ku perhatikan Mas Doni tak menghadiri acara kami dan namanya tak ada di buku undangan tamu.
Tak apa apa jika Mas Doni tak menghadiri pesta kami karena sebelumnya saat akad ia telah hadir menyaksikan aku di nikahi oleh Mas Haris.
Setelah pesta selesai, esoknya aku dan Mas Haris keluar kota untuk berbulan madu. Mas Haris ingin cepat cepat mendapatkan momongan jadi kami tak hanya akan berbulan madu tetapi juga akan memeriksakan kesehatan kami berdua ke dokter.
Seminggu lebih aku dan Mas Haris berbulan madu dan dokter juga telah menyatakan kalau kami berdua baik baik saja. Maka setelah pulang dari berbulan madu, aku dan Mas Haris menjalani program hamil.
Empat bulan kemudian dokter memberi tahuku bahwa aku hamil, program yang ku jalani dengan Mas Haris ternyata menghasilkan buah. Enam tahun lebih aku menginginkan rahimku terisi dan akhirnya setelah menikah lima bulan dengan Mas Haris rahimku terisi juga. Ini adalah hal paling bahagia dalam hidupku.
Begitu pun dengan Mas Haris, ia sangat bahagia saat tahu aku telah hamil, bahkan Mas Haris sangat posesif atas diriku agar calon bayi kami baik baik saja. Ia menjaga dan merawat ku bagaikan seorang ratu.
"*Kamu gak boleh capek ya sayang."
"Kalau kamu butuh sesuatu panggil Bibi aja."
"Kalau kamu mau apa apa kamu kasih tahu aku."
"Jangan makan sembarangan ya. Kamu gak boleh delivery makanan di tempat sembarangan lagi"
"Buah buahan yang aku beli harus kamu habiskan."
"Jangan skip sayur ya kalo kamu lagi makan*."
__ADS_1
Itulah celotehan Mas Haris setiap harinya padaku yang membuatku tersenyum bahkan tertawa saat Mas Haris berangkat kerja.
Tak hanya saat bersama saja Mas Haris cerewet tetapi saat tak bersamaku ia lebih cerewet, ia bisa menelepon ku tiga kali dan mengirimi ku pesan sebanyak puluhan kali saat ia berkerja.
Aku merasa bosan di rumah saja jadi aku menelepon Sofi untuk datang ke rumah, karena Mas Haris tak memperbolehkan ku pergi keluar rumah, alasannya karena aku masih hamil muda, masih rentan, takut aku kenapa kenapa saat aku berada diluar rumah.
Suara klakson mobil terdengar, aku berjalan menuju pintu memperhatikan mobil Sofi yang sedang masuk ke dalam garasi rumah.
"Aaaaaah Miraaaa" teriak Sofi saat berjalan mendekatiku. Ia langsung memeluk dan mencium pipi kanan dan kiri ku.
"Sini sini masuk. Mana anakmu Sof?"
Kami berjalan masuk dan duduk di sofa.
"Ada di rumah mertuaku Mir, udah tiga hari anakku nginep sana. Kagak mau pulang." Sofi tertawa.
"Ya ampun lucunya ya. Jadi gak sabar pengen rindu rinduan gitu juga sama anak." aku dan Sofi tertawa.
"Eh cieee sih bumil udah gak sabar aja nih. Masih jauh sayang, kamu bakal jadi kayak aku. Lagian tuh anak di lahirin dulu kali."
"Iya nih gak sabar liat perut aku endut."
"Ya sabar dong, kan juga baru dua bulan Mira."
Kami melanjutkan berbincang bahkan kami juga menceritakan Mas Doni yang sekarang kehidupannya terlihat kesepian.
Tak terasa waktu makin sore dan Mas Haris telah pulang kerja, begitupun dengan Sofi yang pamit untuk pulang.
__ADS_1