
Undangan pernikahan kami telah jadi, yang berupa digital maupun berupa kartu. Aku dan Mas Haris memang memutuskan menggunakan dua tipe undangan. Hanya orang orang tertentu saja yang kami beri undangan berupa kartu.
Sepulang dari kantor, aku dan Mas Haris membagikan undangan masing masing. Karena lumayan banyak yang harus di sebar, kami putuskan untuk membaginya sendiri sendiri.
Telah ku sebar ke sanak keluarga dan beberapa kerabat dekatku, namun masih ada beberapa yang tersisa termasuk undangan untuk Mas Doni. Ya, aku sengaja memberinya undangan berupa kartu agar ia merasa panas melihat kartu undangan ku. Karena waktu yang mepet maka akan aku lanjutkan esok.
Hari ini aku libur kerja begitupun dengan Mas Haris. Kami menyebarkan kembali undangan yang tersisa di tangan kami masing masing.
Waktunya mengirim undangan ke rumah Mas Doni, aku memang menyisakan nya di paling akhir.
"Assalamualaikum" aku melangkah menuju pintu utama rumah yang pernah aku tempati.
Setelah dua tahun pasca bercerai dengan Mas Doni aku tak pernah kesini, semua terlihat sama mulai dari perabotan hingga dekorasi bahkan susunannya pun masih dengan susunan ku dulu. Sepertinya Mas Doni tak mengubah sedikitpun dengan susunan rumah ini. Suasananya pun masih sama yang berbeda hanya warna cat dindingnya saja.
Aku tak percaya menginjakkan kembali rumah ini lagi. Bukan untuk berkunjung menanyai kabar mantan suamiku namun untuk memberi undangan pernikahanku dengan Mas Haris.
"Wa'alaikumsalam" teriak Mas Doni dari dalam rumah.
"Eh Mira? Sini masuk Dek." ajak Mas Doni saat melihatku di depan pintu rumah.
"Eh gak usah Mas, di sini aja." kataku.
"Wih tumben kesini, ada apa nih?" Mas Doni tersenyum dengan mata berbinar saat melihatku.
__ADS_1
"Hihihi iya nih Mas, ada yang mau aku kasih ke kamu." kataku sambil tersenyum.
"Kasih apaan? Eh duduk dulu deh." tanya Mas Doni sambil mempersilahkan aku duduk di kursi yang berada di teras rumah.
"Ini Mas." aku mengeluarkan kartu undangan dari dalam tas.
"Dateng ya Mas di hari bahagia aku. Jangan sampek gak dateng loh kamu." lanjut ku.
Mas Doni menerima undangan yang ku berikan, di tatapnya lamat lamat undangan tersebut.
"Aku masih gak percaya Dek, setelah kamu dua tahun kita pisah akhirnya kamu bener bener nemuin laki laki pengganti ku." ucap Mas Doni tanpa beralih dari undangan pernikahanku.
"Iya Mas, aku juga masih belum percaya akhirnya nemuin orang yang pas untuk jadi suami aku. Doakan aku bahagia ya Mas." ucapku.
Mas Doni mengangguk.
Mas Doni ikut berdiri.
"Iya Dek, hati hati di jalan ya."
Aku tersenyum dan membalikan badan menuju mobil.
Tiba tiba Mas Doni menarik tanganku saat aku akan membuka pintu mobil.
__ADS_1
Ketika aku menengok Mas Doni langsung memelukku.
Aku mencoba memberontak, namun aku kalah tenaga dan fisik.
"Sebentar aja Dek, jangan bergerak. Aku bener bener pengen meluk kamu. Aku bener bener kangen sama kamu Dek. Andai waktu bisa di kembalikan, aku gak akan menyianyiakan kamu seperti kemarin Dek." suara Mas Doni terdengar parau di telingaku.
"Mas kita udah bukan siapa siapa lagi. Gak enak di liat orang, apalagi aku mau menikah sebentar lagi. Jadi lepasin aku Mas." kataku.
Mas Doni melepas pelukannya, ia menundukkan wajahnya di hadapanku.
"Aku pulang ya Mas."
Ketika pintu mobilku telah terbuka, Mas Doni memutus aktifitas ku kembali.
"Aku sudah pisah dari Ayu Dek."
Aku membalikan badan ku menghadap ke Mas Doni untuk ke dua kalinya dengan raut wajah yang tak percaya.
"Aku udah pisah, Ayu selingkuh dengan laki laki lain saat aku tugas ke luar kota. Aku gak tau kenapa kehidupanku jadi kacau setelah pisah dari kamu Dek." ucap Mas Doni saat aku berbalik menghadapnya.
"Nasi sudah menjadi bubur Mas, gak ada yang perlu di sesali. Itu sudah pilihanmu. Kamu memilih jalan hidup mu sendiri dengan seperti ini, maka terima hasilnya Mas dan tetap di jalani. Lagian di masa mendatang semua yang pernah kita alami, kamu, aku atau siapa pun itu, semua cuma bakal jadi cerita aja Mas. Jadi kamu harus bisa ngelewatin ini semua." kataku sambil menepuk pundak Mas Doni.
"Iya Dek, kamu bener. Ini semua salah ku sendiri. Harusnya dulu aku gak nyakitin kamu dan berakhir seperti ini. Mungkin ini yang di sebut dengan karma Dek."
__ADS_1
"Ya sudah Mas kalau gitu aku harus bener bener pulang sekarang, karena sudah sore banget ini. Kamu pokoknya harus dateng ya di pernikahan aku."
Aku masuk ke dalam mobil, Mas Doni mengantarku sampai ke depan pagar. Ku lihat dari spion samping kalau Mas Doni masih menatap ke arah mobilku. Sepertinya ia akan di sana sampai mobilku benar benar tak terlihat lagi.