
"Masa baru di tinggal sebentar aja udah kangen gini sih Mas? Malu ah di liatin orang. Tunggu aku pulang kerja baru kita pulang sama sama ya Mas." Telapak tanganku meraih pipi Mas Doni dan aku mengatakan dengan suara selembut mungkin. Sengaja ku buat seperti itu karena Ayu sedang melihat kami.
Setelah kami selesai bermanja-manja, ku perhatikan suamiku saat melangkah menuju mobil dan melewati Ayu tanpa menengoknya.
Aku tersenyum dari kejauhan dan Ayu terlihat kesal saat tau aku senyum untuk mengejeknya.
Selesai jam kantor Ayu menungguku di depan mobilku yang terparkir di parkiran kantor.
"Ngapain kamu?" tanyaku ketus
"Cuma mau bilang kalau Mas Doni gak beneran kangen atau pengen kamu pulang aja. Karena sebelum kesini nemuin kamu dia udah nemuin aku duluan"
"Terus aku peduli gitu? Lagian itu juga bukan urusan kamu ******!" Kutarik tangannya untuk menyingkir dari mobilku. Ku jalankan mobilku dengan laju di depannya.
Ponselku berbunyi ku lihat itu adalah panggilan masuk dari Mas Doni.
"Apa?" jawabku jutek
"Sayang pulang ke rumah kan?" tanyanya lembut dari sebrang sana.
"Emang kenapa?"
"Ya Mas kangen Dek sama kamu. Lagian Mama juga mau ke rumah"
"Kapan?"
"Besok lusa sayang. Jadi kamu pulang ya?"
"Lihat nanti Mas. Dah ya aku lagi dijalan ini"
Ku akhiri telepon dengan Mas Doni.
__ADS_1
"Ternyata kamu panggil aku pulang karena Mama mau dateng Mas. Dasar ********" Teriakku saat berada di depan cermin toilet kost ku.
**********
"Hmm. Kembali ke rumah sialan ini lagi" batinku saat memarkirkan mobil di garasi.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Ternyata di dalam sudah ada Mama, Papa dan Mas Doni berbincang.
"Ini nih yang ditunggu tunggu baru nongol. Sibuk banget sih Mir" celetuk Mama
"Iya Ma" aku menjawab dengan tersenyum
Kami sekeluarga melanjutkan obrolan seputar rumah tanggaku dengan Mas Doni, anak, ekonomi dan bahkan orang ketiga.
Saat menyentil masalah orang ketiga, aku hanya diam tak mengeluarkan suara sedikit pun.
Aku akan membongkarnya di saat yang tepat. Saat ini aku ingin bermain main dulu dengan suami dan wanitanya. Takkan ku biarkan mereka mengakhiri permainanku dengan cepat dan bersatu dengan mudah.
"Kamu jangan tidur satu kasur sama aku Mas. Aku masih ngerasa jijik sekasur sama kamu"
"Loh kok ngomongnya gitu sih? Mas beneran kangen loh sama kamu. Tidur bareng ya?"
"Ya udah lah aku balik ke tempatku aja kalo gitu"
"Ya sudah ya sudah Mas tidur di sofa aja kalo gitu"
Kami tidur satu kamar namun tak ku biarkan Mas Doni menyentuhku. Sungguh kesal rasanya hati ini melihat Mas Doni yang masih bersikap lemah lembut padaku walaupun telah ketangkap basah berhubungan dengan wanita ****** itu.
Mama dan Papa pamit pulang siangnya. Begitu pun aku juga kembali ke tempatku. Tak ku hiraukan perkataan Mas Doni yang menahan ku agar tetap tinggal di rumah.
Notifikasi di ponselku berbunyi, pesan masuk dari Lukman yang mengajakku nongkrong di Cafe. Ku arahkan mobilku menuju Cafe tempat Lukman menungguku.
__ADS_1
"Mau ngapain nih kita" kataku sambil menarik kursi saat tiba di Cafe
"Temenin aku ngobrol bentar ya?"
"Lagi ada masalah apa kamu?"
"Orang tuaku ribut banget nyuruh aku nikah Mir" nada Lukman tak bersemangat
"Ya udah nikah sana. Wong tinggal nyari ceweknya terus nikahin deh"
"Gak segampang itu Mir"
"Emang mau nyari yang gimana? Biar aku carikan" tawar ku
Dengan sedikit menunduk Lukman berkata."Yang kayak kamu Mir"
Aku menanggapi perkataan Lukman dengan tawa agar kami tak merasa canggung setelah sesi obrolan ini.
Selesai menemani Lukman, aku langsung menuju kost.
Ku rebahkan tubuhku yang telah bersih ke atas kasur nyaman milikku.
Tiba tiba aku teringat perkataan Lukman saat di Cafe.
"Aku bakal nikahin kamu kalo kamu bakal lepas dari suami mu Mir. Aku bakal tunggu kamu. Aku gak suka liat kamu terus terusan di sakiti laki laki itu"
"Ah apaan sih. Itu cuma bisikan setan Mira. Karena kamu lagi renggang sama suami kamu. Kamu itu masih istri sah Mas Doni. Kamu gak boleh sama kayak suami kamu Ingat baik baik kalau kamu masih punya misi yang harus di selesaikan" Aku mengingatkan diriku
**********
"Mira aku mau ngomong sama kamu! Keluar kamu sekarang dari mobil!" suara marah Mas Doni memenuhi ruangan parkir kantorku.
__ADS_1