Sugar Baby (Paranoia)

Sugar Baby (Paranoia)
Berbeda


__ADS_3

Para wanita itu mengerjakan pekerjaan mereka dengan baik. Renata mengagumi sosok dirinya sendiri yang terpantul di cermin.


Sesekali dia menyentuh kalung berlian yang melingkarbindah di lehernya.


"Aku pikir mafia akan menjual narkoba atau senjata terlarang, tapi dia justru jadi tukang perhiasan keliling" desisnya pelan.


******


Helikopter berputar beberapa kali di atap gedung berpusat pada tubuh Anthony yang sedang berdiri tegap pusat helipad.


Renata berjalan perlahan dengan gaun indah dan perhiasan kelas wahid di lehernya. Samar - samar dia bisa melihat bahwa seseorang sedang melambai ke arah mereka.


Dan beberapa menit kemudian helikopter itu mulai turun, dan mendarat.


"Suit...suit..." sebuah siulan langsung bergema ketika mesin helikopter berhenti.


Seorang pria muda berparas setengah asia keluar dari balik kemudi.


"Such a great show!" Pujinya dengan pandangan penuh arti ke arah Renata. " Aku suka penyajiannya" pria itu bergerak melewati antjony begitu saja dan segera mendaratkan jemari kekarnya pada leher Renata.


"Semuanya Asli" Confirm - nya setelah berkeliling beberapa saat.


"Double price including the ladies" tawarnya dengan senyum memukau.


"Aku tidak di jual" jawab Renata cepat. Renata segera melangkah mendekati Anthony dan mengangkat tangan kanannya. "Kami sepasang suami istri?"


"Ah...." Pemuda itu kembali mendekat "in real?" sesaat dia memicingkan sepasang matanya yang sama sekali tidak begitu lebar.


"Kamu terlalu muda untuk Anthony"


"Anggap saja aku adalah sugar baby, aku hidup dari uangnya sejauh ini dengan menggadaikan kebebasanku"


"Apa yang Anthony sanggup beli aku juga sanggup.... jadi..." Ucapannya sedikit menggantung.


"Kita selesaikan soal Mr. Winston terlebih dahulu" Anthony menengahi.


"Aku berubah pikiran" Daniel menggeleng cepat."Tiga kali lipat dari apapun yang diberikan Anthonio padamu"

__ADS_1


"Kekuasaan?" Renata menyambut cepat "Dan kebebasan?"


"Rupanya kamu gadis pintar selain cantik" Puji Daniel dengan kedua tangan bertepuk kecil.


"Aku menyetujui transaksi ini karena kita berteman dan saling menguntungkan, tapi menawar istriku itu agak melebihi batas" Antonio mulai mengambil tempat di antara Renata dan Daniel.


"Batasan mana yang sedang aku langgar, aku hanya sedang bernegoisiasi dengan Renata secara pribadi"


" ketika dia milikku, maka semuanya tentangnya adalah milikku " Anthony mulai sedikit emosi.


"Hal ini aku belum pernah mengetahuinya, tapi aku sudah mengalaminya" Renata tak segan membela haknya yang terkikis "Jadi kamu cukup mengerti apa yang aku inginkan"


Kini Anthony melempar pandang pada Renata yang berada di belakangnya dengan cukup garang.


"ingat Re... Aku sudah memperingatkanmu dari awal. Dan tkdak akan ada jalan keluar" Antnony mendengus kesal. "Transaksi ini batal"


"Hanya karena aku tertarik pada istrimu?"


"Pertanyaanmu konyol" Anthony menarik lengan Renata dan beranjak pergi meninggalkan daniel


Anthony menarik lengan istrinya itu dan beranjak meninggalkan Daniel sendiri.


Renata yang semula hanya mengikuti anthony, segera melepaskan tangannya dan kembali menghampiri Daniel dan..


"Prak...


Kelima jari kirinya mendarat sempurna di di rahang tegas wajah daniel.


" Jangan main - main bernegosiasi denganku "Desisnya" Hidupku bukan untuk peemainan kalian" Renata menudingkan jemari telunjuknya ke arah dua pria yang sedang bersamanya.


"Double... Or never" Antjony menghampiri Renata dan memcoba menariknya menjauh dati Daniel.


"Deal.." jawab Daniel tegas dengan senyim penuh arti.


Daniel menjentikkan jemarinya sebanyak tiga kali dan seorang pria berusia tidak jauh berbeda dengannya segera keluar dwnga sarung tangan velvet serta sebuah kaca pembesar.


Sesat pria itu mengamati dengan sangat teliti kalung berlian dari leher Renata. Hingga ahirnya dia mengangguk membenarkan keaslian Mr. Winston.

__ADS_1


Daniel menarik nafas perlahan dan mengisyaratkan untuk pria itu mundur. Serta memberinya sepasang sarung tangan yang serupa.


"Kamu bisa memeriksa rekeningmu yang di Bahama" ucapnya pada Antonio "dan untukmu... Tawaranku masih sama" bisiknya ketika melepas kalung berlian itu dari leher Renata.


" Buktikan sebelum Visaku berahir, bawakan pasaportku kalau kamu mampu"


"Kamu tidak menyukai suamimu... Atau lebih tepatnya Sugar Daddy"


Renata menoleh ke arah Anthony yang sedang sibuk memeriksa laptopnya.


"Cinta mungkin menyenangkan, tapi aku memutuskan untuk profesional"


"Sebagai..."


"Sugar baby..."


Daniel menafik nafas perlahan, mengamati Renata untuk beberapa saat.


"Cantik, berani dan oportunist" entah pujian atau sarkastic.


"Aku tidak peduli akan isi pikiranmu, aku hanya memastikan aku mendapat yang aku mau"


Daniel hanya tersenyum singkat, matanya yang panjang dan lembut segera mengarah ke arah Anthony yang kembali menggandeng lengan Renata.


"Kamu selalu mendapatkan wanita istimewa, aku iri"


"Berusahalah, tkdak akan sulit untukmu. Terutama tipe fisikmu yang perlahan mulai trend belakangan ini" Antjony melempar pandang bergantian pada Renata dan Daniel. "Kamu sedang terburu - buru? aku bisa menyajikan makanan kelas michelin untukmu"


"Hmmmmm...." Sejenak nampak Daniel sedang berfikir keras. Dia mulai mengelus berliannya kemudian meletakkannya pada kotak beludru yang sudah di siapkan oleh lelaki yang sedang bersamanya."Bukan tawaran yang buruk.. Apakah istrimu juga ikut"


"Tentu saja..."


"Good Deal" Daniel segera melangkah menuju arah masuk gedung dan mengisyaratkan orang - orangnya untuk meninggalkannya sendiri.


"kamu tak takut aku menghabisimu?" seru Anthony.


Daniel berbalik sejenak dan menggeleng "Ada tiga Bom yang terpasang di gedung ini yang akan meledak kalau suasana hatiku terganggu"

__ADS_1


Keduanya kemudian saling melempar tawa, tapi itu Sungguh tidak lucu di mata Renata. Bagaimana mungkin mereka bermain - majn tentang nyawa begjtu mudahnya. Yang terburuk, salaj satu nyawa itu adalah miliknya


__ADS_2