Sugar Baby (Paranoia)

Sugar Baby (Paranoia)
Keinginan


__ADS_3

Renata menghentakkan kakinya beberapa kali dengan wajah mencebik kesal.


"Apakah kamu gagal menggoda biksu yang kau nikahi, cantik?" Sala Eduardo yang Entah datang dari mana.


"Bukan urusanmu" Renata terus melangkah tanpa menoleh sedikitpun.


"Apakah kamu hanya puas dengan uang? Dan harta lainnya?" Eduardo mulai tak segan membuntuti Renata meski Anthony kini sedang mengekor dibelakangnya.


Renata kini memilih diam dan bergumam sendiri dalam hati akan rasa jengkel dlm hatinya.


"Hei...." Tangan kekar Eduardo segera mencengkeram pangkal Renata "Jangan sombong kalau kamu cuma sekedar peliharaan, dasar Sugar Baby"


Harga diri Renata terasa terkoyak secara otomatis diikuti tangannya yang melayang dan siap mendarat di rahang Eduardo, tapi...


Jemari Anthony segera menggenggam tangan Renata mengurungkan tangannya yang hampur mendarat sempurna.


"Jangan habiskan tenagamu untuk hal - hal tak berguna, kamu masih banyak pekerjaan denganku" sepasang manik Anthony menatap lurus ke arah sepasang mata Renata.


Amarah yang tadi serasa membumbung, entah mengapa menjadi reda seakan tersiram dengan suara merdu Anthony. Padahal awalnya amarah ini justru berasal dari pria yang masih nampak tampan dengan usianya yang hampir kepala lima itu.


"Aku sudah peringatkan" Wajah Anthony kini berbalik menatap Eduardo yang terkekeh ringan seolah mengejek " Jangan sentuh milikku"


"Atau.... Kamu bisa apa?"


"Apa kamu benar - benar ingin mencoba, meski sedikit?" acaman Anthony kali ini sepertinya cukup serius.


Wajah Eduardo yang tampak menganggap enteng situasi saat ini, mendadak berubah jadi menegang.


"Kamu tahu aku hanya bercanda"


Eduardo mulai mundur dan memutar badannya menjauh dari Renata dan Anthony.


"Dasar pengganggu, apa sih fungsinya dia? tiap hati hanya di rumah dan berbuat sesukanya saja"


"Dia memiliki banyak pekerjaan penting" Anthony membela saudara tirinya itu "Jangan menuduh orang sembarangan"


"Hah... Kamu masih membelanya? Setelah dia mengangguku"


"Aku mengatakan faktanya" Antjony mulai beranjak meninggalkan Renata yang tercengang antaraa bingung dan kembali tersulut emosi.


*****


"Kita kembali ke apartments sempitmu saja" Renata yang emosinya masih meletup - letup tanpa sungkan mengutarakan isi otaknya.


" Kamu akan lebih banyal cerewet di sana" jawab Anthony berdasatkan pengalamanya.

__ADS_1


"Setidaknya di sini aku memiliki pelayan yang bisa membantuku mengurus wanita manja sepertimu" Anthony mulai melepas kemejanya dan meraih bathrobe dari salah satu wadrobe. "Aku malas pusing dengan urusanmu, jadi tahan saja"


Renata hanyaendengus dan kemudian segera menelan salivanya.


"Jadi... Kita akan tetap tinggal di sini"


Anthony menatapnya sejenak dan mengangguk tanpa beban. "Sekali lagi ini keputusanmu, beginilah konsekuensinya"


"Hmmm... Indah" gumam Renata yang rupanya telah m3labuhkan pikirannya pada subjek yang berbeda.


"A.. Apa? Indah?" Anthony coba mengkoreksi pendengarannya. " Keputusanmu cepat sekali berubah" Anthony kembali melanjutkan niatnya untuk membasuh badannya usai activitasnya hari ini.


"Aa...." dengan cekatam Renata segera mengikutinya masuk ke dalam kamar mandi "Apa kamu setidaknya lapar?"


Tangan kekar Antjony segera menggantungkan bathrobenya dengan kedua alis yang mulai berkerut "Bukankah kita tadi sudah makan?"


"Bukan makan itu.. Tapi..." Renata mengatupkan kedua bibirnya.


"Kamu...?"


Anthony memandang Renata sekilas.


"Kamu tahu bukan... Kalau aku tidak mudah berminat untuk hal seperti ini"


Yah.. Tentu saja, mana mungkin Renata lupa. Tidak salah kalau Eduardo menyebut Anthony adalah biksu.


*****


(Bulan madu...)


Ini adalah hari terahir bulan Madu Renata dan Anthony. Tapi belum sekalipun Anthony menyentuh Renata sebagai seorang istri.


Ada rasa resah, namun yang lebih dominan adalah rasa cemburunya pada mantan istri Anthony. Rasanya Anthony masih menyimpan harapan pada wanita itu meski sekarang wanita itu sudah memiliki keluarga yang baru.


Seperti pagi - pagi biasanya Anthony sudah berkutat dengan laptopnya memandangi angka - angka yang terkurung dalam tabel pembukuan. Sesekali dia mengetik setelah mengkoreksi.


"Apakah ini pekerjaan untuk ayahku?" Renata yang masih belia memberanikan diri untuk segera menyela jarak pandang Anthony.


"Begitulah" Tubuh Anthony otomatis mundur memberi celah pada tubuh renata yang mulai menduduki pahanya.


"Aku tidak mengerti banyak soal ini" Renata sedikit pura - pura teertarik dengan apa yang terpampang di layar laptop. "Tapi aku pasti bisa merayu ayahku agar kita bisa libur lebih lama"


"Hmmmm... Aku tidak setuju, pekerjaanku akan lebih menumpuk saat itu" Jawab Anthony yang sudah siap untuk menepis Renata dari hadapannya. Tapi bukan Renata kalau tidak nekat...


Tanpa perhitungan renata segera mengangkat pangkal oversize T shirtnya dan meloloskannya segera dari kepalanya. Pemandangan pinggang ramping itu kini tersaji secara close up dan tanpa cela beserta bagian yang cukup menantang di atasnya.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kita selesaikan ini, bukankah deadlinenya lebih mendesak?" Renata mulai menggulung rambut panjangnya dan memamerkan leher jenjangnya yang tak kalah mulus.


Mungkin Anthony sangat pemilih tapi tubuh lelaki manapun akan cepat bereaksi dengan suguhan seperti ini.


" Kita Check out sebentar lagi " Anthony mencoba menghindar.


" Masih dua jam, bukankah cukup?" lengan Renata segera bersandar di kedua pundak Anthony dan menyatu di pangkal belakang kepalanya. "Bagaimana?"


"Sssst..."Anthony mendesis pelan sepasang maniknya susah memejam dengan godaan di hadapan matanya" Sejak kapan kamu jadi seberani ini "


" Sejak menikahimu... Aku sudah membayangkannya sejak melihatmu mengunjungi ayahku pertama kali "


Anthony mengulum bibirnya sendiri. Bertarung ringan dengan hasrat dan rasa penasaran." Jadi dari awal kamu menyukaiku? "


Renata tersenyum manja" Aku juga pemilih... Kalau tidak suka aku tidak akan terima "


Senyum Renata saat itu seketika memecah kebekuan Anthony. Nafasnyapun segera tersengal menyambut hangat tawaran yang jelas sulit di tolak nya.


" Bersiaplah, aku suka yang sedikit kasar "


Renata yang mengajukan diri, sudah tak mungkin mengurungkan niatnya. Rasa hawatir segera tersirat Pada Mimik wajahnya.


" Kamu belum pernah dengan siapapun?"Anthony mulai menebak reaksi Renata.


Sepasang manik indah Renata berputar sejenak, entah bangga atau malu mengakui kenyataannya bahwa...


" i.. Iya "


Tawa Anthony berderai lirih, Dia terkejut untuk kesekian kalinya. Bagaimana mungkin gadis seberani ini justru ternayata baru pertama kali.


" Aku ini masih muda " Protes Renata akan reaksi Anthony yang dirasanya sedikit mengejek. Dia hanya menyatakan realita yang sebenarnya tidak begitu berhubungan dengan kenyataan keadaan dirinnya.


*******


Tapi cerita sudah berbeda, Renata tidak bisa menawarkan apapun untuk membuat Anthony meperhitungkan keinginannya. Ayah yang penuh kuasa dan kaya sekarang sudah jauh dan mungkin tidak mengakuinya sebagai anak. Di negara inipun dia bukan siapa - siapa. Bahkan meski dia memiliki uang yang berlimpah, tanpa id, tentu sulit untuk mengaksesnya.


Jangankan untuk menghubungi pihak bank, handphone saja Renata tidak punya.


Ck...ck..renata berdecih mengasihani keadaanya sendiri. Langkahnya mulai mundurvdwngan cepat dan segera ingin menghilang di balik pintu.


"Ehem..."


tubuh renata terhenti sejenak.


"Mungkin kita bisa mencoba malam ini?"

__ADS_1


Entah nyata atau tidak, Anthony nampak tersenyum ramah.


"Kita lihat nanti" Renata membalas dengan persiapan yang matang akan kemungkinan kegagalan yang tinggi.


__ADS_2