Sugar Baby (Paranoia)

Sugar Baby (Paranoia)
Terpaksa


__ADS_3

Ck... Benar juga, nanti kita bisa dicurigai ikut mengangkut barah haram dalam divisi angkutan kita" Sahut yang lain.


Anthony yang kebetulan berada di salah satu bilik, hanya mampu diam dan perlahan mengubur harapan untuk keluar dari takdir yang ada padanya saat ini.


*****


Semuanya bertumpuk dan tidak memihak keinginan Anthony. Orang lain mungkin bisa mudah menghakimi, tapi tidak semua hidup selalu bisa dijalani dengan cara seperti itu.


******


Anthony yang garang nampak pemberani dan maskulin serta cerdas. Tidak akan menyangka bahwa itu hanyalah benteng pertahanan untuk melindungi rasa trauma, kecemasan dan kekecewaan yang menumpuk atas kegagalan - kegagalan hidupnya di masa lalu.


Sorot matanyapun tak pernah nampak surut atau lelah. Selalu tajam dan berjaga, meski dalam suasana santai seperti saat brunch hari ini.


Segelas kopi menemaninya di samping laptopnya bersama bruchetta.


"Jadi kapan aku mendapatkan ponsel yang lengkap dengan simnya?" Renata segera mengambil duduk di hadapan Anthony meski tubuhnya masih basah usai berenang.


"Aku masih belum berminat"


"Aku...." Renata menebar pandang pada area jendela di sekitar mereka."Apakah pelayanmu mengawasimu?"


Anthony mulai mengarahkan wajahnya mengikuti arah mata Renata.


"Sepertinya... Tapi bukan urusanku"


Anthony segera kembali menatap layar laptopnya.


Tentu saja dia peduli, tangan Anthony mulai sedikit canggung menyentuh tuts keyboard untuk beberapa saat.


"Jadi sebenarnya kamu pasti sudah tahu di mana brangkas itu?"


Anthony tetap diam dan tak menggubris.


"Selesaikan segera dan aku akan mencari cara melindungimu keluar dari semua ini"


"Kamu melindungi dirimu saja tidak mampu" Anthony meringis kecil.


"Tidak di sini, tapi bisa di manapun" Renata menarik nafas panjang "Berikan aku ponsel, aku bisa mengatur bisnis besar untukmu dan itu tidak akan terjadi di italy"


Anthony mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Aku sedang tidak menolongmu, aku sedang menolong mentalku sendiri yang mulai berangsur menjadi gila di sini"


"Apakah kamu berharap aku mempercayaimu?"


Renata menebar pandang pada sekitaf gedung.


"Apakah mereka memasang cctv sebanyak itu?"


"Di setiap sudut" jawab Anthony yang mulai penasaran dengan sikap Renata.


Renata mulai mengulurkan tangannya... "Ikut aku?"


"Kemana?"


Renata mengarahkan wajahnya pada arah kolam renang yang baru saja di tinggalkan "Berdiskusi dalam waktu yang lama akan menimbulkan kecurigaan"


Anthony mulai mengangguk memahami dan menerima ukuran tangan Renata.


"Byur...


Keduanya segera tenggelam di kolam renang beberapa saat dan mulai muncul. Tapi Renata tak langsung bicara, dia memilih berenang mengelilingi tepian kolam dengan sesekali melihat para wajah pelayan yang mulai kini berpaling dafi mereka berdua.


" Jangan bermain - main aku tidak suka tipuan" suara Anthony tiba - tiba muncul di depannya.


"Sebentar lagi.." Renata segera memanggut bibir Anthony beberapa saat. "Sekarang semua mata sudah pergi" Renata tersenyum simpul.


"Aku rasa keluarga angkatmu hanya menjadikanmu tumbal untuk memiliki seluruh isi brankas itu"


"Jangan mulai mengarang bebas, kita di sini bukan membahas soal mereka"


"Ok..." Renata mengangguk, Kali ini dia merapatkan kepalanya pada sisi kiri Anthony "Aku akan meminta seniorku di Swiss mengadakan seminar tentang keuangan"


"Itu tidak membantu"


"Kita akan menghadirinya dan dia akan membantu kita untuk ke Australia melalui program keuangan miliknya"


"Bagaiman mungkin?"


"Kamu hanya butuh mencari client dengan kekuatan yang cukup besar, dengan jumlah yang tidak sedikit" Renata melepaskan rangkulannya "Tapi aku butuh ponsel"


"Kamu akan menelpon di depanku?"

__ADS_1


"Kamu sedang mencurigaiku atau kamu tak sabar akan pergi ke Australia?"


Anthony mulai menenggelamkan tubuhnya sesaat dan segera muncul di belakang Renata.


"Aku hanya tidak suka di bohongi"


"bisakah kamu mencium pipiku?" Goda renata singkat.


"Rumah ini tidak perlu begitu banyak cctv, aku rasa mereka memiliki lukisan asli salvador Darli" dan satu - satunya yang selalu mereka awasi adalah kamu. Karena hanya kamu yang akan mencurinya. Sedangkan yang lain sudah tahu "


Renata tersenyum dan mulai menepi tanpa menunggi Anthony, dia segera meninggalakan kolam renang dan beralih ke salah satu daybed.


" Pakai handuk " Antjony yang baru muncul melempar handuk ke tubuh Renata.


" Bukankah kecantikan adalah pengalih perhatian?" Renata menutup kedua matanya "mereka pasti lebih menyukai melihatku dari pada membaca bibirku"


Anthony hanya berkacak pinggang menahan rasa sedikit amarah atau mungkin cemburu.


"Kalau kamu tidak tertarik dengan isinya, lebih baik kamu memulai hidup baru bersamaku"


******


"Kamu yakin bahwa aku hanya tumbal"


Kata - kata tumbal dari mulut Renata terus mengiang dalam telinga Anthony.


"huh kamu bilang kamu tidak percaya"


Anthony mendengus, "Mungkin... Tapi aku mau tahu alasannya"


Renata mengeringkan rambutnya dengan perlahan memckba mengulur waktu, seberapa besar minat Anthony akan praduganya.


"Mari kita cocokkan kelahiranmu dengan saat pembuatan brangkas?"


"Apa hubungannya?"


"Jelas ada.." Renata berdiri dan mulai memilih baju dari lemarinya" Teknologi belum secanggih sekarang, seperti yang di duga Eduardo. Harusnya sandy dengan Retina matamu itu terjadi pada masa yang lebih dekat "


Renata mendekati Anthony dan mulai menyelam singkat pada sepasang mata yang indah itu.


" Apakah kamu menyadari bahwa kamu memiliki mata yang menakjubkan? "

__ADS_1


Anthony menepis tubuh Renata" Ini bukan alasanmu saja karena ingin meminta handphone? "


" Andaikan saja iya, apa ruginya untuk mu. Dan urusan seminar keuangan di swiss juga akan menguntungkan untukmu " Renata berbalik dan mengikuti arah kemana Anthony berada." Jadi..?"


__ADS_2