Sugar Baby (Paranoia)

Sugar Baby (Paranoia)
Masih


__ADS_3

Renata mendengus kasar, dia rasa dia tak perlu bersikap tetap baik - baik saja di depan Daniel.


"Kamu berharap bersama Anthony?" pertanyaan Daniel membuyarkan wajah lesu Renata. Tanpa ragu Renata kembali menata wajah galaknya seperti semula.


"Bukan Urusanmu..!!" Hardiknya.. "Jalan..."


***'


Magdalena hanya menahan nafas dan sefera membanting ringan peralatan makan di tanganya. Pandangannya melambung jauh pada masing - masing heli kopter yang mulai berterbangan dari halamannya.


Perlahan dia mulai berdiri dan melangkah lebih dekat ke arah jendela untuk memastikan kemana arah kedua helikopter itu. Meski ada rasa kekhawatiran dan perlahan dia kembali merasa tenang.


"Kenapa mama tidak menahan mereka? Kita bisa dengan mudah mengepung mereka dan memaksanya mendapatkan yang kita mau" Vittorio yang mengekor di belakang ibunya mulsi protest dengan sikap ibunya.


"Kira bukan preman jalanan Vittorio! Nyawa anak buah kita juga berharga. Dapatkanlah yang kita mau dengan resiko rendah" Magdalena menatap putranya sejenak "Kamu masih bergaul dengan Eduardo?"


Vittorio terkejut, bahwa ibunya tahu akan hubungannya dengan Eduardo "Hanya... Sesekali" jawabnya sedikit kikuk.


"Seharusnya kamu tahu, kenapa dia masih kacung hingga saat ini" Desisnya "Cara kerja dia masih saja kasar dan amatiran"


Vittorio tak menyangka ibunya mencela Eduardo.


"Jangan terima saran apapun dari berandal itu" Magdalena menepuk singkat dada putranya dan berniat pergi.


"Ma... Ma.. Tidak punya hububgan khususkan dengan Daniel?"


Magdalena tertawa renyah. "usiaku sudah setengah abad? Kamu masih mengira aku tergoda dengan pria tampan?"


Vittorio hanya menelan ludah kasar.


"Andai saja iya... Orangnya tidak mungkin Daniel bukan? Kami hanya berbisnis"


"Apa yang mama pesan dari Daniel? Hingga mama mengikuti keinginannya.


Langkah magdalena terhenti lagi " tentu saja lukisan dan Retina Anthony, "Seulas senyum tergurat dari wajah wanita itu.

__ADS_1


Vittorio mengerutkan keningnya" Jadi..."Desisnya seiring langkahnya mengiringi ibunya.


Magdalena hanya mengangguk.


" Apakah Daniel akan menghianati temannya? "


" Itu bukan urusanku, setahuku... Daniel hanya setua Pada pekerjaannya "langkah magdalena melamban." oh iya... Jangan bergaul dengan Eduardo lagi... Dia hanya memanfaatkanmu saja"


"Ah... Dari mana mama tahu? Kami hanya me ngobrol saja"


"Rencanamu yang berantakan itu, tidak mungkin idemu bukan?" Lanjut magdalena yang kembali mempercepat langkahnya menuju ruang istirahatnya.


"Damn..!!" Batin Vittorio, bagaimana ibunya tahu?


"Dia berencana mengambil Renata dan Antonio setelah kepentinganmu dengan mereka selesai?" Lanjut Magdalena yang sudah hampir sampaj Di ruang istirahatnya "Maka... Kenapa dia tidak melakukannya sendiri, ketika dia betmaksud berhianat. Kenapa harus mengorbankan klan kita?" Magdalena menarik nafas dalam - dalam.


"kamu memang punya kuasa dan kedudukan tinggi Di klan kita, seharusnya itu menjadi tanggung jawab melindungi yang jadi bawahan kita" Magdalena merapikan kemeja putranya "Biarkan Eduardo melakukan rencananya sendiri, kamu fokus saja dengan tigas yang aku berikan. Urusan Anthony, itu aku yg urus"


Magdalena menghilang di balik pintu, meninggalkan Vittorio yang masih mematung mencerna ucalan ibunya.


"Wine? Tawar Daniel ketika dia memasuki apartmentnya tanpa melepas genggamannya Pada pergelangan tangan Renata.


" Aku mau juice saja "


" Baik tuan putri... "Daniel mendaratkan Renata pada sofa ruang tengahnya. Dan bergegas menuju chiller di area bar ruangan itu.


" Aku hanya punya orange "Daniel mengangkat juice kemasan yang di dapatnya sejajar dengan wajahnya.


Renata hanya mengangguk.


Daniel segera mendekat debgan dua gelas kristal di sisiblain tangannya. Dengan cekatan dia mulsi menuangkan orang juice Pada masibg masing gelas.


Drrrrrrt..... Drrrrt..


Daniel mendengus sesaat, "Dia sangat suka mengganggu" Desis Daniel yang kembali berdiri dan kini melangkah ke arah jendela. Dengan sigap dia mulai memvelah tirainya. Dan...

__ADS_1


Nampak sebuah helikopter sedang tepat berada di luar dan samar - samar terlihat Anthony yang sedang mengacungkan jemarinya ke arah Daniel. Daniel hanya betkacak pinggang dan mengisyaratkan untuk Anthony segera mendatanginya.


"Suamimu menjemputmu" desis Daniel keyika dia kembali mengambil duduk di drpan Renata yang hanya mengatupkan bibirnya menahan rasa suka bahwa Anthony mengejarnya.


****


TING... TONG..


Anthony sudah berdiri di ambanng pintu dan menerobos begitu saja. Dia mulai memandangi Renata dan Daniel secara bergantian.


"Aku belum menyentuh nya " ledek Daniel, seolah mengerti isi kepala temannya itu. "Aku tidak pernah mengambil sesuatu tanpa ijin bukan?"


"tapi kamu sering tak peduli jawabannya.." desis Anthony dengan mata tertuju lurus ke arah Renata yang sedang menyesap juice nya.


Daniel hanya mengangkat Alisnya sesaat "Aku beri kalian kesempatan berbicara, aku ke kamarku untuk mengobati lukaku, ingat.. Hanya Berbincang"


***


Bukan Anthony namanya kalau mengikuti perintah orang lain. Dengan cepat Anthony manarik Renata dari duduknya dan segera menggeretnya ke dalam kamar mandj.


"Sudah puas kamu membuatku khawatir" pekiknya usai menutup pintu dan mendorong tubuh Renata bersandar ke daun pintu.


"Apa pedulimu... Otakmu selalu berisi wanita lain, belum selesai aku menepis mantan istrimu, kamu ternyata juga memendam rasa pada mantan pacarmu.. Cih..!" Renata memalingkan wajahnya dari tatapan Anthony yang terlalu dekat.


"Harus tetap marah.." Batun Renata "Jangan luluh dengan ke sexiannya" Rayunya pada diri sendiri. Yang segera di langgarnya dalam hitungan detik, ketika sepasang bibirnya terlumat dengan cepat usai Anthony menarik rahangnya.


Jemari Anthony yang kejar telah menekan satu sisi dadanya seiring dengan jemari yang lain menarik pinggangnya.


"Tidak... Tidak.. Begini..." Renata ingin mencoba melahan birahinya yang bersambut. Tapi gerakan Anthony lebih cepat dari keputusannya. Entah sejak kapan kulit mereka sudah mulai bersentuhan. Dan menimbulkan kegaduhan.


Daniel yang baru keluar dari kamarnya hanya mendengus mendapati suara sahabatnya yang sedang meneguk rasa haus akan wanitanya dari dalam kamar mandi ruang tengahnya.


"Well.. She is still yours.." desisnya seiring mulai menekan beberapa angka Pada layar ponselnya.


***''

__ADS_1


__ADS_2