Sugar Baby (Paranoia)

Sugar Baby (Paranoia)
Sulit


__ADS_3

Anthony bangkit dari rebahannya dan dengan kasar segera melampar satu sisi sepatu bootnya ke arah teman baiknya itu.


"Seharusnya aku tembak kepalamu saat ini"


"Well!! Aku tidak pernah berada Di tempat seharusnya bukan?" Daniel segera lenyap di balik daun pintu kayu ruangan Anthony.


Sepasang netra Anthony masih menegang, sungguh hatinya masih tak rela lukisan itu pergi, tapi ucapan Daniel ada benarnya. Bagaimanapun, Rose sudah menolak untuk menjalin komitmen dengannya. Meski mereka kadang masih menyicipi cinta dalam kondisi terlarang. Dan Renata juga tidak salah kalau dia memang murahan.


Anthony menahan nafas sejenak, sebelum menghampiri laci mejanya dan meraih sebuah pistol. Tanpa berfikir dengan cekatan dia mulai mengisi peluru demi peluru dan kemudian bergegas keluar ruangan.


****


Renata...


"Cerai??" Ayah Renata menahan amarahnya. "Yang ngotot nikah siapa Re?"


Renata menelan ludahnya "Aku.." Jawab Renata lirih sambil ******* sendiri jemarinya.


"Kamu masih ingat alasanmu?"


Renata mengangguk pelan, namun dia hanya sanggup diam.


"Alasanmu....!!!" Suara Ayah Renata mendengung keras.


"Karena Re...mau buktikan Re.. Bisa juga dalam dunia bisnis" jawab Re.. Dengan suara yang sudah tidak tangguh lagi.


"Dan kamu akan meruntuhkannya hanya karena isu yang belum pasti?"


Renata menahan nafasnya. Belum pasti apanya, Anthony jelas masih memiliki hati pada wanita lain. Kenyataan bahwa dia selalu enggan menyentuhnya dan selalu mencari tahu tentang kehidupan mantan Istrinya, Maria.


" Tapi...."


" Nggak ada bukti Re.. "Sanggah ayahnya tegas" Maria tidak akan berselingkuh, dia sudah bahagia dengan suaminya "


" Bukan itu ayah...! "tangis Renata pecah" Tapi menikahi lelaki yang selalu mencintai orang lain adalah menyedihkan, Ayah nggak tahu perasaanku "


" Perasaan? "Ayah Renata berdecih" Kamu pikir dunia ini peduli dengan perasaan kita? Kamu pikir semua yang kamu nikmati sekarang di lakukan dengan mentolerir perasaan melodramamu itu? "


Renata hanya sanggup diam.

__ADS_1


" Dengar Nak...!! orang tuamu ini tidak akan hidup dan menopang dirimu selamanya. Kalau hanya mengurus perasaan saja kamu gagal, bagaimana kamu bisa kuat melalui kehidupan ini "


Ibu Renata yang risih dengan nada tinggi suaminya segera ikut masuk ke ruang perpustakaan Di mana Renata dan Ayahnya berada.


" Pelan dong kasih tahunya, kita juga bukan yang menyarankan Renata untuk menikah dengan Anthony. Setidaknya kita juga ikut andil dalam pernikahan mereka" Ibu Renata mengelus pundak putrinya yang mulai tergoncang.


"Itu tidak salah, aku bisa pastikan Anthony tidak akan berani berselingkuh darimu. Kalau masalah perasaan itu bukan tanggung jawab kita. Lagi pula namanya di jodohkan, ada processnya. Bukan sedikit - sedikit minta cerai"


Renata mulai sebal, bukankah orang tua harus selalu mendukung anaknya?


"Re... Ayah begini karena sayang. Ayah dan ibu juga di jodohkan, bedanya kami sama - sama mengerti posisi kami masing. Perasaan di bangun bersama"


"Itu... Bu... Anthony ga ada niatan ke sana... Kerjaa.. Terus. Sama srlalu mencampuri urusan mantan istrinya"


"Mereka ada anak, kamu menikahi duda. Kamu harus lebih pengertian" ibu Renata mengusap pipi putrinya.


*******


Rasa hancur saat itu serasa mirip seperti sekarang, ketika kenyataan bahwa hati Anthony ternyata masih bukan miliknya. Setelah sekian lama? Dan setelah pengorbanannya?


*****


"Ini bukan sekedar dukungan, tapi aku juga ibgin membuka angin segar agar Anthony bisa mengerti ketulusanku" Renata menatap dokumen Di tangannya. "Mantan istrinya justru ingin menyeretnya ke lubang derita, dan aku pasti akan jadi pahlawan"


"Tapi Anthony terbukti bersalah"


Renata tak menggubris lagi ucapan orang tuanya. Dengan alasan naifnya dia tetap memberikan dukungannya.


*****


"Dasar paranoid" Renata mendengus kasar " Apa bagusnya Rose?" renata mengetuk - ngetukkan sepatunya ke dinding lift sambil memandangi penampilannya saat ini. "Aku memang lebih jelek sekarang" Gerutunya kemudian.


"Ting..!!" pintu lift segera terbuka.


"Ah sial...!!" Umpat Renata yang baru menyadari kenyataan bahwa dia tidak bisa pulang begitu saja. Renata mencoba mengaduk isi tasnya berharap mungkin anthony menitipkan kunci mobil padanya.


' Dia pikir dia bisa menghentikanku? " Renata membatin sendiri. Dengan terus melangkah kembali ke arah lobby


Dor...

__ADS_1


Suara tembakan terdengar tak jauh dari tempatnya berdiri.


" Yang sudah jadi milikku, tidak akan jadi milik orang lain "Anthony sedang berdiri tegak dan meniup ujung pistolnya yang jelas baru saja melepaskan peluru menembus lukisan yang hampir masuk ke bagasi mobil Daniel.


Renata hanya memekik melihat dua lelaki itu yang masih saja ribut tentang lukisan Rose. Namun hatinya lebih teriris karena Anthony ternyata tidak merelakan lukisan Rose pergi.


"Se beharga itukah Rose di matamu?" Renata sudah merasa sesak.


Tanpa ragu langkah Renata segera berubah menuju ke arah Daniel berada.


"Berapa harga yang ditawarkan untukku?" tanya Renata lirih ketika jaraknya dan Daniel tidak begitu jauh.


"Kamu tahu... Pasti pantas" Jawab Daniel yang sedang menelan ke kecewaan atas kerusakan barang yang ada di tangannya.


"Mungkin... Kamu tidak perlu pulang dengan tangan kosong" Tanpa betfikir panjang Renata mengulurkan tangannya ke arah Daniel "Asal aku dapat setengahnya"


Senyum di wajah Daniel segera merekah dan dengan cepat dia menarik tangan Renata dan membuat gadus itu telah berada dalam mobil dalam hitungan detik.


"See you!!!" Daniel merlambaikan tangannya seiring laju mobilnya yang melaju dengan cepat meninggalkan Anthony.


Beberapa suara tembakan terdengar nyaring mengiringi mereka. Dan segera di susul dengan laju yang sama dari mobil Anthony.


"Dia akan marah?" Tanya Renata yang mengamati mobil Anthony mengikutinya.


"Menurutmu??" Daniel menjawab denga fokus yang tertuju lurus pada jalanan panjang di depannya.


Renata tersenyum kecut, " Mengejarku hanya karena gengsi, tapi merusak Lukisan Rose karena dia Cinta" Renata mendengus kesal, mengingat peristiwa beberapa menit yang lalu.


"Hei....!!! Kamu sedang bermain - main dengan nyawaku?" Suara Daniel tiba - tiba nyaring seiring denga bunyi rem mobil yang menukik tajam di belokan.


"Kamu menyerahkan diri hanya melihatnya Anthony cemburu?" Tanyanya lagi dengan nada yang lebih renyah.


Renata hanya diam, karena jawabannya sebenarnya adalah iya.


"Dor!!!


Suara tembakan terdengar dan berdenting di salah satu kaca spion mobil Daniel.


" Lain kali pastikan lelaki tak waras itu tanpa senjata "Keluh Daniel yang semakin menginjakkan gas mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2