
Malam itu suasana club utama milik keluarga Anthony nampak sangat ramai dan mewah.
Renata mulai terbiasa dengan kata - kata ' Kerja' yang diluar nalarnya. Selama ini dia hanya mengetahui bahwa kerja hanya datang pada satu tempat yang bisa di sebut kantor and institutional, tapi di dunia Anthony yang baru kerja bisa di mana saja dan kapan saja serta dengan cara apa saja.
"Hi Renata!!!" Sapa tuan Rosario yang juga baru tiba.
Renata melempar senyum ramah "Senang melihat wajah asli anda Kembali Tuan" balas Renata "Meski anda nampak lebih tampan saat berjenggot"
Rosario terkekeh pelan "Kamu mendidiknya dengan baik, padahal awalnya aku mengira dia tidak jauh beda dengan para gadis di dalam sana"
Anthony tersenyum datar "Aku belajar banyak dari ayah" jawabnya yang terkesan tidak tulus.
Tuan Rosario menepuk pundak Anthony sejenak dan kemudian melangkah memasuki gedung.
"Ngomong - ngomong soal ayahmu, apakah kamu sudah mentransfer bagianku?"
Anthony merogoh sakunya dan setelah beberapa saat menggeser layarnya dia segera mnuodorkan ponselnya pada Renata.
"Aku tidak pernah ingkar dalam berbisnis, kamu tidak usah khawatir. Jadi berhati - hati lah"
Renata hanya merengut "Bagus...! Tapi sayang aku belum bisa mengaksesnya" Renata menarik nafasnya dalam - dalam dan menghembus perlahan "Nasib.." desisnya terkesan mengeluh.
Anthony meraih kembali ponselnya dan segera menyarungkannya kembali pada saku tuxedonya. "A..."
"Ya.. Ya.. Aku sudah di peringatkan" Gerutunya sekali lagi yang kali ini diikuti langkahnya menuju pintu masuk VIP.
****'**
"Apakah keluargamu sering berpesta?" Renata menyapyka pandangan pada suasana klub malam.
"Untukmu mungkin berpesta, tapi untuk kami ini bekerja. Tempat ini di kelola Eduardo" Anthony menyapu pandangan kesekeliling "Jadi kamu akan tahu kemana kamu mencarinya kalau butuh, sedikit clue" Anthony mendekatkan wajahnya ketelinga Renata "Dia di sini setiap malam"
__ADS_1
"Aku tidak peduli" Renata mengerti kemana arah pembicaraan Anthony "tunggu... Tapi dia selalu sarapan saat pagi?"
"Nona... Orang sukses di dunia ini dalam bidang apapun harus kerja keras, termasuk Eduardo"
Renata hanya mengangguk otomatis. Benar juga ayahnya sangat pekerja keras begitu pula seluruh kerabatnya. Dia cukup beruntung bisa menikmati ke suksesan mereka tanpa bekerja keras. Satu - satunya yang harus dia lakukan hanya perlu menikahi Anthony karena keinginan ayahnya.
******
Keduanya segera melangkah ke ruang VVIP yang terletak di lantai paling atas. Bukan hanya mewah, semua yang di lantai ini adalah luar biasa.
Ada perawatan salon, spa, perawatan kecantikan dengan teknologi mutakhir, minigolf, tennis bahkan layanan kesehatan yang cukup memadai. Deretan pelayan dengan penampilan di atas rata - rata juga tersedia. Kalau soal wanita..
"Tidak ada wanita... Untuk pelanggan VVIP Klub ini?" Tanya Renata yang mulai menyadari kekurangan club vvip ini.
"Wanita yang bisa mendapat akses di sini juga VVIP" Jawab Anthony ringan " minimal sekelas model international, Celebrity atau Ratu kecantikan international "
Renata ternganga mendengar standard yang di sebutkan Anthony.
"Untuk ayahku, mungkin kemampuanmu mengumpulkan dana taktis adalah yang utama"
"Kamu mengetahui akan hal itu?"
"Entahlah, yang aku tahu dia sangat menyukai uang" Renata membuang nafas kasar. Untuk beberapa saat terbayang wajah sang Ayah yang garang. Renata segera menepis bayangan itu. 'Fokus' bisiknya dalam hati saat mereka sudah sampai di depan pintu ruang meeting.
******
Satu.... Dua... Dan.... Tiga....
Jemari panjang Anthony mendorong kuat daun pintu yang memang sudah tidak tertutup rapat. Dengungan percakapan langsung terdengar santer dari arah para tamu yang lain.
Termasuk orang tua angkat Anthony. Beberapa pasang mata menatap heran, beberapa pasang yang lain menatap kurang berkenan dan sisanya nampak sangat ramah. Tapi tulus atau tidak. Anthony nampak tidak mau ambil pusing.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu bisa seenaknya membawa peliharaanmu masuk dalam rapat besar kita" Eduardo selalu mencoba memprovokasi Anthony.
Anthony hanya membalas sorot mata Eduardo sejenak dan memilih berlalu tanpa sepatah katapun.
"Kenapa Eduardo selalu mencari masalah denganmu?" Renata merasa jengah dengan pemuda tampan berambut ikal itu.
"Jangan salah, dia hanya berusaha bertahan"
"Tumben kamu bisa berbaik sangka?"
"Andai aku sedang berburuk sangka pada rivalku, aku tidak akan mengatakannya meski dalam hati ketika aku di sarangnya" Anthony hanya mendengus dan segere menduduki kursi untuknya.
Suasanapun langsung hening. Tiap tamu yang tadinya masih berdiro denga cepat mulai kembali ke kursi merek masing - masing. Apakah Anthony se powerfull itu?
Mungkin, tapi berpengaruh juga berarti makna yang lain.
"Kami senang mendengar kamu kembali, kami hampir gila mengira kamu tidak akan pernah muncul lagi"
Anthony hanya menanggapi sapaan itu dengan senyum tipis.
"Ngomong - ngomong kami tidak diberi tahu akan ada anggota baru, apakah dia memiliki keturunan khusus atau semacamnya hingga bisa mengikuti acara hari ini di hari pertamanya?"
Anthony mengusap dagunya denga kasar, sepasang matanya bertatap dengan Renata untuk sekian detik.
" Mengingat kejadian di masa silam, aku harap tidak ada yang keberatan dengan kehadiran saksi dari pihakku "
Beberapa orang mulai saling pandang dan bergumam.
"Tidak perlu di bahas lagi, aku anggap semua sebagai pelajaran yang memang harus aku lewati. Setidaknya itu menjadikanku lebih waspada sebagaimana seharusnya" Anthony nampak berwibawa pada masa ini.
Gesture, penampilan, tata bahasa dan bahasanya sangat anggun dan tertata rapi. Sangat berbeda dengan dirinya yang arogan dalam kesehariannya.
__ADS_1
'Tunggu....'Renata mengamati dengan seksama untuk beberapa saat.' Cara ini sungguh sangat tidak asing' mirip siapa ya....?