Sugar Baby (Paranoia)

Sugar Baby (Paranoia)
Paranoia


__ADS_3

Renata masih tercengang dengan semua, dan lebih tercengang seolah Anthony lupa bahwa dia membawanya masuk.


Meski canggung Renatapun segera berdiri dan melempar senyum ramah, berharap tidak ada yang menyanderanya karena sikap Anthony barusan. Langkahnyapun segera bergegas menyusul Anthony dengan mulut yang terua berdoa agar setidaknya dia berhasil keluar ruangan ini dengan selamat.


*****


Langkah Anthony sangat cepat, tanpa peduli dengan Renata dan sedang kewalahan mengikutinya. Dengan cekatan dia mulai melonggarkan dasi dari lehernya dan segera melemparnya kedalam mobil bersama tuxedo kedalam jok mobil.


Anthony menarik nafas panjang dengan badan membungkuk sejenak. Hingga


BRAK...!!!! suara hantaman mobil dan otot kekarnya terdengar sangat nyaring.


Renata yang berjarak sekitar tiga meter hampir melompat karena terkejut. Anthony sejenak berpitar memijit pelipisnya beberapa kali dan sekali lagi


BRAK..!!!


Kali ini kakinya yang mulai menendang dengan sekuay tenaga ke bagian bawah mbil mewahnya hingga menimbulkan bekas.


Renata hanya membeku, dia sudah merasakan beberapa kali sikap kasar Anthony. Biasanya dia masih cukup berani untuk berdiri tegak dan menantang lelaki itu.


Tapi kali ini kondisinya berbeda, Anthony bukan hanya Emosi tapi juga penuh amarah. Dia berharap Anthony tidak melihatnya, setelah menarik nafas beberapa kali Renata mulai menggeser langkahnya dan menyembunyikan tubuhnya di balik pilar area parkir yang untunnya cukup lebar.


****


"Kamu yakin mau menyusul Anthony?" widya kembali bertanya untuk kedua kalinya kepada rencana Renata.


"Yakin Tante... Di sini juga semua tidak begitu bersahabat denganku" Renata mendengus kesal.


"Tapi sekarang kamu tahu dia menderita paranoia, itu bukan hal kecil yang dengan mudah kamu kesampingkan"


"Uhf... Tapi dia baik - baik saja saat bersamaku" Sejenak sepasang manik Renata bertemu pandang dengan Widya "Oke... Kadang dia terlalu perfeksionis"


"Yang kamu lihat bukan perfeksionis, tapi salah satu sifat seorang paranoia yang selalu khawatir" Widya berdecih sesaat "Kamu masih muda Re... Bukan saran yang bagus tapi mungkin memulai hidup tanpanya akan lebih cocok denganmu"


"Maksud tante aku di suruh cerai?"


Widya hanya mengangkat kedua bahunya "Kamu itu masih labil, belum bis mempertimbangkan masa depan dengan teratur, aku..."


"Enggak.... Aku nggak mau janda Di usia muda lagi, apa kata teman - temanku, dan orang lainnya. Apalagi Harry... Pasti dia kegirangan karena prasangkanya soal kami benar"

__ADS_1


"Bukankah kebahagiaanmu juga penting Re...?" widya menutup buku konsultasi Renata " Hidup bersama paranoia itu tidak mudah" Widya mengambil jeda sejenak "dia akan terus curiga dan khawatir, dan tidak mungkin dia tidal berburuk sangka padamu secara terus menerus. Dan banyak hal lain yang tentu tidak nyaman kecuali dia menjalani perawatan?"


"Anthony? Tidak mungkin, dia tidak akan mau terlihat bersama psikolog atau psikiater sepertimu"


"Apakah kamu bisa membujuknya?"


Renata mengatupkan rapat sepasang bibirnya "Tante... Membujuk itu ada kemungkinan gagal kan?"


"Ehem..." widya mengangguk mantap.


"Terus bagaimana?"


"Berarti kamu harus terus menghadapi sifat paranoia dia"


"Misalnya... Renata menggigit bibirnya menahan rasa khawatir akan jawaban yang muncul dari mulut widya


" Pertama seperti yang aku sudah sebutkan, Dia akan Selalu curiga bahwa orang lain memiliki motif tersembunyi atau ingin menyakitinya,


Kedua, diq memiliki kesukitan untuk bekerja sama dengan orang lain, di samping itu dia


Sangat sensitif ketika mendapat kritikan. Dan tak jarang mereka juga Sulit untuk memahami masalah mereka sendiri "Widya menarik nafas dalam - dalam.


Widya menggeleng " mereka juga Mudah terpisah atau terisolasi secara sosial, selalu


Ragu terhadap kesetiaan orang lain,


Cepat marah dan cenderung bersifat memusuhi orang lain "


Renata mulai menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, sifat percaya dirinya semua kini sudah mulai berkurang.


" Mungkin kamu sudah melihat beberapa sifatnya yang meruoakan juga gejala Paranoia seperti.... Keras kepala, argumentatif, dan selalu menganggap bahwa dirinya benar


Sulit bersikap santai"


"Aaah.... Aku melihatnya setiap dia bertemu dengan mantan istrinya"


"Well... Aku mengenal baik mantan istrinya itu, aku tidak menyarankan berpisah apabila kamu sudah cukup dewasa seperti dia, karena..."


"Aku juga bisa" suara Renata meninggi..

__ADS_1


"Bukankah ini sudah menunjukkan kamu sulit mengontrol emosimu?"


Remata membuang muka dan mulai kembali bersandar. "Tapi tante.... Aku hanya punya Anthony, setelah keputusanku sebelumnya"


Widya mengangguk.... "Itu hanya perkiraanmu, ayahmu sudah pasti tidak akan keberatan dengan keputusan itu, aku kan membantu menjelaskannya secara perlahan kalau kamu butuh"


"Tante Widya tidak sedang berskongkol dengan Maria bukan? Untuk memisahkanku dengan Anthony"


"Oh my God... Dear... Seorang maria tidak akan pernah memungut masa lalunya, lagi pula dia sudah sangat bahagia dengan pernikahannya yang baru bersama sepupumu"


Renata termenung sesaat, nalurinya membenarkan ucapan psikolognya itu.


"Ok...hmmm" Renata mulai menegakkan punggungnya "Selain saran untuk berpisah, bisakah ada kiat - kiat kalau aku tetap bersamanya?"


Widya menatap sorot mata Renata yang masih belum mengerti akan apa yang akan di hadapinya "Re..."


"Ayolah..kamu yang terbaik di kota ini, kamu pasti tahu yabg terbaik untuk menghadapi penderita paranoia"


"Ok...." widya ahirnya mengalah "pertama cobalah membujuk dia untuk menemui psikolog dulu, mungkin dia akan butuh bantuan psikiater juga karena biasanya paranoia memiliki gangguan kecemasan atau insomnia, apabila keduanya di minimalis mungkin.."


"Ah.... Itu jelas tidak mungkin, Anthony tidak akan mau. Mengakuinya saja dia tidak"


Widya memjamkan matanya dan melepas nafasnya peelahan "Begini.... Mungkin kamu bisa memenuhi bahasa cintanya, seperti menjadi pendengar yang baik, melayaninya dalam artuan menyiapkan semua kebutuhannya sebagai layaknya istri pada umumnya... "


"Aaah..." Renata meringis "Aku saja selalu di layani"


Widya tersenyum beku dan memilih tidak melanjutkan penjelasannya, "Karena itu aku menyarankan kamu menyerah dengan kebersamaanmu bersama Anthony"


"Itu juga tidak mungkin... Gengsi tante!"


Widya hanya menggeleng pelan. "Pikirkanlah saran tante" widya melirik jam dinding di ruangannya. "Tante ada janji dengan pasien tante yang lain,kita atur jadwal ulang kalau ada yang di konsultasikan lagi"


Renata mengangguk, pikirannya mulai melayang kemana - mana.


******


Meski dia berhasil bertahan bersama Anthony hingga sejauh ini, tapi Renata menyadari dia belum melihat keseluruhan tentang Anthony.


Namun apakah mungkin mundur saat ini.

__ADS_1


__ADS_2