Sugar Baby (Paranoia)

Sugar Baby (Paranoia)
Rapat


__ADS_3

"Tidak perlu di bahas lagi, aku anggap semua sebagai pelajaran yang memang harus aku lewati. Setidaknya itu menjadikanku lebih waspada sebagaimana seharusnya" Anthony nampak berwibawa pada masa ini.


Gesture, penampilan, tata bahasa dan bahasanya sangat anggun dan tertata rapi. Sangat berbeda dengan dirinya yang arogan dalam kesehariannya.


'Tunggu....'Renata mengamati dengan seksama untuk beberapa saat.' Cara ini sungguh sangat tidak asing' mirip siapa ya....?


Renata sulit mengingat, tapi yang jelas dia pernah melihat seseorang yang sangat persis dengan cara Anthony memimpin pertemuan seperti ini.


'Rasanya seperti De javu' batinnya dalam hati.


"Kami merasa seperti harimau ompong dengan cara bisnis kita yang baru" protes salah satu pria baya yang nampaknya juga cukup di segani.


"Dulu kami bisa sangat mudah mengangkat senjata dan menguasai hampir semua"


Semua mata nampaknya cukup setuju wajah mereka menatap Anthony secara bersamaan.


"Aku sudah hampir sepuluh tahun pergi, kenapa kalian tidak memulai lagi saja?" jawab Anthony sangat ringan.


Dengungan suara umpatan atau gumaman merebak perlahan dan mereda perlahan. Hingga beberapa saat suasanapun hening.


"Apakah tidak ada jawabannya?"Anthony mnaburkan pandangannya satu persatu pada semua yang hadir. Dia hanya menunggu apabila ada yang akan dikatakan.


" Jelas tidak ada "Anthony mengangguk pelan" Kenyamanan sudah mulai kalian rasakan "Anthony melanjutkan.


" Kita bukan lagi penjahat rendahan, yang hanya menyebar obat terlarang di kalangan remaja putus asa, yang ahirnya tertangkap sebagai sampah dan di eksekusi mati "Anthony mulai berdiri" Kita juga tidak perlu baku tembak ketika transaksi tidak sesuai keinginan, dan nyawa kita terasa murah "

__ADS_1


Anthony berjalan ke arah proyektor besar dan mulai menyalakannya.


" uang mungkin lebih dari segelanya, tapi nyawa kita dan orang yang setia pada kita jauh lebih berharga "


Layar proygektor mulai menampilka diagram." Buatku low risk dan high profit adalah wajib, standard prinsip ekonomi saja" Senyum menawan tercipta singkat di wajah Anthony "Maximum penjara 15 tahun apabila ada bukti yang memadai, tapi selama tidak tertangkap kita bisa mengumpulkan dalam jumlah yang sangat besar"


Wajah Anthony mengarah pada Eduardo, " Dalam sistem baruku setiap orang akan menjadi penting tanpa iri akan posisi yang lain dan posisinya tidak akan mudah di gantikan"


Anthony mengubah tampilan layar "Para pembisnis, profesional, bahkan para politisi akan melindungi kita dengan mudah. Kita bahkan memiliki pengaruh dalam masa pemikihan umum karena dana besar yang mampu kita sumbangkan, terlebih kita juga punya badan amal untuk melindungi image kita"


Sahut menyahut bisikan perlahan mulai bergumam lagi.


"Tapi kami....."


Anthony menggeleng sejenak "Bukan para pemuda dengan otak yang sudah rusak"


"Klub malam, restaurant, transportasi, hotel, dan banyak bisnis lain yang sudaah kita bangun dengan uang hasil ini. Meski sedikit tercampur dengan pekerjaan kasar kita menjual barang - barang ilegal serta haram" Anthony menegaskan pencapaian yang telah dibuat "dan lebih hebatnya lagi kita juga dilindungi bukan oleh preman tapi beberapa pejabat yang kita bantu dalam pemilihan umum"


Prok.. Prok..prolk...sebuah tepuk tangan tiba tiba muncul.


"Ini bukan caramu untuk membuat kami lupa soal pembagian isi brangkas rahasia ayahmu bukan?" Seru Eduardo yang baru saja mengahiri tepukan tangannya.


"Ya... Itu benar... Kamu memang pembisnis hebat dan menghasilkan banyak keuntungan, tapi iti tidak melupakan hak kami yang ada di brangkas ayahmu" Sahut pria paru baya yang lain.


Anthony menatap tuan Rosaria dan Madame Angela, selaki orang tuanya untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Kalian hanya mau hasil tanpa usaha... Jelas tidak akan singkat menemukannya" Anthony mendengus kesal.


"Petunjuk terahir adalah ada pada karya seni The persistence la memoria karya salvador Dali" jelas Anthony, "Menurut media lukisan aslinya terpajang di musium Modern Art di New york City"


Anthony hanya menunduk, "Tapi itu hanya tiruan yang sangat professional" Museum itu memang telah menerima karya asli itu dari sumbangan seeeorang secara anonim, tapi yang jelas mereka tidak memajang yang asli karena pasti akan mudah di curi " Sekali lagi Anthony menyebar pandang pada mereka yang hadir dengan senyum miring yang menahan rasa jengkel.


" Hanya aku yang berusaha mencarinya, dan anak buah beberapa dari kalian hanya mengikutiku dengan senjata untuk siap membunuhku kapanpun jika aku menemukannya, bukan begitu?" Antjony berbalik dan mendongakkan wajahnya. Seolah menahan kepedihan yang sngat.


Baru kali ini Renata mulai merasa iba, lelakinyang garang dan kasar serta terkesan seenaknya. Rupanya karena kehidupannya yang tidak mudah. Meski dia memiliki ketampanan, kepandaian dan kecerdasan mungkin juga kekuasaan.


" Dan sebagai pemimpin yang kalian pilih dengan paksa, aku berhasil membangun kerajaan bisnis bernilai fantastis untuk kalian nikmati, bahkan aku juga tidak berhenti untuk menyelesaikan masalah brangkas sialan itu. Tidakkah kalian bisa menghargaiku?" kali ini suara Anthony mulai meledak. Ada amarah yang rupanya tidak bisa dia tahan.


Suasanapun ahirnya hening, sunyi bahkan hampir seperti makam di malam hari.


" Karena itu sudahi menggunakan barang haram itu agar otak kalian bisa berjalan lebih lancar dari sekedar menuntut dan mengharap posisiku" Suara Antnony mulai sedikit merendah " Kalau ada yang menginginkan posisiku, mintalah pada para tetua yang mengangkatku aku akan dengan senang hati memberikannya"


Antnony sepertinya tidak bisa menahan emosi, dia mulai berfikir untuk tidak kembali kepada kursinya dan bermaksud segera meninggalkan ruangan itu. Tapi...


"Bukankah Ayahmu melakukan pembuatan sandi dengan sensor kornea matamu. Maka seharusnya kamu pernah mampir ke brangkas itu bukan"Sekali lagi Eduardo mengutarakan pendapat yang memprovokasi.


" Kau tahu...Eduardo bahwa mungkin itu hanya gossip yang di ciptakan agar nyawaku di buru. Karena yang aku tahu aku selalu di dalam panti asuhanku bergembira bersama teman - temanku tanpa pernah melihat salah satu wajah dari kalian menjengukku" Balas Anthony yang kali ini sudah berada di ambang pintu.


Renata masih tercengang dengan semua, dan lebih tercengang seolah Anthony lupa bahwa dia membawanya masuk.


Meski canggung Renatapun segera berdiri dan melempar senyum ramah, berharap tidak ada yang menyanderanya karena sikap Anthony barusan. Langkahnyapun segera bergegas menyusul Anthony dengan mulut yang terua berdoa agar setidaknya dia berhasil keluar ruangan ini dengan selamat

__ADS_1


__ADS_2