
Daniel yang baru keluar dari kamarnya hanya mendengus mendapati suara sahabatnya yang sedang meneguk rasa haus akan wanitanya dari dalam kamar mandi ruang tengahnya.
"Well.. She is still yours.." desisnya seiring mulai menekan beberapa angka Pada layar ponselnya.
***''
Dengan Ragu Sophie mengetujk pintu apartments Daniel. Ini bukan pertama kali dia datang pada tengah Malam.
Sebagai sekertaris pribadi Daniel dia harus siap duapuluh empat jam apabila lelaki itu membutuhkannya. Baik untuk hal penting ataupun sepele.
"Masuk..." ucap Daniel. Dari mesin penjawab.
Sophie segera menekan sandhy rumah Daniel yang memang sudah di hafalnya. Mengingat banyak hal darurat yang sering di kerjakannya untuk bosnya tersebut.
Daniel memutarvbola matanya ketika menyambut Sophie yang masuj dengan wajah heran karena suara gaduh yang entah dari mana.
Daniel mengarahkan jempolnya pada arah kamar mandi ruang tengah dengan expresi yang nampak jengah.
"Maaf... Mereka memang tidak tahu tempat dan waktu" Candanya "Kamu membawa yang saya minta"
"Ah iya... Shopie segera mengangguk dan menunjukkan tas mengkilat berbahan kulit yang di bawanya.
Daniel mengangguk mantap," kamu tidak keberatan dengan gangguan itu? "
Sophie tak dapat menahan senyum kecilnya. Tentu saja dia terganggu. Bagaimana tidak, mengingat sebenarnya dia juga memendam rasa pada pria tampan yang sudah menjadi bosnya selama lima tahun terahir.
Daniel turut tersenyum tipis, dan segera menginstruksikan sekertaris pribadinya itu untuk beranjak ke lantai atas menuju ruang kerjanya.
Tanpa ekspresi Shopiepun menuruti pinta bosnya tanpa banyak bertanya. Begitulah keunggulannya, dan hal itulah yang membuat sophie diterima menjadi sekertaris Daniel. Tidak banyak ekpresi dan sedikit bicara atau bertanya, serta yang pasti... Dia sangat dapat dipercaya.
Sophie segera menyerahkan beberpa berkas yang di bawanya
"Sudah termasuk milik Tuan Kildman?"
"Benar, beliau setuju dengan perubahannya Tidak ada masalah "
Daniel menganguk, tangannya segera memeriksa beberapa dokumen yang lain lebih dulu. "Segala administrasi untuk jalur transportasi baru sudah kamu siapkan?"
__ADS_1
Sophie mengangguk yakin, "Saya juga sudah membawanya seperti pinta tuan Daniel"
"Bagus..!!"
Daniel meneruskan memeriksa dokumen yang teetumpuk rapi.
"Ini juga untuk daftar pesanan baru" Sophie sskali lagi meyodorkan map berbahan kulit. "Serta undangan untuk gallery seni"
"Untuk urusan di pelabuhan di kamboja kita menunggu berapa lama lagi untuk process penyelesaiannya? "
"peekiraan, hari ke empat minggu depan"
"Pastikan itu tepat waktu, terlalu banyak hal yang menunggu.... Aku tidak menyukai pekerjaan yang menumpuk"
Sejenak Daniel menarik nafas dalam - dalam. Dan secera perlahan menyandarakan dagunya pada sepasang tangannya yang menggenggam di atas meja.
"Pesanan Tuan Kildman sebenarnya sedang berada di lantai bawah" Daniel mengerucutkan bibirnya sejenak, seakan sedang memperkecil sudut pemikirannya "Tapi aku sedang berebut dengan pasangannya?"
Sepasang mata Daniel menatap sophie yang selalu menatapnya beku.
"Kamu punya ide?" tanyanya iseng. Mengingat sophie biasanya hanya mematuhi perintah semata.
Daniel mengangguk dengan senyim tipisnya.
"Jadi... Berarti dia sudah bersedia, andai anda berhasil membawanya hingga ke sini"
"Kamu tidak salah... Tapi dia bukan barang, hatinya bisa berubah kapanpun"
"Jadi anda belum sempat membuat perjanjian tertulis?"
Hah..! Daniel mendengus kasar "Bedebah itu sudah menariknya untuk bercinta"
Aaah... Sophie mulai faham. "Saya rasa kita perlu segera menyiapkan kontraknya sesuai dengan kesepakatan baru kita dengan tuan kildman"
Daniel tersenyum kering "Sophie.. Kalau cuma hanya minta dy tanda tangan, aku tidak akan tanya nasehatmu, Apakah kamu tidak pernah pacaran? Mubgkin kamu bisa memberiku sedikit ide, untuk Renata agar berpaling dari Anthony?"
"I.. Tu..." Sophie memutar otaknya sejenak. Tapi dia memang tidak memiliki pengalaman apapun untik hal seperti itu.
__ADS_1
"Sudahlah.. Lupakan... Rupanya kamu memang bekerja keras untukku"
"Apakah anda memyukai nona Renata?" tanya Sophie datar. Meski pertanyaan itu sebenarnya enggan di sampaikannya. Namun mengingat bahwa mustahil dia bisa memiliki Daniel. Maka berdamai dengan kenyataan adalah jalan yang terbaik
"Hmmm.... Mungkin" Daniel mengankat kedua bahunya seiring dengan senyumnya yang menawan.
*****
"Sudah puas bermain?" sapa Daniel menyambut Antonio dan renata yang fupanya sudah duduk manis di area ruang tengah.
Keduanya hanya diam dan memilihtak menjawab.
"Well... Seharusnya sudah" Daniel menghempaskan tubuhbya ke sofa bergabung dengan keduanya. "Sophie... Kamu bisa antar tuan Anthony ke basement, pastikan dia mengendarai mobil yang benar"
"Kamu mengusirku?" Anthony mendesis tajam.
" hanya srdikit efisiensi waktu" Jawab Daniel Ringan.
"Silahkan tuan Anthony" Sophie sudah berdiri di pintu apartments yg sudah dibukanya.
Anthony menatap sekilas pada sophie yang berdiri dengan wajah datarnya.
"Seharusnya kamu ikut dengan suaminu Re.."
"Ah a.... Benar, itu hanya seharusnya. Tapi semuanya tidak harus sekarang" Daniel meletakkan telapak tangannya di meja dengan map hitam dan pulpen menyertainya. "Kamu bisa kembali kapan saja, setelah mendapatkan semua identitasmu secara lengkap dan legal pastinya" Daniel menyodorkan kedua benda itu pada Renata yang sepertinya enggan bicara, namun seakan kedua matanya sedang sibuk pada beberapa hal.
"Bukankah kesempatan baik adalah sekarang?" Anthony menepis tangan Daniel.
"Ckck... Aku tidak pernah ingkar" Daniel memepertahankan lengannya "Kamu bisa secara legal apply spouse Visa, dengan lebih banyak hak yang kamu dapat sebagai pengunjung saat itu kalian bisa bercengkrama sepuasnya... Tapi selesaikan dulu bagianku"
"Kamu tidak cemburu?"
Daniel tertegun sejenak sebelum tawanya berderai.
"Jangan khawatir aku akan merebutmu dari tangan bedebah ini, seperti harapanmu"
"Prak...!! "Jemari Renata mendarat manis di pipi Daniel" Aku tidak suka menunggu... "
__ADS_1
" Jadi...?? "Antonio dan Daniel menyahut bersamaan.