
Hei.... Apakah kamu memberi kesempatan untuk percaya padaku. Bukankah aku sudah memberimu penawaran dan kamu menolak?" Renata menggerakkan peegelangannya yang baru saja bebas.
Vittorio hanya mendengus kesal. Semua kata Renata memang benar.
"Gadis sepertiku tidak mungki bisa di rayu hanya dalam semalam, yang benar saja!!" Renata mengomel denga langkah yang psti mengikuti kemana Daniel dan Magdalena menghilang.
*****
Sepasang mata Anthony yang tajam berkikatvamarah segera tertuju pada sosok Renata yang datang paling belakang di ruangan tengah rumah keluarga Rodriguez.
Satu sudut bibirnya terangkat penuh.
"Apakah kamu masih akan memungutnya?" ledek Vittorio yang baru saja masuk. Tanpa Ragu dia menepuk pundak Renata yang sudah mulai terlihat lelah.
Antonio hanya diam sambil memutar gelas wine Di tangannya secara perlahan. "Rasa Wine keluargamu tidak seenak dulu, aku berkunjung berharap menemukan rasa yang mirip dengan yang aku sesap waktu kecil"
Magdalena tersenyum simpul "Semua hal sangat mudah kita buat kalau kita kerja sama bukan? Dan saat ini kita semua sudah berkumpul. Jadi maru kita buat keaepakatan baru"
"Kesepakatan?" Renata menyela "Aku datang ke sini tanpa syarat, kenapa aku harus pulang dengan syarat. Oh.. Ya... Hmmm..." Renata berfikir sejenak "Kalian takut aku lapor polisi..?" sepasang matabindah Renata menatap mereka satu persatu.
"tenang akubakan membujuk Anthony untuk tidam melakukannya. Aku hanya butuh sedikit spa dan berendam air hangat.. Dan..." Renata melempar maniknya pada Daniel "Aku rasa kita harus mengobati paha Daniel dengan segera"
Dengusan langsung terdengar berhantian dari semua yang hadir.
"Sungguhkah dia istrimu Antonio?"
Anthony berpaling sejenak dan menghabiskan sisa winenya "Tentu... Kita kadang ingin berganti selera"
"Lelaki memandang hal yang berbeda, tidak semua seperti Ayah" Vittorio menyela komentar ibunya.
Magdalena nampak sedikitvkesal dan ingin sedikit berdebat. Namun seorang pegawainya datang dan membisikkan sesuatu padanya. Dahinya segera berkerut dan menatap Anthony sejenak. Namun ahirnya dia mengangguk.
"Kita kedatangan tamu tambahan" Nada suara Magdalena tidak seperti orang yang memberi tahu tapi lebih ke bertanya.
Semuanya hanya diam tidak ada yang menjawab.
__ADS_1
Hingga sosok yang di maksud telah tiba. Dengan ramah dan senyim penuh wibawa Ayah angkat Anthony muncul.
"Aku mendengar anakku yang terbaik sedang mengunjungimu bersama menantuku" Ucapnya saat menggeaer salah satu kursi kosong. "Padahal aku bermaksud mengenalkan dengan sdikit pesta kecil, hanya saja belum sempat. Mengingat Anthonio harus melakukan banyak hal.."
Magdalena hanya mengangguk dan tersenyum seadanya. "Aku mengerti.." tanggapnya dengan dagu yang mulai sedikit terangkat seiring kekecewaannya yang harus membuat ulang rencana untuk membuka brankas rahasia, dengan adanya Ayah angkat Anthony.
"Apakah kamu baik - baik saja Daniel?" tanya Ayah angkat Anthony.
"Seperti biasa.. Hanya sedikit goresan"
"Sedikit..?" Renata memekik otomatis "Vittorio memhinjak lukamu yang sedikit itu, tentu saja harusnya tidak sedikit lagi"
"Ehem...!!" Anthony membuat batuk kecil untuk menghentikan imelan Renata. Wanita itu sunghuh tidak mengerti dia sedang dimana dan dengan siapa.
Danielpun hanya memasang senyum beku.
"Kamu mengenal Daniel?"
"Tentu saja, orang seperti kita pasti pernah menghunakan jasanya meski sekali bukan?"
Magdalena memandang Daniel dengan tajam "Semoga pesanan kita tidak sama" gumamnya.
Seisi ruangan hanya mengangguk dengan tanggapan Daniel. Kecuali Anthony yang kini sibuk menatap Renata. Ada amarah dan curiga yang sedang mendidih di hatinya.
"Hidangan sudah siap, lebih baik kita makan terlebih dahulu" Ujar Magdalena yang menyambut hidangan Three Duck king untuk di sajikan Di tengah meja.
"Kamu masih membawa peralatan makanmu sendiri Antonio?" tanya Magdalena yang melihat jemari Anthony mulai mengeluarkan peralatan perak portable dari saku jaketnya. "Kamu belym berubah"
Sebenarnya ini memang bukan hal yang perlu di pertanyakan lagi dan semua pasti sudah tahu jawabannya. Meski hanya mendengarnya dari issue saja.
*****
Antonio remaja.
Matanya berkunang dan seluruh badannya menadadak ringan seiring dengan panas yang menjalar dari rongga perutnya.
__ADS_1
PRAK... sebuah tamparan keras samar - samar terdengar mendarat di pipi Eduardo.
" Ini pasti kamu!!!" Suara ayah angkatnya menggema hingga ke sudut ruangan. "Kita butuh dia hidup bodoh!!" sebuah tamparan mendarat kedua kali pada sisi pipi yang berbeda.
Pandangan Antonio mulai kabur, "Ayah apa maksudnya?" Ingin sekali dia bertanya apa maksud bahwa mereka membutuhkannya hidup? Bukankah dia adalah anggota keluarga yang nyawanya juga harus di lindungi dengan cinta dan bukan hanya di butuhkan tapi juga di inginkan?
Rasa panas pada tubuh Anthony meningkat dengan cepat. Rasanya seperti membakar hingga ke ulu hati. Anthony hanya bisa mengerang hingga ahirnya dia hilang kesadaran.
****
" Seperti kamu tahu, kematian tidaklah buruk. Tapi betusaha hidup ketika nyawamu sudah hampir melayang itu lebih mneyakitkan" Anthony mulai memejamkan matanya dan membukanya perlahan "Terutama ketika kamu mengetahui kebenarannya dalam waktu bersamaan"
****
Antonio muda...
Sebagian dari diri Anthony bersyukur ketika dia membuka mata dan mendapati dirinya berada pada ruangan serba putih.
"Apakah aku sudah mati?" Senyim lega terukir di bibirnya. Entah kenapa rasanya lebih baik mati saat itu.
Namun...
Sayup - sayup mulai terdengar perdebatan kecil atara Eduardo dan ibu angkatnya Angela.
"Neraka tidak akan senyaman ini" Batinnya dengan kembali menutup mata.
******
Antonio... Mengiris tipis daging turkey yang di sajikan Chef rumah magdalena.
"Jadi..bagaimana rasanya menyentuh milikku Vittorio?" sepasang mata Anthony menatap bergantian pada Vittorio dan Renata. "Kamu biasanya tidak seberani ini... Apa ada yang memprovokasimu?"
Suasana hening sesaat, gerakan perlatan makan dari masing - masing yang hadirpun juga terhenti.
"Dia hanya anak muda.." Bela Magdalena cepat seiring nafasnya yang tertahan.
__ADS_1
"Aku baru tahu kalau usia pertengahan 30an masih bisa di anggap muda" Gumam Anthony lagi dengan senyum sedikit mengejek "Bukankah dia lahir dan besar Di tengah klan kalian, hatusnya sudah faham dengan benar"
Magdalena menggeleng samar, rasa kecewa pada putranya yang sangat terburu - buru tak dapat dia tahan. Seharusnya putranya bisa berbagi informasi dengannya terlebih dahulu, tentang rencana memaksa Anthony lewat Renata. Kalau seperti sekarang urusannya menjadi tidak sederhana. Terutama dengan ayah Anthony yang rupanya juga ikut turun tangan.