
"Aku membayangkan banyak hal ketika aku memilih tetap mengikutimu saat kita bertemu di Rome" Renata menyisir rambut panjangnya dan menatanya rapi pada sisi kanan dan kiri.
" Soal uang itu?"
"Aku bukan dari kalangan miskin yang gila akan uang, jangan menghinakan terlalu jelas" Renata memutar tubuhnya dan segera menghadap ke arah Antonio yang sedang mengamatinya.
"Aku ingin peran utama"
"Peran utama itu harus kamu ciptakan sendiri Re..bukan karena aku"
********
Antonio muda..
Sepasang mata Anthony terbuka rasa pening dan sakit telah hilang. Entah berapa lama dia telah berada dibawah pengaruh obat terlarang.
Sebuah koper berwarna silver segera mendarat dipangkuannya.
"Kita sudah ada kesepakatan yang bagus, tynjukkan kalau kamu benar - benar layak untuk posisi pewaris utama" Eduardo yang berada di belakang kemudi mobil memberi perintah dengan nada mengejek. Seiring tawa kawan setia yang duduk di sampingnya.
Jemari Anthony segera membuka kunci koper itu "ini..." satu koper penuh obat terlarang memenuhi ruang koper itu. Anthony menelan ludahnya bulat - bulat.
Seumur hidupnya dia tidak pernah terfikir untuk melakukan tindakan criminal, bahkan sekelas menyetir dengan kecepatan di atas rata - rata saja tidak. Tapi kali ini, dia harus mengirus transaksi obat terlarang yang bukan sedikit.
"Hukumannya pasti tidak ringan" gumam Anthony dengan polosnya.
"Aku tidak menyuruhmu menyerahkan diri pada polisi, kamu hanya cukup menukarnya dengan uang dari lelaki di dalam sana" suara Eduardo cukup meninggi.
"atau aku tidak akan menyelamatkanmu lagi ketika kamu membutuhkan ini" jemari Eduardo mengangkat tinggi - tinggi sebuah kanyong plastic berisi satu botol ampul dan jarum suntik. "Aku akan membiarkanmu menyuntikkannya sendiri"
Antonio tidak punya pilihan, Eduardo telah berhasil membuatnya menjadi budak barang haram itu. Sejak dia datang, Secara perlahan hampir tiap malam eduardo mengendap masuk kekamarnya dan menyuntikkan benda haram itu ke tubuhnya hingga ahirnya dia berahir seperti sekarang. Hanya menjadi boneka Eduardo.
Tanpa berkata lebih, Antonio hanya sanggup menuruti. Dia berharap hari itu dia mati saja, sehingga dia tidak perlu menderita.
" yang mana?" Tanya Anthony pada seorang bartender yang wajahnya sudah cukup akrab.
__ADS_1
"Di dekat jendela pemiliknya, dan satu pria di belakangnya, dan satu di pintu keluar , mungkin ada yang lain"
Anthony hanya mengangguk faham " Beri aku tequila"
"Kamu...." bartender itu ragu, dia tahu Anthony baru saja mengkosumsi barang haram beberapa jam yang lalu.
"Bukan untuk aku minum hanya..."
"ok..."
Dalam dua menit segelas tequila telah dalam genggamannya. Langkahnya sedikit berat menghadapi pria baya yang nampak masih cukup kekar yang akan di hadapinya.
"Kamu bukan remaja yang biasanya"
"Aku menggantikannya kali ini... Kamu bisa mengkonfirmasinya" jawab Anthony polos.
Lelaki itu termenung sesaat dan kemudian memandang ke arah koper yang berada di samping Anthony.
"Aku punya penawaran baru... Apakah kamu bisa memberi keputusan"
"Orang dari klanmu rata - rata jenius dari usia yang sangat belia, kenapa aku berfikir bahwa kamu itu bodoh?" lelaki itu tertawa terbahak - bahak. "Aku tidak suka lelucon.
Suara tembakan segera terdengar di iringi bunyi dentingan gelas yang pecah Di area bar. Anthony hanya terpaku dengan mata yang susah terpejam. Dan tiba - tiba.
Tubuh bartender itu segera berada di hadapanya dengan kedua mata yang terbelalak sempurna karena menahan rasa sakit serangan peluru di punggungnya.
Tangis segera pecah dari mulut Anthony, dia tidak pernah menyangka akan kejadian seperti inj terjadi dalam hidupnya.
"Jangan Mati...kamu harus hidup" itu adalah kata - kata terahir pemuda di hadapannya. Anthony hanya mengangguk dan membekap mukutnya sendiri.
Dengan cekatan dia mengambil darah yang mengalir dari tubuh sang bartender dan mengisapkannya di bagian dada dan perutnya. Dengan cepat dia menutup mata dan menahan nafasnya. Hanya ini satu - satunya cara untuk bertahan.
Suara tembakan sudah berlalu, suasana menjadi hening namun mencekam. Entah berapa mayat. Anthony tak berani melihat. Dia hanya fokus pada perannya yang harus pura - pura mati.
Beberapa saat kemudian beberapa pasang kaki mulai datang, mereka berjalan cukup pelan dan berhenti beberapa kali. Hingga ahirnya salah satu dari mereka berhenti di sampingnya.
__ADS_1
"Kenapa si gendut ini menimpanya?" gerutu sosok itu yang bisa di pastikan adalah Suara Eduardo.
Dengusan eduardo terasa jelas mengandung unsur kecewa.
"Kita bakar saja tempat ini, dan dia pasti mati" saran salah satu pria yang lain
Suasana hening sejenak.
"Bukan ide buruk" meski tidak dapat melihat anthony bisa merasakan atmosphere kesenangan dari kalimat persersetujuan Eduardo. "Good bye..." Eduardo menjatuhkan kantung plastik yang di janjikannya ke wajah Anthony. Meski sedikit terkejut, Anthony berusaha untuk tetap menahan nafasnya. Hingga kaki - kaki itu menghilang.
Jilatan Api segera menyala dari arah pintu masuk dan menjalar dengan cepat pada jejak - jejak minuman alkohol yang tersirat.
Anthony dengan segera bangun dan sigap berusaha menyingkap tubuh sang bartender dari atas tubuhnya. Perlahan sambil menunduk anthony bergerak menuju pintu belakang. Meski tidak mudah. Ahirnya dia berhasil keluar.
******
"Menjadi peran utama, tidak selalu menerima hal yang menyenagkan tapi juga menyedihkan" bisiknya pada telinga Renata.
"Kamu perlu lebih banyak menonton film hingga kamu sadar seberapa menyedihkannya menjadi seorang peran utama, bahkan kadang mereka harus berdamai dengan tokoh yang paling mereka benci hanya untuk sedikit tenang" Senyum sedih kembali terukir seiring jemari Anthony yang membenarkan gaun Renata.
"Tapi... Bisakah kamu memberiku ponsel?"
"Kamu sudah membelinya bukan?"
Renata mengangguk, "Tapi tidak dengan Sim Card"
"Itu salahmu, aku hanya memberi kebebasan sekali saja, dan kamu menyia - nyiakannya" Anthony segera menggandeng Renata.
"Apakah kita bekerja lagi?"
"Kali ini kita akan melihat pekerjaan Eduardo" jawab Anthony singkat
****
Penyebab lain Paranoia adalah
__ADS_1
Penggunaan narkoba, karena zat ini mempengaruhi produksi hormon dalam otak. Sehingga kinerja otak menjadi kurang normal. Dan bisa mengakibatkan paranoia dalam jangka waktu tertentu.