Sugar Baby (Paranoia)

Sugar Baby (Paranoia)
Tak terduga


__ADS_3

" Dan siapa wanita sialan itu...? "


Brakkk.. Renata segera keluar dari bilik dan memandangi bayangan tubuhnya sesaat.


Apakah sakit paranoia bisa mempengaruhi otak Anthony hingga level yang tak masuk akal begini?


Huh... Renata lebih tidak tertarik lagi untuk melanjutkan pekerjaan membosankan di meja kerjanya.


Urusan psikogi, bisa didalami nanti. Tapi urusan wanita yang paling Anthony suka. Dia ingin melihatnya sekarang. Secantik apa dia hingga Anthony tidak sungkan menunjukkan cintanya pada semua orang. Tidak sama seperti sikap Anthony padanya yang lebih mirip dengan kucing dan anjing.


"Seperti apa sih standardnya? " Renata bermonolog sendiri. "Memang Anthony tampan Tapi dia juga cukup cantik untuk bisa menarik minat pria manapun" Kali ini dia memansangi dirinya sendiri di pantulan dunding lift. Rambut panjang dan sehat, kulit cerah dan merona. Mata dan bibir semua dalam standard indah. Tubuhnya juga proporsional, bahkan cenderung body goal untuk sebagian besar wanita.


Meski Anthony sudah tidak perlu di rayu dengan keras seperti dulu lagi. Tapi renata selalu tak habis pikir ada lelaki yang menolaknya meski dia sudah menyerahkan segalanya.


"Tok... Tok...."


Renata kesukitan mengetuk dengan tumpukan berkas pekerjaan di tangannya.


"Menjadi pegawai itu menyebalkan, biasanya wika yang melakukannya untukku" Gerutunya sambil memungut berkas yang berjatuhan, karena kecerobohannya mengetuk pintu tadi.


"Karena itu seharusnya kamu lebih menghargai Wika" suara Anthony sudah menggema.


Dengan wajah kosong Renata hanya melongo menatap sisi Anthony dari bawah. Biasanya sisi ini tidak begitu menarik untuk orang kebanyakan, tapi tidak dengan Anthony meski rambutnya tertata acak - acakan.


Renata segera menyadarkan dirinya dari kekaguman hatinya. Dengan cepat dia berdiri, meski menyisakan beberapa berkas yang masih tercecer dilantai.


"Bukan urusanmu, wika tidak pernah keberatan dan dia menikmati gaji besar yang aku berikan" Kali ini sepasang manik Renata mencoba menerka wajah beku Anthony yang nampak tidak nyaman.


"Kamu menyembunyikan sesuatu?"


Anthony hanya mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Ada seseorang di dalam?" Renata bertanya sekali lagi sambil menciba melonggokkan kepalanya kedalam ruangan. Namun Anthony dengan sigap mencegah.


"Kamu cemburu?"


Renata menarik tubuhnya ketempat semula, "itu wajar... Aku istrimu"


"Jadi seharusnya kamu mengenalku" Anthony menyandarkan tubuhnya pada sisi pintu denga kedua tangan terlipat di dadanya.


"Aku tidak suka menebak" rasa penasaran Renata yang kini sudahtumbuh menjadi dua kali lipat segera membuatnya menerobos masuk tanpa peduli pada berkas yang masih tertinggal di lantai.


Dan....


"Daniel.....??" pekik Renata hampir tak percaya.


Renata mulai menatap kedua pria itu secara bergantian. Keduanya sepertinya telah menghabiskan energy untuk sesuatu hal yang Renata tak ingin menerkanya . Baik Daniel atau Anthony. Sama sekalian tidak dalam keadaan Rapi seperti biasa.


"Ka... Ka.. Lian.... ??"


"Pertemanan kami memang tidak sperti umumnya" Lanjut Anthony yang masih tanpa Expresi membawa berkas itu kemejanya.


"Daniel selalu bersikap lancang padaku..."


"Aku.....??? Common...aku susah sangat mencoba memahamimu dengan semua sisi gelapmu. Tapi... Aku hanya..."


Anthony mengangkat satu tangannya "Cukup... Tapi itu tetap tidak sopan?"


"Kamu tinggal bilang tidak suka... Aku akan mencoba mentolerir dan menyesuaikan situasinya"


Anthony mendengus dan mulaibberkacak pinggang. "Kamu bilang ini hanya kunjungan biasa dengan sedikit penawaran menarik "


"Bukankah memang menarik???"

__ADS_1


"Mungkin dulu... Tapi tidak sekarang"


Wajah renata mulai terasa panas, apakah sungguh yang di lihatnya ini, suaminya bahkan bukan hanya masih memendam perasaan kepada perempuan lain tapi juga lelaki lain.


"Kamu hanya terlalu Tua Dan..." Lirih Renata dengan suara gergetar. Jemarinya meremat kertas berkas yang di boppongnya. "Dan akupun akan begitu suatu saat, karena akupun akan menua.."


Daniel dan Anthony serempak memandang Renata dengan heran.


Tanpa bisa ditahan isak dan air mata segera mengalir tipis di pipi halus Renata.


"Cukup...!!!" Anthony bergegas mendekat dan mengambil berkas di tangan Renata untuk menyelamatkannya dari tetasan Air mata.


Tangis Renatapun tak dapat di tahan. "Bahkan kamu lebih peduli pada berkas itu daripada aku?"


"Pertanyaan macam apa itu?" Anthony menata berkas itu dan memasukkannya ke laci, dia tahu dia tidak akan bisa mengerkakannya dengan suasana penuh ketidak jelasan seperti sekarang. "Kamu tidak akan mati hanya karena menangis, tapi berkas ini akan luntur dwngan air matamu"


Kali ini Daniel segera mendekat dwngan handscraft di tangannya. Renata segera meraihnya dengan kasar.


"Aku bisa sendiri..." Renata segera mengusap air matanya dan hidungnya sekaligus. "Lanjutkan ...aku tidak akan mengganggu"


Renata segera berbalik, sejenak dia melupakan kenapa dia harus repot - repot naik ke lantai tertinggi dan sepi ini.


"Lagi pula kamu tidak akan pernah memilikinya, berikan saja lukisan itu... Uangnya cukup besar"


"Jangan seenaknya bicara, dari awal aku tidak syka memperdagangkan milikku"


Lukisan... Yup.. Renata yang sudah diambang pintu, segera memutar tubuhnya dan menebar lanadangannya pada ruangan Anthony.


Mana lukisannya..???


****

__ADS_1


__ADS_2