
"Hei..!! Daniel segera menengahi." Urusan kalian berdua, itu nanti... Aku butuh lokasi lukisan Salvador Darli "
" Diam...!! "Renata memekik.
Dia sedang Di tengah situasi yang sulit di ungkapkan. Antara jawaban yang hanya dugaan saja, serta saat yang tepat mengintrograsi Anthony saat ini. Karena andai ini dibahas hanya berdua hasilnya pasti tidak akan jelas.
" Jadi sejauh mana hubungan kalian hingga saat ini?" Renata memilih menanyakan setidaknya satu tentang Anthony dan Rose.
"Aku selalu bersamamu, kecurigaan dan prasangkamu itu tidak perlu" Jawab Anthony dingin. Kekinya kembali menuju kursi kerjanya dan mencoba untuk meraih kembali lembaran kerjanya.
"Brak...!!!" Tapi Tangan renata segera mencegah tanpa ampun
"Setelah menikah apakah kalian masih sama?" Suara Renata mulai bergetar "Jadi Aku ini apa?" kali ini isak tangis mulai muncul.
Anthony bukannya peduli, dia sibuk menggeser dokumen di bawah jemari Renata yang lunglai.
"Bukankah semua sudah jelas"
"Jadi kamu akan berubah pikiran dan meninggalkan Anthony?" Daniel segera mengambil kesempatan langka di antara mereka.
Renata masih menatap nanar pada Anthony yang seakan tidak peduli.
Tanpa bergikir dia menarik kepala Daniel mendekat dan memanggutnya tanpa permisi.
" Mungkin...!! "Jawabnya usai meninggalkan detak jantung yang mendidih di antara dua pria itu.
" Plak.. "Tamparan segera mendarat di pipi Renata." Dasar murahan "
__ADS_1
" Bukankah Jodoh itu serupa? Kamu juga tidak lebih mahal daripada aku. Bahkan mungkin akunlebih baik "
Daniel masih tercengang, Renata menjadi sosok lebih menarik di matanya. Bukan hanya karena ciuman balas dendam yang mendarat padanya. Tapi keberaniannya mendebat bahkan membalas Anthony tanpa ragu. Atau lebih tepat tanpa berfikir.
" Aku rasa wanita seperti Renata lebih cocok untukmu" Desisnya pada Anthony yangasih memandang punggung Renata yang segera menghilang di balik daun pintu.
"Diam!!" Pekiknya. Dengan jemari segera mencengkeram kerah kemeja Daniel "Kamu menyukainya?"
"Hei.... Relax..!!"Daniel mencoba mengendorkan cengkeraman Anthony" Aku lelaki normal, wanita cantik tidak akan pernah aku tolak dan aku tidak akan pernah tertarik padamu lebih daribyang kita punya saat ini"
Anthony mendengus kesal dan mulai melonggarkan jemarinya. Tapi...
"Jangan sentuh dia.." kali ini jemarinya kembali mengencang.
"Kecuali dia datang padaku, wanita seperti dia tidak terlalu banyak di dunia ini" jawab Daniel lebih santai. Tapi dia sedang lebih serius.
Anthony melepaskan cengkeramannya dengan menggertakkan giginya tanpa segan dia menendang sisi meja dengan cukup keras. Baru kali ini dia harus bersaing untuk urusan wanita.
Anthony tersenyum miring, "Dasar Renata..!!" umpatnya "Dia selalu cerdik mendapatkan yang dia mau"
" Damn!!!" Daniel melirik lukisan Rose yang masih menggantung dengan pose seakan menatapnya.
"hmmm.... Pilih salah satu, aku mengejar Istrimu atau aku membawa lukisan cinta pertamamu? Aku tidak suka kerja tanpa hasil" Daniel mengajukan pilihan yang sama sekali tidak di harapkan.
"A...pa??"
Daniel mengambil langkah mendekat dan menjulurkan tangannya pada lukisan itu "I am Happy with this at the moment, tapi aku akan merelakannya dengan makan malam bersama Renata sekaligus jawaban lukisan Salvador Darli berada"
__ADS_1
"Aku tidak menginginkan dua - duanya" Anthony menepis tangan Daniel yang tentu saja di lawan dengan seimbang.
Sejenak pertempuran di ruang terbatas itu terjadi lagi, dan lebih seru dari pada sebelum Renata datang.
"Aku tidak banyak waktu mengejar istrimu, sebelum dia masuk kekandang ayah angkatmu"
"Bedebah...! Kamu selalu mengejar milikku"
"Sudah takdirmu memiliki apa yang orang lain inginkan"
Nafas keduanya terengah dengan kepala Antjony yang sedangbterjepit di antara kaki Daniel dan Kaki Anthony sedang bertengger di pangkal leher Daniel.
"Kalau kamu memilih Renata, beri dia peluang untuk menghapus Rose yang memilih Peter, masa lalu tidak akan lebih indah dari pada masa depan"
Anthony mengencangkan tendangan kakinya yang tertahan, namun seiring denga Daniel yang lebih mengencangkan himpitan kakinya di leher Anthony.
"Seriously.... Kamu sudah menyia - nyiakan keluargamu sebelumnya, jangan buang kesempatan mendapatkan keluarga yang baru. Atau aku yang akan mengambilnya dan kamu akan lebih menyesal seperti saat melihat para masa lalumu bahagia dengan pasangan baru mereka "Terang Daniel lebih panjang.
Anthony menarik nafasnya panjang, pikirannya berputar tak karuan. Merelakan dalam diri Anthony tidak semudah ucapan Daniel. Daniel tidak pernah tahu rasanya ketika masa lalumu akan berputar dan mengiang terus menghantui.
Daniel segera mengambil kesempatan itu untuk melompat dan menjauh beberapa langkah, tanpa permisi dia segera meraih lukisan berujuran 60x80cm itu.
"Akan aku transfer bagianmu, dan akan aku kejar Renata lain waktu" Senyum Daniel mengembang licik seperti biasa. "Ah...!" Daniel berbalik menatap teman lamanya itu sejenak. "Akan aku sampaikan salam perpisahanmu dengan Rose.. Sebagai bonus"
Anthony bangkit dari rebahannya dan dengan kasar segera melampar satu sisi sepatu bootnya ke arah teman baiknya itu.
"Seharusnya aku tembak kepalamu saat ini"
__ADS_1
"Well!! Aku tidak pernah berada Di tempat seharusnya bukan?" Daniel segera lenyap di balik daun pintu kayu ruangan Anthony.
Sepasang netra Anthony masih menegang, sungguh hatinya masih tak rela lukisan itu pergi, tapi ucapan Daniel ada benarnya. Bagaimanapun, Rose sudah menolak untuk menjalin komitmen dengannya. Meski mereka kadang masih menyicipi cinta dalam kondisi terlarang. Dan Renata juga tidak salah kalau dia memang murahan.