
Meski kesepakatannya dengan Renata telah di buat, bahkan soal urusan untuk memiliki anak. Tapi dia lupa memperingatkan Renata, bahwa dia sangat pemilih. Bahkan dalam urusan pasangan bercinta.
Paranoia yang di deritanya telah mempengaruhi dirinya dalam seluruh aspek dalam hidupnya termasuk kehidupan intim. Dan itulah alasan dia tidak pernah terlihat bersama banyak wanita.
******
"Tidak usah repot menggodanya" Eduardo mengejeknya ketika mereka harus mengunjungi klub malam milik keluarganya "Dia itu setengah biksu atau bisa jadi dia iti impoten.. Ha.. Ha.. Ha.." Tawa Eduardo terdengar puas menjatuhkannya dan lebih puas lagi karena yang lain juga mulai ikut tertawa.
Saat - saat itu Anthony hanya sanggup diam, atai sebatas meremas kaleng bir di tangannya, tanpa harus berbuat banyak.
******
" Taraaaaa... "Renata sudah keluar dari kamar mandi dengan balutan lingerie berbahan renda yang melekat indah dan transparan hingga mata kaki. Tentu saja sebuah belahan panjang pada kedua sisinya mengekspose kaki jenjang dan mulus yang akan membuat setiap pria tergoda. Asalkan mereka normal.
Tapi Anthony tidak, Dia perlu perlu memastikan banyak bagian yang lainnya dl. Apakah semua sesuai standardnya?
"Hmmmm..." Antonio menarik nafas dalam - dalam. Di kepalanya sedang mencari seribu alasan agar dia bisa membatalkan jadwal bercintanya malam ini. "Aku Lelah Re..." meski ahirnya hanya kalimat classic itu yang keluar.
"Pesta sekecil itu membuatmu lelah?" Renata seolah tak terima dengan alasan Anthony yang seolah mengada - ngada.
"Aku melihatmu berpesta semalam penuh dengan Alberto"
Anthony mengusap wajahnya kasar. Renata memang cantik, kaki dan leher jenjang. Pinggang yang ramping dengan ukuran dada yang seimbang. Parasnya yang indah dengan sepasang mata bulat berbingkai bulu mata lentik dan alis yang panjang melintang, selalu menarik untuk beradu pandang. Apalagi bibirnya yang nampak lembut dan merona.
Andaikan Anthony normal, dia tidak akan menyia - nyiakan tubuh indah Renata hanya terpajang indah di depan matanya. Tapi...
"Aku belum siap... Aku butuh waktu"
Sepasang Alis Renata segera menyatu. "Maksudmu"
"Dari awal pernikahan ini, bukan urusan cinta" Anthony coba membela diri "Ada keuntungan lain yang harus di gapai"
Anthony mengangkat sepasang bahunya "Aku pikir kamu tidak seteertarik itu kepadaku, jadi aku tidak siap malam ini"
Seluruh otot Renata langsung lemas. Semua pikiran dewasa yang sempat melintas mendadak kabur begitu saja.
"Apa aku kurang menarik malam ini?"
Anthony menggeleng, dia segera beranjak menuju kamar mandi dan berharap bisa menyendiri dan menghindar dari kewajibannya sebagai suami. Tapi...
Sepasang tangan Renata segera mendekap perutnya yang rata.
"Katakanlah kalau ada yang perlu di perbaiki" Desis Renata sedikit merendahkan diri.
Perlahan Anthony mengurai jemari halus itu.
"Tidak sekarang Re.... Aku belum berfikir kita memiliki hubungan sejauh ini"
"Apakah karena mantan istrimu itu"sindir Remata dengan mada dongkol.
__ADS_1
Anthony menutup sepasang maniknya yang jernih. Seraut wajah Maria yang tersenyum manis pada suami barunya terpampang sangat jelas. Emtah mengapa hatinya jadi gusar, meski dia adalah yang merusak pernikahannya.
"Aku tidak pernah mencintainya, jangan lagi sebut namanya" Antonio segera masuk ke kamar mandi dengan cepat.
Perkataan tadi sungguh dusta, bukan urusan cintanya tapi soal rasa cemburunya. Bukankah dia yang telah menyia - nyiakan wanita itu. Tapi kenapa dia yang sakit hati ketika Maria menikah lebih dulu.
****
"Apakah kamu rela membiarkanku pergi" Renata bertanya usai tembakan yang ke lima.
"Dari awal aku tidak ingin kamu di sini" Anthony mulai melepaskan jemarinya "Semua yang kamu lihat sejauh ini masih permulaan"
Wajah Anthony berpaling perlahan menatap Renata "Konflik yang besar akan segera tiba begitu brankas itu tetbuka"
Renata mengangguk dan dengan begitu fokus dia mulai menembakkan peluru terahir.
"Brangkas itu pasti besar bukan? Dan penuh?" Suara Renata terdengar sedikit meninggi "Sosok perempuan ramping sepertiku mungkin sangat di butuhkan untuk beberapa hal"
Anthony mulai berkacak pinggang membalas tatapan Renata yang sudah berbalik menghadapnya.
"Pelurumu masih banyak yang melenceng, kamu pasti sangat merepotkan"
" Bukankah aku sabar dan sangat mau belajar"
Anthony mengambil kembali pistol di tangan kanan Renata. "Jadi kamu tidak pergi"
"Ehem..." Renata menggeleng cepat "Setelah perjuanganku hingga ke sini, aku rasa aku akan mencoba dunia barumu tanpa sungkan"
Tanpa menunggu, Renata segera menyusulnya.
"Apakah kita akan menjadi yang tertinggi ketika bisa membuka brankasnya?"
Anthony hanya menoleh sejenak kemudian pandangannya segera kembali ke depan.
"Tidak semua kekuasaan itu baik Re.."
"Tidak baik kalau tidak digunakan dengan bijak"
"Dunia ku sekarang jauh berbeda dari duniamu"
"Asalkan ada dirimu, semua akan sama di mataku"
Ck.. Ck.
Anthony mengacak kepala Renata sesaat, dan segera mengemudikan mobilnya meninggalkan tempat itu.
Entah bodoh arau hanya naif, Renata nampak sedikit berseri mengikuti langkah Anthony yanh baru saja berlalu.
"Aku berjanji setia, bisakah aku mendapatkan perlakuan yang lebih baik?" Renata langsung mengoceh ketika mereka kembali ke dalam mobil.
__ADS_1
"Aku tidak tahu standard baik kita sama atau tidak" Anthony mulai menyalakan mesin mobilnya "Aku memberimu makan dan juga tempat tinggal"
"Hey... Aku bukan hewan ternak, aku juga butuh kesenangan, kebebasan dan penghargaan"
"Apakah aku terkesan tidak menghargaimu?" Wajah Antagonist Anthony segera beralih dari jalanan.
"Benar... Kamu tidak memghargaiku"
" Huh... Kamu meminta terlalu banyak" Anthony kembali menatap jalanan aspal di hadapannya.
"Aku bisa berhitung berapa banyak aku berkorban untukmu"
Renata mulai jengah dengan kelakuan Anthony yang selalu tidak peka dengan keadaan. Dengan sedikit kasar Renata mulai menarik sabuk pengaman dan menghempaskan tubuhnya pada sandaran kursi mobil yang di dudukinya.
"Hmmmm!!!!
Tanpa di duga tiba - tiba Anthony mendekat dan mulai memanggut sepasang bibirnya. Renata segera mendorong Anthony sekuat tenaga untuk menjauh.
" Aku butuh lebih dari pada tubuhmu, tapi juga perasaanmu "
" ck.. "Anthony berdecih dan mengumpat pelan. Sebelum ahirnya dia mulai melajukan mobilnya mengarungi jalanan dan segera bergabung dengan keramaian.
******
Penderita Paranioa
Akan sulit bersosialisasi dan memahami orang lain.
*****
" Kenapa kita tidak keluar saja dari Rumah itu "Renata menatap lekat - lekat bangunan besar dan megah keluarga Anthony.
Anthony hanya diam dan sibuk memunguti senjata api dari dashboard mobilnya.
" Bukankah mereka tidak sepenuhnya ramah atau tulus padamu? "
" Kamu terlalu banyak bicara "
" Eduardo jelas tidak menyukaimu"
"Hmmm..." Anthony menanggapi sekenanya. Tangannya dengan cekatan segera membuka pintu mobil di sisi Renata. "Keluar... Aku sulit konsentrasi"
"Aku tidak mau" jawab Renata ketus "Bukan begini cara menghargaiku, kamu bisa meminta baik - baik atau setidaknya membukakan pintu dari arah luar"
Anthony mendengus kesal "Merepotkan... Kamu memgajariku tentang hal yang tak perlu" Anthony meraih senjata Api yang baru saja di sarungkannya. "Keluar....!"
Tak ada pilihan lain, Renata segera mengeluarkan kakinya dari mobil dan perlahan keluar, meski dia tidak yakin Anthony akan sungguh - sungguh menembaknya. Tapi mengambil resiko di tengah amarah pria seperti Anthony adalah bukan ide yang bagus.
" Aku sudah keluar puas??" Renata menyempatkan diri mengintip Anthony yang mulai kembali sibuk dengan beberapa hal Di dalam mobil. Meski pada kenyataannya dia tidak digubris.
__ADS_1
'*****