
Renata mendekati Anthony dan mulai menyelam singkat pada sepasang mata yang indah itu.
" Apakah kamu menyadari bahwa kamu memiliki mata yang menakjubkan? "
Anthony menepis tubuh Renata" Ini bukan alasanmu saja karena ingin meminta handphone? "
" Andaikan saja iya, apa ruginya untuk mu. Dan urusan seminar keuangan di swiss juga akan menguntungkan untukmu " Renata berbalik dan mengikuti arah kemana Anthony berada." Jadi..?"
" Aku tidak gegabah, dan jangan berharap banyak " Anthony memeluk renata sejenak dan segera melangkah meninggalkan wanitabitu sendiri.
Ini baru pertama kalinya Renata hanya sendiri.
" Yang benar saja, kalau dia tkdak butuh, aku di tinggalkan begitu saja.. Cih.. " gerutu Renata yang sengaja tidak pelan.
Tunggu....!! Ini baru pertama kali dia tanpa Anthony, biasanya pria itu selalu di sekitarnya.
Renata hanya mematung sesaat mencoba menerka apa yang bisa dia lakukan untuk kesemoatan langka satu ini.
Renata menckba menarik nafas dalam - dalam dan melepaskannya perlahan, sambil tetap berpura - pura menikmati suasana.
Namun semua indranya sedang bekerja keras. Berfikir, mendengar dan melihat lebih dan lebih seiring suara langkah Anthony yang semakin senyap.
Renata mulai menarim salah satu sudut bibirnya, "Kalau aku bisa kaya dan berkuasa dengan cepat kenapa tidak?" soraknya dalam hati.
****
Perkiraan Renata tentang lukisan Salvador Darli, memang masih sebatas dugaan, tapi apa salahnya bila dia memastikan. Apalagi bisa memilikinya. Renata tidak peduli dengan peta brangkas itu.
__ADS_1
Ada atau tidak adanya tentang peta itu, lukisa Slvador Darli sudah pastj bernilai fantastis. Dan dia tahu siapa saja yang aka bersedia melakukan apa saja untuk mahakarya satu itu.
*****
Hampir sekitar satu jam lamanya Renata memeriksa setiap sudut dan inch kamad Anthony , ahirnya renata sungguh yakin bahwa kamar ini tidak terdapat cctv.
"Lama - lama aku jadi paranoia juga" Gerutunya ssndiri.
Memang, memasang cctv dalam kamar pribadi yang tentunya banyak terjadi hal pribadi adalah aneh. Andai kita normal. Tapi tidak dengan orang seperti Anthony. Hal seperti iti sudah hampir seperti bagian dari dirinya.
"Hmmm berarti dia memang benar - benar mulai mempercayaiku" Renata bermonolog sendiri.
Tanpa membuang waktu Renata segera melakukan idenya untuk memastikan atas dugaannya. Siapa tahu dia beruntung. Andaikan dugaannya salah, mungkin dia akan bertemu hal lain yang akan menarik perhatiannya. Dari Pada termenung di kamar menunggu takdir.
****
Cara mereka membersihkan rumah dan menata semuanya standard hotel bintang lima. Termasuk juga dwnga cctv nya. Yang hampir di setiap sudut.
"Kamu mencari indukmu?" Entah dari mana Alberto tiba - tkba telah memotong langkah Renata.
Renata hanya diam dan mencoba melewatkan lelaki yang selalu berhasil membuatnya kurang nyaman.
"Ah.. Mungkin inangmu?"
Renata hanya melengos dan terus menyusuri rumah itu yang ternyata lebih luas dari peekiraannya.
"Setidaknya aku punya pendirian, tidak mengekor seperti yang kamu laukan saat ini" Renata sengaja mengajak Eduardo sedikit berargumen agar dia sedikit lebih lama di lorong yang satu ini.
__ADS_1
Apabila Renata tidak salah. Ada kilatan sinar laser dari celah bawah pintu pada ruangan paling ujung. Dan juga empat pria tegap yang sedang berjaga.
"Mengikutimu juga pendirian, aku tidak berubah dati awal bukan. Aku masih mengincarmu" Eduardo bekeliling mengamati gadis cantik yang memikat indra penglihatannya dan juga jiwa lelakinya.
"Tidak perlu repot - repot untuk membuang waktu untukku, aku sudah punya calon yang lebih baik" Renata mencoba memprofokasi Eduardo sedikit. Agar dia bisa lebih lama mempwrhatikan ruangan itu. Yang mungkin menyimpan barang incarannya. Atau setidaknya ruangan itu berisi hal yang berharga.
"Hah... Kamu cuma sosok blasteran, tkdak banyak yang berminat cukup tinggi di sini padamu" Eduardo mencoba menyentuh Renata. Tapi dengan sigap Renaga segera mengayunkan lututnya ke tempat di antara kedua kaki Eduardo.
"Aaargh...!!!"Eduardo memekik keras secara otomatis. Di ikuti keempat pelayan itu yang mulai menghampiri mereka.
" Saat Anthony memgatakan jangan menyentuhku, itu untuk kebaikanmu "Renata menepikan tubuhnya pada sisi kiri Eduardo dan segera berlalu sebelum keempat pengawal itu sampai. Dia tidak ingin berbincang pada merela saat Eduardo ada di sekitarnya.
Pikirannya melayang tentang benda penting apa yang aka di simpan di ruangan khusus itu untuk keluarga sekaya ini, Andaikan bukan lukisan itu.
'Bisa jadi kalung berlian yang lain, itu juga tidak buruk' Renata membisiki dirinya dalam hati.
**'****
"Kamu tidak tersesat?" Suara Antnony membuyarkan lamunan Renata.
Kepalanyapun segera berputar dan memmbalas tatapan pemilik suara itu yang sedang tertuju padanya. Sejenak hatinya berdesir, memgingat cinta yang di milikinya. Tapi Renata kini memahami, tidak mudah mengjadapi Anthony yang seorang pimpinan Mafia dan juga mengidap paranoia.
Renata menggeleng lemah, ini bukan di tujukannya untuk pertanyaan Anthony. Tapi lebih di tujukan untuk dirinya yang mulai menyadari hibungan ini mungkin memang hanya akan memyiksanya.
Pelan tapi pasti kedutan di rahang Anthony yang sedang menghampirinya terlihat sangat jelas.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan Eduardo" ucapnya dengan gigi yang tetap mengatup.
__ADS_1
"Hah... Well..." Renata tidak habis pikir bahwa dengan suasana pertemuan Renata dwngan Eduardo barusan, berhasil membuat Anthony cemburu. "Pantas saja kamu sering tidak ramah pada mantan istrimu, kamu bahkan cemburu ketika aku hampir membuatnya cacat seumur hidup" Renata mendengus dan berlalu.