
Renata segera berbalik, sejenak dia melupakan kenapa dia harus repot - repot naik ke lantai tertinggi dan sepi ini.
"Lagi pula kamu tidak akan pernah memilikinya, berikan saja lukisan itu... Uangnya cukup besar"
"Jangan seenaknya bicara, dari awal aku tidak syka memperdagangkan milikku"
Lukisan... Yup.. Renata yang sudah diambang pintu, segera memutar tubuhnya dan menebar lanadangannya pada ruangan Anthony.
Mana lukisannya..???
Tunggu... Hanya ada satu lukisan yang di pajang dengan posisi menghadap tembok. Seolah Anthony tidak ingin melihatnya. Tapi tetap menyimpannya.
"Kamu saja memajangnya membelakangimu bukan?" Daniel menunjuk arah yang sama di mana sepasang manik Renata sedang terpaku.
"Itu urusan ku" Gertak Anthony.
"Aku juga mau lihat" Renata kembali mendekat kedalam pertengkarang dua lelaki yang tidak bisa di bilang muda itu.
Daniel mendengus rendah... "Sebaiknya jangan..."Nada suaranya berubah lembut seketika." Aku tidak ikut campur dalam urusan pernikahan kalian, tapi Anthony.. "Daniel berdiri lebih dekat." Tidakkah kamu ingin mengurangi masalah dalam hidupmu? "
" Sekali lagi... Itu urusanku "
" Tapi juga urusanku, karena kamu menikahiku "Renata mulai mngambil sikap sedikit lebih keras" Dan aku berhak melihatnya, sebuah property kesayangan suamiku "
Serempak Daniel dan Anthony memalingkan wajahnya ke arah Renata.
" Jangan..." Keduanya serempak seakan sehati.
" Penawarananya sangat bagus.. " Daniel kembali menatap Anthony yang masih tak bergeming beradu mata dengan Renata" This is my big deal for this months "
Daniel mulai sedikit khawatir dengan sepasang suami istri beda usia di hadapannya." Lagi pula kamu juga memasangnya hanya menghadap tembok "
Anthony masih terdiam, behitupun Renata yang menunggu keputusan Anthony yang tak kunjung muncul.
" Aku ingin melihatnya" Renata memutuskan untuk kembali menyuarakan keinginannya. Langkahnyapun kini mulai cepat mengarah dimana lukisan itu berada. "Apakah lukisan ini lebih berarti dari lukisan salvador Darli?"
Anthony dengan cepat membekap mulut Renata "Kamu memang tidak bisa di hiarkan sendiri"
Renata hanya mengerutkan keningnya, apa yang salah dari ucapannya?
"Salvador Darli...? Kalian mempunyai lukisan karyanya?" Mata Daniel seolah berbinar indah.
"Tidak!! kami juga mencarinya"
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu menginginkannya? Bukankah aku cukup handal menemukan barang - barang langka?"
"Lukisan yang Renata maksud ada di musium di New York, kamu tidak perlu mencarinya" jawab Anthony yang masih tidak meu melepaskan bekapannya pada mukut Renata.
"Kamu mau membodohiku dengan barang palsu?" Daniel berdecih "Kamu tahu di mana yang asli cantik?"
Wajah Daniel kini cukup mendekat dan menyelam ke sepasang mata Renata.
Renata berkedip cepat, berharap Daniel menganggap bahwa dia mengetahuinya. Meski sesungguhnya semua masih dugaan.
"Lepaskan Renata, aku akan merelakan lukisan Rose" Daniel mungkin menangkap maksud Renata, seiring jemari Anthony yang melonggar.
"Uhuk....!!" Renata terbatuk kecil "Rose??" Renata segera melangkah ke arah Daniel.
Sikap kasar Anthony bisa memuncak kapan saja ketika emosi.
"Rose... Tidak mungkin Roselyn bukan?"
"Siapa Roselyn?" Daniel dan Anthony bertanya serempak.
'Ternyata keduanya tidak begitu mengenal assistant baru Maria. Kalau begitu.. "Renata menebak sendiri dalam hati.
" Rossie Arnold? "
" Hah... Benar? "Renata tertawa kering" Nyonya keluarga Arnold, Istri Peter Arnold ..."
Renata sedikit tertawa mengejek, tapi sebenernya itu Di tujukan pada dirinya. Bagaimana mungkin dia dikalahkan oleh cinderella kampung seperti Rose.
" Wanita itu Rose Arnold? "Renata bertanya lagi mencoba memastikan dugaannya.
Baik Anthony maupun Daniel masih tetap mematung. Keduanya bingung akan menjawab bagaimana. Anthony yang biasanya galak rupanya juga kehilangan sikap di saat seperti ini.
Meski cinta Anthony pada Renata belum tentu, tapi kehilangan Renata sepertinya adalah hal yang tidak dia inginkan.
"Apa itu mengganggumu?" Daniel ahirnya bersuara mencoba mencairkan suasasana. Meski tidak ada jaminan akan berhasil.
Renata mendengus sejenak dan melenggabg ke arah sofa. Sepasang maniknya masih tertuju Pada lukisan yang terpajang terbalik Di tembok ruangan Anthony.
" Aku belum tahu pasti sampai aku melihatnya" Ujar Renata yang sebenarnya mulai tidak sabar melihat lukisan itu, meski sebenarnya dia sudah pernah bertemu dengan wanita yang disebut sebagai objek lukisan itu.
"Kalian masih menginginkan lukisan Salvador Darli bukan?"
Tentu.. Jawab Daniel cepat. Berbeda dengan Anthony yang menatap Renata dengan heran.
__ADS_1
"Kamu tidak mungkin memilikinya bukan?"
"Tentu saja, tapi aku tahu ada di mana" Renata mulai melipat tangannya dan mengisyaratkan agar salah satu pria dewasa bersamanya segera membuka lukisan wanita pujaan hayi Anthony itu fan menunjukkan padanya.
Daniel denga cekatan segera menuju lukisan itu namun denga cepat Anthony mencegah.
"Benda itu masih milikku..."
"Apakah kamu tidak ingin tahu di mana lukisan yang sudah kamu cati bertahun - tahun lamanya?"
Sejenak Anthony mematung dan perlahan kembali memandang Renata yang nampak yakin bahwa dia mengetahui letak lukisan itu.
Mungkin dugaan Anthony dan Renata sama, tapi mungkin juga tidak. Tapi bila dia tetep menahan Daniel maka Renata akan tahu bahwa Anthony telah memiliki dugaan pasti di mana Lukisan itu berada. Tapi apabila dia membiafka Daniel membalik lukisan di dindingnya, setidaknya Renata akan pedcaya bahwa dia sama sekali tidak tahu. Namun, bisa jadi Renata akan menjadi bad mood.
"Hah... Peduli apa aku pada k3marahan Renata, gadis manja yang merepotkan itu"keluh Anthony dalam hati seiring tangannya yang kini kembali bersarang di saku Celananya.
*****
Rose....!!!
Renata mendesiskan nama itu dengan emosi tertahan.
" Kalian saling mengenal saat masih sangat muda?"
Tidak ada jawaban untuk pertanyaan Renata yang dengan khidmat memandangi lukisan gadis berusia awal duapuluhan denga senyum ceria dan rambut ikalnya yang tergerai indah sebatas pundak.
"Tugas kami sudah selesai... Apakah kamu sudah puass??" Suara Antnony cukup dalam dan meninggi dari batas normal.
Renata yang masih terbakar emosi akan kekalahannya dari gadis di lukisan itu memilih hanya mendengus kesal.
"Kamu lupa pada janjimu? Atau kamu memang tidak tahu?" Kali ini suara Daniel ikut muncul meski ramah tapi tetap penuh selidik
"Ah...!!!" Renata menghisap udara sesaat dia hampir lupa kalau dia bisa melihat lukisan ini karena dia telah menjanjikan tentang keberadaan lukisan Salvador Darli yang asli. "Lukisan ini sungguh cantik, lebih cantik daripada Aslinya"
"Perempuan dinilai lebih dari itu Re.." Suara Anthony kali ini terdengar sedikit bersalah.
"Jadi dari mana?" Renata balik bertanya denga Emosi yabg siap meledak.
"Hei..!! Daniel segera menengahi." Urusan kalian berdua, itu nanti... Aku butuh lokasi lukisan Salvador Darli "
" Diam...!! "Renata memekik.
Dia sedang Di tengah situasi yang sulit di ungkapkan. Antara jawaban yang hanya dugaan saja, serta saat yang tepat mengintrograsi Anthony saat ini. Karena andai ini dibahas hanya berdua hasilnya pasti tidak akan jelas.
__ADS_1
"