
Meski dia berhasil bertahan bersama Anthony hingga sejauh ini, tapi Renata menyadari dia belum melihat keseluruhan tentang Anthony.
Namun apakah mungkin mundur saat ini.
Dor!!!
Dentuman peluru baru saja melewati tepian pilar tempat Renata bersandar.
"Siapa itu? Keluar" Suara Antnony yang pastti tidak bertangan kosong menggelegar menggema hingga memenuhi seluruh area parkir.
Tubuh renata seakan tidak bertulang, tanpa dia sadari dia sudah merosot ke tanah. Isak tangis keluar begitu saja tanpa bisa dia cegah. Tangisnyapun makin kencang ketika bunyi langkah Anthony yang terdengar semakin jelas ke arahnya.
Renata tak sanggup membayangkan apa yang selanjutnya terjadi.
"Berdiri...!!" Bentak Anthony yang kini sudah berdiri tepat di samping renata.
Tangis Renata yang tadi tertahan, kini meledak tak dapat di bendung lagi. Dia memebnamkan wajahnya dlam telungkungkup tangannya. Kakinya masih lemas tak sanggup mengijuti keinginan Anthony.
"Berdiri.. Re..." Namun suara Anthony tidak mereda sama sekali masih tinggi dan menggelegar.
Renata hanya sanggup memperkencang tangisnya, karena dia sungguh tidak cukup tenaga untuk mengikuti kemauan Anthony. Dia sudah pasrah andaikan senjata api di tangan Anthony meledak ke arahnya. Penyesalan saat ini sudaj tidak berguna.
****
"Penderita paranoia terkadang menakutkan, mereka tidak jahat, kalau kita melihat dari sisi kondisi mental yang mereka alami. Mungkin, ada yang jahat... Tapi aku yakin Anthony tidak, kamu bisa lihat sendiri bagaimana dia menyayangi Tania, putrinya dari pernikahannya sebelumnya " Jelas Widya. Yang masih berat menerima keputusan Renata untuk menyusul Anthony.
" Berarti masih ada hati juga untuk aku "
Widya hanya menarik nafas dalam dalam. Yang dia tahu Anthony belum pernah melupakan mantan pacarnya. Meski dia telah melewati sebuah pernikahan dan mengahiri pernikahan sebelumnya.
"Tante nggak bisa jawab Re... Ini hidup kamu, tante sudah memberitahu kamu resikonya"
"Tapi tante janji nggak akan ngebocorin rencana aku kan?"
"Ada kode etik yang harus aku patuhi, dan sejauh ini aku cuma punya ini sebagai alat pencari nafkah jadi tentu aku tidak akan melepaskannya"
Renata dan Widya tertawa bersamaan.
__ADS_1
Meski saat itu Renata merasa sudah sangat siap menghadapi Anthony yang ada dalam pikirannya. Tapi kenyataan sering kadang tidak sesuai.
******
Renata membuka matanya perlahan, aroma maskulin memenuhi ruang ciumnya. Terasa sangat dekat dan nyaman. Tapi lampu temaram ruangan menyamarkan pandangannya.
"Andaikan ini mimpi... Aku ingin sedikit lebih lama" batin Renata yqng kembali menutup matanya rapat - rapat dan menenggelamkan kembali tubuhnya pada lembut duvet bulu angsa.
*****
Sinar terik menyentuh tajam pada indra penglihatan Renata yang masih terbalut kelopak mata berhias lentik. Namun sayangnya aroma maskulin semalam tidak ada lagi bersamanya.
'Mungkin hanya mimpi' batinya.
Renata memutar tubuhnya memunggungi jendela. Rasanya malas untuk keluar dari tempat tidur. Matanya masih ingin terpejam lebih lama, tapi...
"Kamu bukan tuan putri lagi"
Deg... Renata tersentak dengan suara yang cukup akrab itu. Raut wajah antagonist Anthony kinibsudah memenuhi ruang pandang Renata.
Selintas ingatan tentang kejadian kemarin hadir di otaknya. Oh God....apa ini mimpi buruk?
Seperti biasanya, Anthony tidak pernah meminta dua kali apa yang dia mau. Dengan cekatan dia segera menggulung renata dengan bedcover dan segera menggotongnya dengan ringan ke arah kamar mandi.
"Aku bisa sendiri"
"Aku tidak percaya"
"Aku selalu sikat gigi sendiri" Renata berusaha melepaskan diri dari lilitan selimut tebal di tubuhnya. Namun tentu saja sia - sia, Anthony rupanya cukup serius ketika tadi melakukannya.
"Buka Mulutmu"
Renata masih enggan, dia mencobq menawar dengan sorot mata yang mengiba. Tapi sudah pasti gagal.
"Aaa..." Ahirnya Renata menyerqh dan membuka mulutnya.
Dengan sabar Anthony mulai membersihkan giginya yang rapi.
__ADS_1
"Bahkan urusan menggosok gigi aja kamu mengaturku" Gerutu Renata usai berkumur.
"Aku tidak suka berselisih"
"Apa karena itu kamu bercerai? "
"Kamu cemburu dengan mantan istriku?" Anthony balik bertanya ketika dia membersihkan sikat gigi Di tangannya.
"Melihatnya membuatku berfikir bahwa dia tidak mungkin menerima perlqkuan kasarmu dalam urusan ranjang"
Anthony kini sudah berjongkok di depan Renata, dan menangkap sorot mata gadis itu.
"Setelah aku hampir menembakmu kemarin. Apakah iti yang terlintas di otakmu?"
Renata menarik nafas dalam - dalam "Mau bagaimana lagi? Akuntidak bisa membahas hal itu, khawatir kamu benar - benar menembakku lain kali. Membahas mantan istrimu membuatku sedikit senang, setidaknya kamu juga merasa jengkel"
"Hmmmm..... Cara yang bagus" Anthony mulai berdiri "Sepertinyq kamu mulai menemukan cara bertahan di sampingku.
" Sudah aku bilang, aku cukup intelegent "
Kali ini Anthony tidak menjawab dengan ucapan, tapi sepasang tangan kekarnya mulai kembali mengangkat tubuh renata yang masih tergulung dan menghempaskannya ke atas ranjang.
"Aku sedang malas berfikir, bisakah kamu mendiskripsikan intelegensimu dalam bidang ini"
Renata mengerjap sejenak, "Maksudmu...??"
"Lakukan tugasmu sebagai istri"
"Kamu tidak ingin aku mandi lebih dahulu"
Anthony memanggut sepasang bibir yang selalu menjawabnya ketika berkata.
"Kita mandi setelahnya, terkadang baumu yang baru bangun cukup menyenangkan"
"Kalau suka, jangan mengarahkan benda berbahaya lagi padaku, atau baunya akan berubah jadi bau bangkai"
Anthony hanya tersenyum dingin..
__ADS_1