
"Jadi kamu tidak suka menjadi bagian dari Mafia?" Renata merengkuh punggung Anthony yang kini terpajang di hadapannya.
"Percayalah tidak ada orang menyukai hidup yang di luar normal seperti itu"
"Tapi sepertinya tidak dengan sisa keluargamu?"
"Andaikan mereka terlahir dari keluarga sepertimu, mereka tidak akan memilih jalan seperti ini" Anthony menatap Renata yang sedang bersandar di sisi bahunya.
"Kalau kamu di lahirkan dari keluarga yang kelam, masyarakat tidak menerimamu bekerja begitu saja" Sejenak kedua berpandangan dan Anthony kembali menyeduh kopinya menikmati hamparan kebun anggur yang tersaji di kuar jendela.
Renata sulit membayangkan arti ucapan Anthony, pikirannya masih naif, bahwa hidup adalah milik kita sendiri.
"Saat aku menyelesaikan pendidikanku dengan nilai tertinggi, aku berfikir aku akan segera mendapat pekerjaan karena aku cukup pintar" Anthony mencoba menjelaskan sekilas. "Aku berharap aku bisa hidup normal usai mendapat pekerjaan"
Anthony kembali meneguk kopinya, kali ini dengan perlahan.
"Tapi semuanya gagal, dan penyebabnya adalah latar belakangku yang menjadi rahasia umum" senyum pahit mengantar kalimat itu "Aku tidak punya pilihan selain memulai karir ku dengan relasi dan usaha yang sudah aku warisi, yang tentu saja para penjahat" Anthony meletakkan gelas kopinya di tepi ranjang.
Wajahnya kini mengantar senyum pada Renata yang perlahan mulai memahami, kesulitan Anthony menjadi orang baik meskipun dia ingin.
"Dan Maria adalah orang pertama yang mempekerjakanmu?"
Anthony mengangguk
"Tapi kamu menggunakan perusahaannya untuk money laundy uang haram keluargamu atau clientmu, hingga membuatnya memilih menceraikanmu?"
Anthony mendengus pelan "Otakmu mulai banyak bekerja setelah tersiksa bersamaku beberapa waktu" Anthony tak ragu memanggut bibir gadis itu "Tapi pernikahan tidak pernah memiliki alasan sederhana untuk di akhiri, selalu ada titik sabar yang tidak mungkin di tolerir yang terjadi di antara kami" Anthony mengelus wajah halus tanpa make up Renata yang sibuk memahami kalimat Anthony.
__ADS_1
Suasanapun hening sesaat di antara keduanya. Hingga keduanya sadar bahwa menu sarapan pagi mereka pagi ini masih kurang.
*******
Antonio muda...
Anthony menggenggam ijasahnya dengan sangat gembira. Setelah bersabar dalam jangka waktubyang cukup yang lama dia berfikir, bahwa dia mendapatkan tiket untuk bisa keluar dari kehidupan gelap keluarga boldovino.
Dia berlari kencang ke perpustakaan dengan penuh semangat untuk memulai membiat surat lamaran dan mulai mencari pekerjaan layak orang normal. Tentu saja, dia tidak akan melamar pekerjaan dalam kota, kalau bisa ke luar eropa sekaligus.
"Selamat pagi" suara Anthony terdengar renyah dan penuh harapan.
Penjaga perpustakaan menyambut dengan senada "Bagaimana kabarmu Anthony"
Anthony memasang senyum lebar dan menunjukkan lembaran ijasah di tangannya.
Tanpa menunggu lama Anthony segera berhambur ke meja msin ketik yang kebetulan kosong.
"Lamaran pekerjaan?" Staff perpustakaan lain menyapa ketika melewatinya.
Anthony mengangguk mantap dan mulai mengetik huruf demi huruf.
Dia cukup berharap banyak saat itu, bahkan athony sudah merencanakan untyk melakukan rehabilitasi untuk kecanduan obat terlarangnya setelah cukup uang nanti.
Ups..itu dy, Anthony melupakan satu hal penting, jemari Anthony segera berhenti. Dia tidak tahu Jenis obat terlarang seperti apa yang di konsumsinya. Dan bagaimana dia mendapatkannya dalam masa - masa jauh di luar rumahnya. Dan bagaimana dia mendapatkannya.
Otak Anthony penuh dengan pertanyaan itu. Jemarinyapun terhenti. Dia menarik nafas lebih dalam dan melepas perlahan.
__ADS_1
"Well... Semua pasti bisa di cari" Anthony mencoba optimist akan keputusannya. Jemarinyapun kembali menari indah mencetak huruf demi huruf dan menatanya dalam kalimat - kalimat resmi yang sopan dan indah.
********
Sudah dua puluh tiga perusahaan yang dia datangi untuk interview, tapi belum ada satupun yang mau menerimanya. Mereka semua bereaksi sama ketika melihat nama belakangnya dan juga alamat rumahnya.
"Apakah kamu benar - benar tinggal di sini?"
Anthony mngangguk mantap. "Apakah kamu anak salah satu pelayan di rumah itu"
Anthony yang polos "Bukan, itu rumah orang tua angkatku"
"Kedua orang tuamu pasti baik"
"Benar" hal itu Sungguh benar Madam Angela dan Tuan Rosario merawatnya dengan sangat baik. Meski entah mereka tahu perbuatan Eduardo padanya.
Namun pertanyaan serius ahirnya hanya berhenti hanya di situ. Dimana pertanyaan yang lain hanya sebatas formalitas.Yang pada ahirnya hanya berisi alasan penolakan yang tak masuk akal.
**
"Bagaimana mungkin kita mempekerjakan putra angkat seorang mafia seperti dia, meski dia pandai" Gumam salah satu staff ketika mereka mampir di rest room "Bisa - bisa mereka mengira bisnis kita terlibat dengan bisnis mereka, apalagi kita memiliki divisi pengiriman"
"ck... Benar juga, nanti kita bisa dicurigai ikut mengangkut barah haram dalam divisi angkutan kita" Sahut yang lain.
Anthony yang kebetulan berada di salah satu bilik, hanya mampu diam dan perlahan mengubur harapan untuk keluar dari takdir yang ada padanya saat ini.
*****
__ADS_1