
Pelan tapi pasti kedutan di rahang Anthony yang sedang menghampirinya terlihat sangat jelas.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan Eduardo" ucapnya dengan gigi yang tetap mengatup.
"Hah... Well..." Renata tidak habis pikir bahwa dengan suasana pertemuan Renata dwngan Eduardo barusan, berhasil membuat Anthony cemburu. "Pantas saja kamu sering tidak ramah pada mantan istrimu, kamu bahkan cemburu ketika aku hampir membuatnya cacat seumur hidup" Renata mendengus dan berlalu.
Renata awalnya tidak keberatan dengan beberapa keanehan sifat Anthony yang memang di dasari dengan kondisi mentalnya. Namun dia tidak menyangka klo ternyata hal itu mulai menganggu. Dan mungkin mulai mempengaruhi mentalnya.
Anthony segera mencekal pangkal lengan Renata tang bekum jauh darinya dan menarik dengan kuat untuk kembali kehadapannya.
"Kamu tidak merencanakan hal yang.."
"Aku merencanakan untuk membunuhmu.. Puas?" potong Renata yang belum padam dari emosi sebelumnya.
"ck.. Ck.." Anthony berdecak sesaat dan segera menyeret Renata ke luar rumah dan menghempaskannya dalan mobil.
"kita pergi!" Anthony hanya berucap itu sebelum menyalakan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Renata tak bisa berkata, inj hal yang sederhana, kenapa Anthony bersikap berlebihan.
"Aku hanya berkeliling rumah, agat tidak tergantung pada pelayan kalau butuh apapun" Renata menegang erat sisi bawah kursi dengan erat. "lagi pula, tidak ada anggota keluargamu yang lain selain Eduardo di rumah yang bisa aku ajak bicara" Renata madih mencoba melanjutkan pembelaannya "
Ciiiiiiit..... Mobil mendadak berhenti di area parkir sebuah gedung.
" Hanya itu..? "Sepasang mata Anthony memicing" kamu yakin? "
Renata mengerjap sesaat, yup dia memang berbohong tapi tidak sepenuhnya itu salah. Kenyataan memang seperti itu.
" Ya... Ya.. Kin "jawab Renata dengan anggukan kuat meski terbata.
" Lantas Kenapa kamu terbata? "
" Siapa yang tidak takut debgan wajahmu saat ini "Renata menemukan alasan yang repat untuk mebela diri" Meski tampan, kamu sering menakutkan "Lanjut Renata" yang mencoba menurunkan nada suaranya dengan sedikit lembut.
Anthony termenung sesaat, mencoba menimbang apakah dia bisa mempercayai istrinya yang masih kekanakan ini.
"Ok, anggap saja aku menerima alasanmu" Anthony menyudahi tatapannya "Tapi percaya itu urusannya berbeda"
Meski Anthony mempunyai hak untuk meragukannya, tapi entah mengapa Renata merasa tersinggung.
__ADS_1
"Hey... Jadi kamu tidak percaya padaku?"
"Aku tidak percaya pada siapapun" Anthony menjawab cepat dan segera keluar dari mobil. "Keluar!!" Serunya ketika sudah membuka pintu di sisi Renata.
"Huh... Bukankah Sugar Baby harusnya diperlakukan dengan manis. Karena itu disebut Sugar Baby bukan?"
"Benar!?" Anthony tidak menyangkal "Tapi mereka juga manis dan tidak galak"
"huh!! ..." Renata keluar dari mobil sambil mecebik "Itu karena aku special, aku membutuhkanmu karena terpaksa"
"Percayalah Re... Tidak ada satupun orang didunia ini yang menjadi miskin dengan sengaja"
Renata berdecih sesaat dan segera memalingkan wajahnya pada papan nama gedung itu. Boldovino Enterprise
"Kalian cukup narsist ternyata"
"Hanya menegaskan siapa pemiliknya" Anthony segera melangkah memasuki gedung dengan di ikuti Renata.
Anthony hanya melambaikan tangan sejenak pada para pegawai di sana dan berlalu ke arah llift.
"Ting...." pintu lift terbuka dengan segera seperti sama sekali tidak ada yang menggunakannya.
"Ini lift khusus untukku, tidak ada cctv di sini" Jawab Anthony yang seperti membaca isi otak Renata.
"Setelah kamu menghilang lama, bagaimana mereka menerimamu dengan cepat"
"Sama dengan urusan kita..." Anthony menggantung ucapannya "Uang yang berlimpah" lanjutnya denga dengusan yang sebal.
"Ting...
Lift segera terbuka.
" Aku anggap alsanmu benar "Anthony segera keluar dan memulai langkahnya entah kemana" jadi aku terpikir segera memberimu solusi "
" Secepat ini? "Renata tak menyangka Anthony bertidak dengan cepat. Dia mengira, akan butuh beberapa hari untuk Anthony berantisipasi. Tapi..
Anthony membuka sebuah pintu ruangan, yang di ikuti beberapa mata menyambutnya" Hallo.. "sapa Anthony ramah.
Serempak semua membalas dengan keramahan serupa. Beberapa nampak cukup terkejut.
__ADS_1
" Oh.. Tuan Anthony? "
" Sungguhkah itu dy "
" Dia lebih tampan daripada yang di foto "
Dan bla.. Bla.. Bla..
Renata memasang senyim beku. Dia belum paham apa yang dilakukan Anthony saat ini.
"Aku membawa pegawai baru" Ucapnya tanpa bisa di mengerti Renata. Yang mulai celingukan melihat sekitarnya.
"Mana?" desis Renata yang sama penasaran dengan semua orang di dalam ruangan.
"Ini" Anthony meraih pundak renata dan menyeret tubuhnya kehadapan semua orang. "Dia istriku, tapi dia hanya pegawai biasa di sini"
Renata hanya menambah diameter matanya dan panjang senyumhya seiring keterkejutan yang muncul. "Ha.. Hai.." Renata melambai otomatis meski dia ingin berteriak dan komplain.
"Ingat... Uangku tidak turun hanya dengan goyanganmu. Biaya insulinmu tidak murah, begitupun dengan fasilitas lainnya" Bisik Anthony yang terdengar menyeramkan meski disampaikan dengan senyum yang menawan.
"Jadi.. Aku mohon bantuannya" Antjony menepuk kedua pundak Renata.
"Maaf, dia menjabat sebagai apa?" Tanya seorang perempuan pariu baya yang memakai kaca mata.
"Dia assistantmu, dan dalam masa percobaan tiga bulan. Kamu segera siapkan kontraknya"
"Tunggu.." Renata segera meraih tangan Anthony yang sudah berniat beranjak pergi "Ini divisi apa?"
"Human research"
"Ha..." Renata melongo sesaat "Aku datang dengan visa tourist, kamu tidak bisa mempekerjakanku seperti ini"
Anthony melepaskan genggaman Renata " Aku bisa.. Dan selalu bisa "Jawab Anthony ringan.
" Ha... "Renata terkejut sekali lagi" Jadi... "
Keduanya saling menatap beberala saat.
" Yup..!! " Jawab Anthony tanpa menunggu pertanyaan Renata.
__ADS_1
" Kamu memilikinya?