
**'
Renata menatap Daniel dengan dahi yang berkerut dan mulut yang terperangah.
"Aku menyukai cara yang lebih Slay...." Daniel tersenyum manis dan menikmati proses pembukasn borgol di tangannya.
"Lantas aku?" Renata protest karena mendapati borgolnya yang masih di biarkan.
"Well... Memohon lah padaku, mungkin aku bisa membantumu" Daniel bergumam lirih dengan senyum kemenangan yang belum sirna.
Renata menarik nafas dalam - dalam, meski hatinya tak menginginkan tapi....
"Please....!" Renata mengulurkan sepasang pangkal lengannya dengan senyum dan mata yang mengiba.
Daniel Terkekeh ringan, "Tapi ini tidak gratis"
"Aku rasa kamu lebih baik dari pada lelaki yang menodongkan pistol padaku sebelumnya"
"Cukup objektive" Daniel segera menoleh ke arah Magdalena Rodrigues yang sudah hampir spai pada pintu keluar.
"Aku punya alasan kenapa aku tertangkap dengan wamita ini" Daniel mengedip ringan ke arah Renata.
Magdalena menghentikan langkahnya dan segera memutarkan tubuhnya, memiringkan kepalanya untuk melihat lebih jelas sosok Remata yang terhalang setengah tubuh Daniel.
"Tamu yang sedang menungguku juga mengingunkan wanita itu" Magdalena tersenyum singkat "Renata Boldovino??"
Renata mengangguk otomatis, ini pertama kali dua dupanggil denga nama belakang suaminya. Benar.... Ini culture bangsa mereka yang segera mencantumkan nama belakang suami pada istrinya.
Magdalena melambaikan tangannya untuk mengisyaratkan pelepasan borgol renata.
"No....!!!" Vittorio segera complain. "You got your guy, I got my girl" Suara Vittorio lebih meninggi.
Dengan langkah cepat Magdalena segera menghampiri putra keaayangannya itu dan tanpa sepatah dua patah kata pembuka sebuah tamparan di layangkannya pada sisi kanan pipi putranya.
__ADS_1
"Yang aku pesan dari Daniel, adalah kepentingan klan kita. Dan yang kau lakukan hanya karena kebencianmu pada Antonio saja"
"Tapi.... Aku sudah susah payah mendapatkan wanita ini, dia selalu menempel dengan Antonio" Vittorio langvsung mengoceh membela diri, seolah tamparan itu benar - benar tak terasa.
Sementara Daniel hanya menikmati suasana itu dengan senyim kecil dan alisbyang terangkat jenaka.
"ck.. Ck.. Aku tidak paham kenapa berada di sisi Anthony membuatku jadi rebutan?" gerutu Renata yang memandangi ibu dan anak itu sedang bertengkar.
"Tunggulah, kamu akan segera tahu" jawab Daniel ringan seiring denga langkah Magdalena yang sedang menuju Renata.
"Nona... Berapa lama kamu sudah bersama Antonio?"
"Bertahun - tahun, hingga kami menikah" jawab Renata jujur.
Magdalena memicingkan matanya sejenak.
"Anthonio sempat menghilang sepuluh tahun lamanya, jadi selama itu kamu sedang bersamanya?"
"See..... Dia pasti tahu kemana saja Antonio selama ini dan apa yang di lakukannya sebelum kembali" Vittorio kini sudah bersanding tepat di sisi ibunya.
"Karena itu kamu tahu dimana letak lukisan Salvador Dali? " Kali ini Daniel ikut berpartisispasi.
Magdalena mengerutkan sepasang bibirnya dan kemudian menjentikkan jemarinya dengan cepat. Sepertinya itu isyarat yang membuat salah satu staffnya segera menghampirinya dengan sebiah telphon genggam.
" Halo....!!!" sapa Magdalena pada sosok yang ada di seberang "Aku ingin merubah kesepakatannya. Karena aku rasa istrimu cukup menarik"
******
Di seberang.....
Antonio memijat pelipisnya 'Oming kosong apa yang Renata jual, hingga gadis ingusan itu menarik di mata Magdalena?' tak sengaja mulutnya menjadi berdesis sejenak.
"Bukankah harusnya kamu mematuhi komitmen?" Antonio mulai sedikit khawatir kalau - kalau Renata hanya mengatakan Omong kosong soal lukisan Salvador Dali yang hanya sebatas dugaannya.
__ADS_1
"Ehem..." Jawab Magdalena dari seberang. "Bukankah kita sudah dalam tim yang lengkap sekarang, kamu, istri mudamu yang cantik dan juga seorang ahli archaeology, Daniel?"
"Daniel??" pekik Anthony "Kalian juga menangkapnya?"
"Hanya kebetulan" Magdalena menutup telphonnya.
DAMN!!!! Antonio membanting handphone di tangannya dengan sangat kencang.
Dengan sigap dia segera berdiri membisikkan beberapa kalimat pada orang di sampingnya.
Antonio tahu pasti, bahwa Magdalena tidak akan membiarkannya keluar dari rumahnya dengan mudah kali ini.
"Renata sialan!!!" Umpatnya sambil memukul sisi meja.
******
"Well... Nona, maafkan kelancangan putraku yang mempercayai rumor terlalu cepat" senyim magdalena terlihat sempurna tapi tetap sedikit mengerikan "Tapi ternayata kamu benar - benar Nyonya Boldovino. Bukan hanya sugar baby panggilan"
"Hah.... Yang benar saja! Apakah aku terlihat murahan?"
Daniel bersiul ringan. "Semua lelaki berharap wanita secantik dirimu murahan karena kami sedang menunggu giliran untuk bersamamu. Bukan begitu vittorio?" Daniel tersenyim penuh arti pada Vittorio yang masih nampak dongkol dengan keputusan ibunya.
"Well... Setidaknya itu aku" Daniel tertawa renyah dan mulai mengikuti langkah Magdalena yang meninggalkan ruangan tanpa ada kata lagi.
"Kenapa kamu tidak bilang kamu sudah mengenal cukup lama Antonio?" gumam Vittorio yang memilih melepaskan Borgol Renata denga tangannya sendiri.
"Hei.... Apakah kamu memberi kesempatan untuk percaya padaku. Bukankah aku sudah memberimu penawaran dan kamu menolak?" Renata menggerakkan peegelangannya yang baru saja bebas.
Vittorio hanya mendengus kesal. Semua kata Renata memang benar.
"Gadis sepertiku tidak mungki bisa di rayu hanya dalam semalam, yang benar saja!!" Renata mengomel denga langkah yang psti mengikuti kemana Daniel dan Magdalena menghilang.
******
__ADS_1