Sugar Baby (Paranoia)

Sugar Baby (Paranoia)
Harap


__ADS_3

Aku baru tahu kalau usia pertengahan 30an masih bisa di anggap muda" Gumam Anthony lagi dengan senyum sedikit mengejek "Bukankah dia lahir dan besar Di tengah klan kalian, hatusnya sudah faham dengan benar"


Magdalena menggeleng samar, rasa kecewa pada putranya yang sangat terburu - buru tak dapat dia tahan. Seharusnya putranya bisa berbagi informasi dengannya terlebih dahulu, tentang rencana memaksa Anthony lewat Renata. Kalau seperti sekarang urusannya menjadi tidak sederhana. Terutama dengan ayah Anthony yang rupanya juga ikut turun tangan.


******


Letak Lukisan dan Retina Anthony yang menjadi kunci utama untuk membuka brangkas sudah ada di ruang makan keluarga Rodriguez. Lengkap dengan Ahli membaca kode hingga bahasa ibrani yang handal dan juga seorang ahli seni serta archaeology yang dapat mengenali dengan cepat, asli atau palsu suatu benda, Daniel.


Yang kurang hanya rencana menjebak ketiganya yang harus di ubah karena kedatangan ketua besar dan sesepuh Klan Boldovino, Rossario Boldovino. Membuat masalah dengannya sama dengan mencari perkara dengan hampir 70% Mafia di Eropa.


"Seharusnya kamu mengabariku apabila ingin mampir ke tempatku" Magdalena mencoba berbasa - basi. Sambil mencoba menyelami otaknya sendiri bagaimana bisa menahan tiga kartu emasnya, tanpa Rosario ikut campur.


"kita bukanlah orang lain, kamu dan suamimu sudah menjadi bagian akar dari keluarga kami. Dari segi posistive dan negative" Entah pujian atau sindiran untuk kalimat Tuan Rossario saat ini.


Keluarga Rodriguez memang menjalin kerja sama. Tapi persaingan dan permusuhan juga terjadi dalam sejarah mereka. Samar - samar perang dingin juga terjadi pada generasi yang lebih muda seperti, antara Anthonio dan Vittorio.


"Hmmmm...." Magdalena hanya menanggapi singkat seiring potongan daging turkey berlapis butter yang dikunyahnya.


"Tanpa mengurangi rasa hormat, aku tidak bermaksud untuk terburu - buru. Tapi Anthony banyak menunda hal penting yang membuatnya harus segera pergi" Rossario melempar senyim pada putra angkatnya itu "Bukan begitu Anthony?"


"Tentu saja, aku hanya mampir untuk menjemput istriku. Bagaimanapun dia adalah pegawai di kantorku, banyak data yang harus di selesaikannya sebelum esok tiba"

__ADS_1


Renata hanya memutar maniknya, sati sudut bola matanya mengarah pada Daniel yang seperti tidak peduli dan hanya tenang menikmayi hidangannya meski luka robek di pahanya nampaknya masih belum kering benar.


"Aku harap Vittorio tidak keberatan untuk itu"


Vittorio hanya mampu diam, kali ini dia mencoba melirik ibunya untuk memjnta pendapat.


"Aku tidak bermaksud menahan, tapi aku tidak akan keberatan kalau Antonio dan istrinya bisa bermalam sejenak meski hanya aemalam di kediamanku, mengingat kami lama tidak bertemu" Magdalena mengusap bibirnya dengan napkin linen di tangan kirinya "Kami mempunyai fasilitas cukup untuk pekerjaan dan kenyamanan kalian"


"Mungkin aku yang tidak keberatan" Daniel menyambut tawaran Magdalena dengan ringan dan senyum seperti biasa.


"its Good...!!" Sambut Vittorio yang merasa sedikit mendapat angin segar bahwa tangkapannya tidak akan lolos, setidaknya sampai esok pagi.


Tapi Daniel membating ringan, napkin ke dalam piringnya yang telah kosong "Tapi helikopterku akan sampai di halamanmu dalam tiga menit, aku butuh pengobatan khusus mengingat golongan darahku yang special"


Tanpa sungkan Daniel mengulurkan tangannya kepada Renata.


"Aku tahu dia istrimu, tapi... Dia punya kebebasan untuk memilih" Sepasang Manik Daniel menyelam pada Renata yang sedang merasa pada posisi sulit.


Mungkin mudah melawan Anthony saat dia hanya sendiri. Tapi dengan tuan Rosario di sampingnya.... Buka perkara mudah menyingkirkan rasa sungkan.


"Kamu juga bisa Antonio...!" Kali ini Daniel menoleh pada Anthony yang tidak menyurutkan pandangan geramnya pada Daniel "Kecuali kamu ingin di tabrak dengan mobil beberapa kali dalam peejalanan pulang" Daniel memgangkat kedua bahu dan alisnya secara bersamaan. Sebelum kedua bola matanya mengarah pada Vittorio.

__ADS_1


Anthony mendengus kesal, akan kebenaran ucapan Daniel. "Bukan pilihan yang buruk" sahut Anthony yang langsung di sambut dwnga genggaman tangan Daniel pada Renata.


"Suamimu sudah setuju..." Daniel segera berdiri, tanpa sungkan dia menarik Renata yang masih terbengong dengan Kelakuan Daniel yang selalu santai tapi juga menohok "Thank you for your dinner Magdalena, aku aka mengirim tagihan pengobatanku segera padamu, mengingat ini termasuk dalam kecelakaan kerja"


Magdalena hanya yersenyum miring dan tak sanggup mencegah Daniel kalau sudah begini. Bagaimanapun lelaki itu saat ini adalah satu - satunya orang yang merupakan jalannya menemukan barang yang paling di inginkannya tanpa menimbulkan kegaduhan berarti.


"Ah..!!" Daniel segera berputar menghadap Anthonio yang rupanya mulai mengekor di belakangnya.


"Renata, akan bersamaku dan kamu naik helikopter kedua denga Om Rossario" Daniel kemudia beralih pada Tuan Rossario yang juga bari muncul di belakang Antonio.


"Aku tidak berminat dengan ledakan peluru lagi di ruang dwngarku, lebih baik aku kehilangan satu helikopterku"


Tanpa menunghu jawaban Daniel segera menarik Renata bersamanya, dan tanpa perlawanan. Meski Renata masih ragu antara bersama Daniel atau Anthony.


Sebenarnya Renata berharap Anthony akan meraih tangannya dan mencegah apapun caranya agar dia bisa bersama Renata. Tapi kenyataannya hingga pintu helikopter tertutup Anthony masih tidak bergeming, dia malah menabur pandang pada helikopter milik Daniel yang lain yang baru saja mendarat.


Renata mendengus kasar, dia rasa dia tak perlu bersikap tetap baik - baik saja di depan Daniel.


"Kamu berharap bersama Anthony?" pertanyaan Daniel membuyarkan wajah lesu Renata. Tanpa ragu Renata kembali menata wajah galaknya seperti semula.


"Bukan Urusanmu..!!" Hardiknya.. "Jalan..."

__ADS_1


"


__ADS_2