
Nama aku, Syaira Dwi Putri. Anak Kedua dari dua bersaudara, aku mempunyai seorang kakak perempuan yang sedang menempuh pendidikan di-luar negeri.
Tidak ada yang istimewa dari-ku. Aku seperti gadis biasa seperti umumnya, tapi Mungkin aku sedikit ceroboh dan manja.
Aku dan kakak-ku terlahir di keluarga yang bisa di bilang kaya, karna itu kami selalu di-manja oleh kedua orang tua kami. Walau kami di perlakukan sama, pada akhirnya kami mempunyai sifat dan keribadian yang berbeda. Sifat-ku seperti gadis polos yang tidak tau apa-apa, sedangkan kakak-ku dia wanita yang mandiri dan sangat pintar.
Aku ingin sekali jadi seperti kakak, menjadi gadis yang mandiri dan pintar. Tapi aku sadar itu tidak mungkin, karana kata ibu, aku lebih istimewa dari pada kakak.
Walau aku mempunyai sifat polos dan ceroboh. Aku sagat tahu batasan dan kewajiban seorang wanita, karana orang tua-ku selalu mengajarkan agama kepada-ku.
Dari kecil aku selalu sedih saat mendengar perkataan orang-orang yang selalu menyebut-ku wanita bodoh. Hati-ku kesal dan sedih saat mendapat perlakuan sepeti itu, tapi saat aku pertama kali baca Al-Qur'an, hati-ku terasa tenang dan tentram, dan mulai dari situlah aku mencoba mengiklaskan semuanya.
"Assalamualakun.." Ucap Syiara sebelum memasuki rumahnya.
"Waalaikumsalam.."
Terdengar suara Indra dan Tiara menjawab salam putrinya, Syaira sedikit tersenyum mendengar itu, ia langsung mencari keberadaan orang tuanya. Saat mata cantiknya sudah menemukan sosok yang ia cari, Syiara langsung mendekat ke arah orang tuanya, lalu ia mencium tangan kedua orang tuanya.
"Syaira, kemari duduk di samping Abi. Abi ingin membicarakan sesuatu" Ucap Indra ayah Syaira.
Syaira sedikit mengangguk sebelum ia duduk di samping ayahnya. Suasana menjadi hening ketikan Syaira sudah duduk di samping ayah nya, mata Syiara tidak henti-hentinya memperhatikan kedua orang tuanya dengan wajah binggung.
"Ada apa!! kenapa wajah kalian seperti itu?" Tanya Syaira sambil matanya terus memperhatikan kedua orang tuanya.
"Begini nak!! kamu tau bukan, Abi dan Ummi ingin sekali mengendong cucu. Kakak-mu itu tidak bisa di harapkan mengenai hal ini, Abi dan Ummi hanya bisa berharap kepada-mu" Ucap Indra ayah Syaira.
Syiara semakin binggung saat mendengar ucapan ayahnya, dia tidak mengerti maksud dari ucapan ayahnya. Apa ayahnya Ingin Syaira menikah?.
"Teman Abi-mu, mempunyai anak laki-laki. Namanya Firman" Kata Tiara ibu Syaira, membut Syaira sedikit mengerti maksud ucapan kedua orang tuanya.
"Apa Abi dan Ummi akan Menjodohkan Syaira, dengan laki-laki itu?" Tanya Syaira.
__ADS_1
Kedua orang tua Syaira seketika terdiam saat mendengar pertanyaan putrinya, Tiara dan Indra binggung harus mejawab apa. Tetapi Syaira saat melihat keterdiaman kedua orang tuanya, ia langsung yakin dengan hal itu.
"Abi dan Ummi sangat tahu mengenai kondisi Syaira saat ini, tidak mungkin Syaira menikah sekarang, apa lagi mempunyai seorang anak. Suami Syaira nanti tidak akan bisa menerima Syaira yang seperti ini"
Air mata Syaira tidak bisa terbendung, ia langsung menangis saat mebayangka tentang suaminya nanti. Syaira ingin sekali menolak perjodohan ini, tapi saat melihat wajah kedua orang tuanya yang sangat khawatir, ia sepertinya tidak punya pilihan lain.
"Baiklah. Bismillah!!! Syaira siap untuk menikah dengan laki-laki pilihan kalian, jika ini keinginan kalian Syaira akan menurutinya" Ucap Syaira, membari menghapus air matanya.
Mungkin inilah yang terbaik untuk Syaira, ia tidak ingin membuat kedua orang tuanya semakin khawatir.
Jika laki-laki itu jodoh Syaira, dia akan menerimnya dengan sepenuh hati. Jika ini yang di takdirkan Allah, siapapun tidak bisa menghindarinya.
****
Pagi ini Syaira berencana untuk menemui sahabat terdekatnya, tadi malam ia sempat menelpon sahabatnya. Syaira juga sedikit menceritakan mengenai perjodohan yang orang tuanya rencanakan.
Mereka berjanji bertemu di sebuah Cafe milik seniornya yang bernama Juna. Juna sering membantu Syaira, ketika wanita itu terkena masalah. Juna sudah seperti kakak laki-laki bagi Syaira, tapi saat ini sepetinya Juna sedang tidak ada di Cafenya. Dia pemuda yang sangat sibuk.
"Lo udah gak waras!!! kalo gue jadi lo, gue langsung menolak mentah-mentah perjodohan itu. Lo belum kenal dia laki-kali seperti apa, Syaira".
Naila langsung menggelengkan kepalanya, saat mendengar ucapan Syaira, ia seakan tidak percaya dengan sifat Syiara yang sangat penurut seperti ini.
"Lo kan selalu bilang, kalo lo mau nikah dengan laki-laki yang tampan dan iman-nya kuat".
Syiara langsung tersenyum saat mendegar perkataan Naila, tadi malam ayahnya sudah menujukan foto calon suaminya. Menurut Syaira calon suaminya sangat tampam, wanita itu langsung menyukai wajah calon suaminya.
"Naila tidak usah khawatir, calon suami Syaira sangat tampan, dan mengenai imannya. Kami bisa saling belajar satu sama lain nanti".
Naila sedikit membuang muka ke samping, saat mendengar Syaira terus memuji wajah calon suaminya. Sebenarnya setampan apa laki-laki itu!!! hebat sekali dia bisa membuat Syaira terpukau dengan wajahnya saja. Naila tahu kalau Syaira gadis yang polos, tapi tidak bisanya sahabatnya ini memuji fisik seseorang.
Tapi jika di pikir-pikir lagi, mungkin lebih baik Syaira memang harus di jodohkan saja. Sahabatnya ini tidak pernah pacaran, bahkan teman laki-lakinya saja hanya ada dua. Sifat Syaira yang sangat polos dan ceroboh, membuat laki-laki susah bertahan menghadapi sikap Syiara yang sepeti anak kecil.
***
__ADS_1
Sahabis Salat Isya Syaira melanjutkan aktifitas sehari-harinya, membaca AL Qur'an. Tidak terasa jam sudah menunjukan pukul 9-malam, Syaira memutuskan bersiap-siap untuk tidur. Hari ini sangat melelahkan untuk Syaira, ia ingin secepatnya tidur.
Drett.... Drett.....
Bunyi getara ponsel milik Syaira, membut wanita itu mengurungkan niatnya untuk tidur. Syaira mengambil poselnya, seketika Syaira tersenyum setelelah membanca nama di layar ponselnya.
"Assalamualakun Kak...." Ucap Syaira mejawab pangilan Adelia.
"Dek!!! kamu beneran mau nikah?" Saut Adelia di seberang sana.
Syiara langsuang menghela napas, saat kakanya menanyakan hal itu. Adelia selalu seperti ini, dia selalu engan menjawab salam Syiara terlebih dahulu. Adelia selelu ingin terburu-buru.
Tapi saat ini Syaira sedikit memakluminya, mungkin saja kakak terkejut mendengar kabar perjodohan Syaira.
"Iya kak... Ini semua karana kakak yang tidak mau pulang" Kata Syaira menjawab pertanyaan Adelia dengan nada kesal.
Syaira menjadi ingat perkataan ke-dua orang tuanya, yang mengatakan bahwa seharusnya Adelia yang menikah dengan anak teman ayahnya. Tapi Adelia yang yang sangat keras kepala tidak mau kembali, alhasil Syiara yang menikah dengan anak teman ayahnya itu.
"Baguslah!! kamu memang harus cepat menikah, agar kamu sedikit pintar"
"Ishhhh!! ka—kak" Ucap Syaira dengan suara sedikit di buat manja.
Dengan kesal Syaira langsung mematikan pangilan begitu saja, ia merasa sebal saat mendengar Adelia tertawa. Syaira yang tidak mau ambil pusing dengan perkataan kakaknya tadi, ia langsuang melanjutkan niatnya untuk tidur, besok Syaira akan bertemu calom suaminya.
Membayangkanya saja sudah membuat hati Syaira berbunga-bunga, apa lagi kalau dia melihat wajah tampan calon suaminya!!!.
Dalam tidurnya Syaira selelu berdoa, semoga nanti suami Syaira bisa menerima kondisi Syaira apa adanya. Syiara hanya ingin mendapatkan cinta dan kasih sayang dari suaminya dengan tulus.
TO BE CONTINUED.
____________________________
__ADS_1
HOPE YOU LIKE IT!
JANGAN LUPA LIKE+VOTE+KOMEN+SHARE KE TEMAN KALIAN♡