
Dengan wajah bosan Syaira terus berjalan mengelilingi penginapanya, wajah cantiknya terus cemberut memikirkan suaminya. Tadi saat wanita cantik itu terbangun suaminya tidak ada di sampingnya, sepertinya Firman sedang banyak perkerjaan.
Dret....Drett.... Dret....
Syaira sedikit menghela napas saat merasakan ponselnya bergetar, matanya dengan malas sedikit melihat layar ponsel yang berada di gengamanya. Wajah wanita itu langsung berbinar saat membaca nama di layar ponselnya.
"Ba—ra........" Syaira menjawab pangilan itu dengan intonasi yang sedikit keras. Ia sangat bahagia karana sahabatnya menelpon dirinya.
"Waalaikumsalam. Gadis kecil" Ucap Bara dengan nada becanda.
"Eh. Maaf, Syaira lupa mengucapkan salam" Kata Syaira, menyadari kesalahannya.
Bara terus terseyum di seberang sana, gadis kecilnya masih sama seperti dulu. Orang lain mungkin menyebut tingkah Syaira seperti wanita bodoh, tapi Bara tidak pernah mengangap Syaira bodoh.
Bagi Bara mau bagaimanapun kondisi Syaira. Wanita itu tetap sahabatnya yang sangat polos dan lugu, yang sangat Bara sayangi.
"Bagaimana?. Apa kamu bahagia?" Tanya Bara. Laki-laki itu tahu kalau Syaira sudah menikah karana sebuah perjodohan.
"Tentu saja" Kata Syaira. Menjawab pertanyaan Bara dengan percaya diri.
"Baguslah. Kamu Ingat!! kan, jika kamu tidak bahagia, belari lah kepada ku. Aku siap memeluk mu, seperti dulu" Ucap Bara. Membuat Syaira tersenyum, mendengar perkataan Bara.
Selama ini, Bara adalah penyemangat Syaira. Laki-laki itu selalu membantu Syaira dengan tulus, saat Syaira sangat ketakutan akan dunia luar.
Jika tidak ada Bara. Mungkin saja Syaira hanya tinggal di dalam kamar tampa berani untuk melihat dunia luar dan berbicara dengan orang lain.
"Baik. Pak bos......" Kata Syaira dengan nada bergurai. Bara selalu bisa membuat hati Syaira tenang.
Pelukan Bara bagaikan pelukan seorang kakak laki-laki yang selalu menjaga dirinya. Saat melihat Bara Syaira selalu mengingat kakak perempuannya. Walau Adelia selalu bersikap kasar, Syaira selalu yakin kalau kakak perempuannya sangat menyayanginya.
Sedangkan bagi Bara, Syaira adalah sosok rapuhnya Adelia. Adelia selalu bisa menyembunyikan kelemahanya, tapi Syaira tidak seperti Adelia. Karna itu Bara memutuskan ingin selalu menjaga Syaira, yang sepeti sosok gadis kecil baginya.
****
Setelah berbicara dengan Bara, Syaira memutuskan melanjutkan berkeliling. Tidak sepeti tadi, sekarang Syaira terus terseyum sambil melangkahkan kakinya. Bara selalu bisa membuat Syaira kembali bersemangat.
"Hay,,, can—tik...."
Sapa Seorang laki-laki, yang sudah menepuk pundak Syaira dari belakang. Syaira sontrak terkejut, wanita itu langsung menengok ke belakang. Siapa yang berani menyentuh Syaira?.
Saat matanya sudah melihat hujud laki-laki yang tadi menepuk pundaknya, Syaira langsung tersenyum. Ternyata laki-laki itu adalah sahabat suaminya, Brian.
__ADS_1
"Brian!!..."
Brian hanya sedikit mengangukkan kepalanya saat melihat wajah Syaira yang menjadi bahagia saat melihat nya.
"Apa Brian mau menggajak Syaira untuk beli es krim lagi?,,," Tanya Syaira tiba-tiba.
Dengan wajah binggung Brian terus berfikir apa maksud dari perkataan istri sahabatnya yang aneh ini. Es krim?.
"Brian...." Ucap Syaira dengan nada kesal karana Brian tetus menatap wajahnya tampa menjawab pertanyaan Syaira tadi.
"Oh yaa.... Tentu saja, Es kirim" Kata Brian, berusaha mengingat kejadian kemarin.
"Asik.... Asik......" Ucap Syaira sambil melompat-lompat sepeti anak kecil.
Brian terus mengaruk kepala bagian belakangnya saat melihat tingkah Syaira yang sepeti anak kecil. Brian semakin binggung melihat tingkah Istri sahabatnya yang sepeti ini. Tapi sebaiknya lupakan saja pertanyaan itu, karana Brian harus melanjutkan tujuan utamanya.
"Bukan hanya es krim. Aku juga Ingin membelikan kamu gaun untuk acara nanti malam"
Gaun?... Ahh yaa, untung saja Brian mengingatkan Syaira degan perkataan suaminya tadi malam. Hampir saja wanita itu lupa mengenai acara nanti malam, kalau Syaira sampai lupa pasti suaminya akan memarahinya.
"Terimakasih... Syaira hampir saja lupa"
"Baiklah ayokk kita belanja, Aku ingin kamu menjadi Wanita tercantik di pesta nanti" Kata Brian.
Brian terus memperhatikan wajah sedih Syaira. Ia tahu apa yang ada di pikiran wanita di sampingnya ini. Pasti Syaira berharap Firman yang mengatakan kata-kata itu, dan juga pasti dia berharap suaminya yang mengajaknya belanja bukan Brain.
Brian tidak percaya dengan kebodohan Firman. Dia tahu Sahabatnya itu memikirkan keadaan istrinya ini, Tapi sahabatnya teralalu keras kepala. Dia bahkan tidak berani mengajak Istrinya pergi, dan malah menyuruh Brian melakukan hal ini semua. Kapan Briam.akan menyadari perasaanya itu?.
****
Beberapa jam yang lalu....
Pagi-pagi sekali Firman langsung meninggalkan istrinya begitu saja, laki-laki itu mencuri kesempatan saat melihat istrinya masih bersiap-siap untuk shalat subuh di kamar mandi.
Dengan langkah cepat Firama langsung pergi ke kamar sahabatnya. Tampak sahabatnya itu yang masih terlelap di tempat tidurnya.
"Bangun..." Ucap Firman dengan nada perintah.
Firman terus berusaha membangunkan sahabatnya yang masih saja tidak mau bangun itu. Dengan kesal Firman langsung mengambil air yang berada di dekatnya.
Byurr.......
__ADS_1
Brian yang merasakan wajahnya terkena air secara tiba-tiba langsung bangkit dari mimpi indahnya. Ia sedikit menengok ke kiri dan ke kanan, untuk memastikan apa yang terjadi.
Brian fikir tadi itu ada bencana alam. Tapi saat matanya menagkap sosok yang sedang berdiri di sampingnya sambil memegang gelas, wajahnya menjadi kesal.
"Why......" Kata Brian dengan nada kesal.
"Bukanya lo mau ngedeketin Syaira?, Ini waktu yang tepat. Ajak dia untuk membeli gaun untuk acara nanti malam." Kata Firman.
Brian langsung menjadi malas saat mendengar perkataan Firman, lagi-lagi masalah istri sahabatnya itu. Yatuhan kenapa Brian harus di paksa menjadi orang ketiga, dalam hubungan mereka. Menyebalkan sekali.
"Lo gak liat ini jam berapa. Ini masih malem" Ucap Brian.
"Ini udah pagi"
"Ini masih malem Firman. Liat tuh langit masih gelap" Ucap Brian, dengan kesal tanganya menunjuk ke arah jendela kamarnya.
Mata Firman sempat melihat ke arah jendela, ia langsung menghela napas. Sahabatnya ini benar-benar bodoh.
"Lo makanya shalat subuh" Ucap Firman dengan nada kesal.
Brian sama sekali tidak peduli dengan perkataan sahabatnya itu, matanya langsung tertutup lagi.
"Masih tidak bangun?" Ucap Firman dengan nada tegas nya.
Shit... Dengan kesal Brian melemparkan bantal yang tadi dia gunakan ke arah Firman. Kenapa sahabatnya ini selalu mengangunya?, Brian sangat lelah menghadapi Firman. Ia langsung bergegas ke kamar mandi, meningakan Firman begitu saja. Sebaiknya dia tidur di kamar mandi saja.
"Jangan tidur di kamar man—di" Teriak Firman.
Brian sama sekali tidak mendengarkan perkataan sahabatnya itu, karana saat ini matanya benar-benar mengantuk. Kalau saja Brian bisa mengusir sahabatnya itu, mungkin sudah ia lakukan. Tapi percuman saja Brian usir, Firman yang penuh kekuasaan bisa dengan mudah mendapatkan kunci kamarnya
-------------------------------------------------
**Jika Kamu Senang Membaca Cerita Ini**
**Jangan Lupa Untuk**
Like
Komentar
Dan Juga Vote
__ADS_1
Kritik dan Saran Author Terima
**Jangan Lupa Juga Untuk Join Ke Grup dan Follow Author Agar Kita Semakin Dekat.. Terima Kasih**