
"Bagi kalian yang berzodiak Scorpio, jimat keberuntungan kalian adalah Pensil warna Pink. Jika kalian membawanya, hari ini akan jadi hari paling beruntung bagi kalian!!"
*Paaatz*
Seorang remaja laki-laki yang mengenakan seragam sekolah mematikan siaran tv tersebut.
Wajahnya yang masih mengantuk mengambil roti panggang buatan ibunya itu.
"Ibu, kenapa tiap pagi selalu saja menonton ramalan payah itu" ucapnya.
"Yah karena tidak akan tahu apa yang akan terjadi hari ini, lagi pula ramalannya selalu tepat kok" jawab ibunya.
Anak laki-lakinya itu hanya diam dan fokus memakan roti panggangnya.
Ia melihat jam tangan miliknya dan bergegas untuk berangkat sekolah menaiki sepedanya.
Langit hari itu tampak mendung.
Padahal menurut perkiraan cuaca yang tadi ia baca hari ini akan cerah.
Tiba-tiba saja ban sepeda miliknya bocor, tentu saja dengan sangat terpaksa dia menuntun sepedanya.
Saat sedang tenangnya menuntun sepeda tiba-tiba ada seseorang yang berlari ke arahnya dan meletakkan dompet di keranjang sepedanya.
Karena pria itu berlari sangat kencang, dia jadi tak sempat berteriak tapi suaranya terlalu kecil dan lemas jadi sama saja percuma.
Ia mengambil dompet itu, dompet perempuan berwarna pink.
Belum lama ia melihat tiba-tiba sebuah kaki mendarat tepat di wajahnya yang membuat dia jatuh pingsan
"Makan tuh kakiku, dasar pencuri. Baru sekali tendang saja sudah pingsan" Ucap seorang gadis berambut coklat.
Seorang wanita paruh baya menyusul dari belakang gadis itu.
"Nak, dia bukan pencurinya" ucapnya.
"Eh? EH?! T-TUNGGU DIA BERDARAH!!! AKU SUDAH MEMBUNUHNYA!!!" teriak gadis itu.
Wanita paruh baya itu langsung mencoba menghubungi ambulance
Saat ini anak laki-laki itu sedang duduk di kasur UGD sebuah rumah sakit.
"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku"
Anak laki-laki itu hanya melototi gadis yang terus meminta maaf itu.
"Anu, kukira kamu pencurinya. Maaf sudah salah sangka, Namaku Yurika Miura".
"Hah, oke gadis preman...." Jawab anak laki-laki itu.
"Ha? Namaku Yurika!"
"Masa bodo, gadis preman lebih baik"
"Apa Kau bilang?!"
Yurika menarik baju seragam anak laki-laki itu.
Ekspresi laki-laki itu begitu datar membuat Yurika makin kesal.
Tak lama dokter datang dan mengatakan kalau dia sudah bisa pulang.
"Hey dengar ya, aku sudah membayar uang rumah sakitnya jadi berhenti panggil aku-"
"Jangan sampai kita bertemu lagi, gadis preman"
__ADS_1
"WOY!!"
Tampaknya anak laki-laki itu tidak peduli dan langsung bergegas pergi.
Saat hendak melangkah keluar rumah sakit tiba-tiba hujan turun dengan lebat, padahal baru 1 kakinya yang menginjak sisi luar rumah sakit.
Terpaksa dia harus menunggu hujan reda karena hari ini dia tidak bawa payung.
Tak lama, sebuah mobil hitam berhenti di depannya.
Pintu mobil itu terbuka dan terlihat Yurika yang duduk di dalam mobil.
Dengan paksa Yurika menarik dia masuk ke dalam mobil.
Selama perjalanan mereka hanya diam dan tidak saling memulai pembicaraan.
Yurika makin kesal.
"Hey dengar, tadi itu aku kebetulan mau pulang dan aku melihatmu seakan berharap tumpangan jadi-"
"Pertama kamu mencoba membunuhku, dan sekarang menculikku, gadis preman"
"Hey hey, berhenti memanggilku begitu. Setidaknya kau mengatakan namamu padaku!"
Anak laki-laki itu hanya diam seakan tidak mendengar apa yang di katakan oleh Yurika.
Yurika pun kesal dan ikut diam.
Sampailah mereka di sekolah, mereka pun turun dari mobil dan hendak masuk kelas.
"Dengar kita berpisah disini tidak usah berterima kasih padaku dan berusaha mengiku-"
"Terserah"
Yurika jadi kesal sampai-sampai banyak murid yang memperhatikan tingkah anehnya saat kesal itu.
Yurika berjalan ke kelasnya dan terus berguman tidak jelas.
*Sraaaak*
Ia membuka pintu kelas dan di dapatinya kalau anak laki-laki itu ada di kelasnya.
Dia duduk di bangku tepat di belakang Yurika.
"Kau?! Kenapa kau disini?"
Namun anak itu tidak menjawab.
Lalu teman kelasnya bernama Aoi menghampirinya dan berbisik padanya.
"Yurika dia itu teman sekelas kita, namanya Ryo Hayama. Kita juga kaget karena selama ini dia tidak pernah masuk sekolah"
"HAAAA?!"
Ryo Hayama, murid kelas 3 yang dari awal pendaftaran masuk sekolah tidak pernah ke sekolah sama sekali.
Sampai akhirnya di tahun ketiga ini dia akhirnya memutuskan untuk ke sekolah.
Selama ini dia mengikuti kelas online, nilainya yang tinggi membuat seluruh siswa bertanya-tanya siapa yang menduduki peringkat 1 selama ini.
Namun Ryo adalah orang yang sangat pendiam dan tidak banyak bicara.
Hari ini pun, meskipun istirahat dia tidak beranjak dari kursinya.
Bahkan ia menolak ajakan teman-teman di kelasnya.
__ADS_1
Saat ini Yurika sedang bersama Aoi menikmati makan siang di kantin.
Yurika masih kesal dengan Ryo.
"Yurika? Apa kamu kenal dengan Ryo" tanya Aoi.
"Tidak, kebetulan saat aku mengejar pencuri aku kira dia yang mencuri jadi tidak sengaja aku menendang mukanya".
"Pfft"
Aoi menahan tawanya karena Yurika sudah cukup malu menceritakan hal ini pada sahabatnya itu.
Yurika melihat dari kejauhan tampaknya ada seorang murid yang tengah di ganggu sekumpulan brandalan di sekolah.
Yurika langsung berlari menghampirinya dan langsung menendang brandalan itu.
"Heee~ segitu aja kemampuannya?" Ucap Yurika.
"Menantang kami rupanya"
Mereka pun bertengkar sampai-sampai seorang guru datang untuk melerai mereka.
Namun guru itu malah terhempas karena tidak kuat melerai kedua monster sekolah itu.
Hingga secara tiba-tiba pukulan Yurika meleset yang membuat pukulannya salah sasaran mengenai Ryo yang sedang membawa buku menuju ruang guru.
*Bruuuuk*
Ryo langsung pingsan dengan mimisan di wajahnya.
"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku" Rukika terus mengucap maaf kepada Ryo di UKS.
Ryo hanya terdiam kesal.
Tak lama wali kelas datang dan menyeret Yurika ke ruang guru.
Ryo menghela nafas panjang.
"Itulah kenapa aku tidak mau masuk ke sekolah...." Ucapnya.
Sore hari saat hendak pulang, Ryo baru sadar kalau sepedanya yang bocor tertinggal di jalan saat ia pingsan.
Tak begitu lama, ia mendengar seseorang memanggil namanya.
Ternyata Yurika yang menuntun sepeda miliknya.
"Dengar baik-baik, aku baik loh membantumu memperbaiki sepeda jelek ini jadi setidaknya kamu bisa-"
"Terima kasih, dan aku maafkan kejadian hari ini" ucap Ryo pelan.
Sinar matahari di sore hari itu menyinari wajah Ryo yang tersenyum melihat sepeda miliknya.
Membuat Yurika berhenti berkata-kata.
Melihat begitu tampannya Ryo dengan wajah dinginnya itu.
Orang bilang, senyum dari seorang yang pendiam itu sangat menenangkan.
Dan saat ini Yurika percaya dengan hal itu.
Mengetahui Yurika yang terus melihat Ryo membuatnya langsung bergegas pergi dan pulang kerumah.
"Apakah aku pernah bertemu dengannya?" Ucap Rukika.
---------------------Bersambung----------------
__ADS_1