
Pagi ini, Ryo sedang membuat makanan untuk sarapan bersama kakeknya.
Sudah sejak lama kakek Ryo tinggal sendirian karena nenek Ryo sudah meninggal sejak Ryo duduk di bangku SMP, seringkali ayah Ryo mengajak kakeknya tinggal dikota namun kakeknya menolak dengan alasan tidak mau terlalu jauh dengan makam istrinya.
Saat sedang makan, kakek Ryo menawari Ryo untuk mengajak Yurika ke festival kembang api nanti malam.
Namun karena Ryo tidak terlalu suka keramaian jadi Ryo menolak.
Tiba-tiba handphone Ryo berdering dan ternyata panggilan tersebut dari Yurika.
Bukannya di angkat tapi Ryo malah menolak panggilan itu.
Setiap jam Yurika terus-menerus menelepon Ryo hingga membuat Ryo strees.
Sampai sore harinya, Yurika masih terus menelepon Ryo.
Karena sudah sangat kesal akhirnya ia pun mematikan ponselnya.
Tak lama ia mendengar ketukan pintu.
"RYO! KENAPA TIDAK ANGKAT TELEPONKU KAMPRET!"
Ternyata Yurika datang kerumah kakeknya sambil berteriak keras sehingga membuat tetangga yang lalu lalang melihat ke arahnya.
Ryo langsung keluar rumah dan meminta maaf pada para tetangga, lalu ia membawa masuk Yurika yang saat itu mengenakan Yukata.
"Maumu apa?" Tanya Ryo dengan raut wajah yang sangat kesal.
"Mau mengajak ke festival kembang api"
"Gak, aku tidak ma-"
"KAKEK AKU MINTA IZIN MEMBAWA RYO KE FESTIVAL YA?"
Kakek Ryo datang dan melemparkan dompet milik Ryo ke arah Ryo, lalu menyuruh Yurika membawa Ryo ke festival.
Dengan sangat bersemangat, Yurika menarik Ryo dan menuju ke tempat festival itu akan di laksanakan.
Ryo menanyakan alasan kenapa Yurika mengajaknya dan tidak mengajak Kei, Yurika pun beralasan kalau Kei sedang sakit meski sebenarnya tidak begitu.
Ryo sebenarnya tahu kalau Yurika sedang berbohong tapi dia mengiyakan saja.
Tanpa sadar sepanjang jalan mereka saling bergandengan.
Hingga Ryo melepaskan genggaman tangan Yurika.
Mereka saling terdiam dengan wajah mereka yang memerah karena malu.
Tak di sangka detak jantung mereka pun bertambah kencang membuat suasana semakin canggung.
Mereka pun akhirnya sampai ke tempat festival tersebut di laksanakan.
Di setiap jalan banyak sekali yang berjualan makanan dan menjual aksesoris, bahkan ada yang membuka kios permainan.
Yurika tertarik pada sebuah boneka yang terpajang di sebuah kios, namun jika ingin mendapatkannya harus berhasil menjatuhkan kaleng-kaleng yang sudah di susun sedemikian rupa.
Yurika memohon pada Ryo untuk bisa membantunya mendapatkan boneka tersebut, Ryo yang pasrah pun menuruti kemauan Yurika.
Dia di beri 2 kesempatan untuk menembak, pada kesempatan pertama Ryo gagal menjatuhkan kalengnya.
Dengan sangat tenang, Ryo mencoba berpikir kearah mana dia harus menembak agar semua kaleng itu terjatuh.
Dan akhirnya pada tembakan yang kedua ia berhasil menjatuhkan semua kaleng.
__ADS_1
Sebuah boneka pinguin yang lucu pun berhasil di dapatkan, lalu Ryo memberikannya pada Yurika.
Yurika langsung memeluk boneka itu, melihat wajah senang Yurika membuat Ryo merasakan sakit di dadanya.
Ia melihat beberapa orang yang hendak lewat karena takut Yurika akan tersenggol, ia langsung menarik Yurika dan memeluknya.
Yurika pun kaget dan mendongak melihat wajah keren Ryo.
Tangan yang tak sengaja menempel pada dada Ryo merasakan begitu kencangnya detak jantung Ryo.
Setelah beberapa orang itu lewat Ryo pun melepaskan Yurika.
Ryo terlihat jam tangannya dan langsung menggandeng tangan Yurika.
"Sebentar lagi akan dimulai, kita harus cepat cari tempat" ucap Ryo dengan wajah yang semakin memerah.
*
*
*
*
Mereka akhirnya mendapat tempat duduk.
Beberapa orang ada yang datang dengan teman, keluarga bahkan pacar mereka.
Mereka masih terdiam karena belum ada yang mau memulai pembicaraan.
Akhirnya, Yurika memutuskan untuk bercerita kenapa dulu tidak menpati janjinya untuk bertemu Ryo di hari ulang tahun Ryo.
Yurika bercerita bahwa di hari itu ibu Yurika tiba-tiba tidak sadarkan diri dan nafasnya tidak teratur.
Dan karena keadaan semakin memburuk, Ibu Yurika segera di bawa ke rumah sakit terdekat di desa itu.
Meski akhirnya ibunya mendapat perawatan yang membuat keadaan ibunya sedikit membaik namun kondisi yang kini di alami ibunya terpaksa harus segera melakukan operasi yang harus di lakukan oleh rumah sakit di kota besar.
Ayahnya selama ini bekerja di kota besar datang menjemput dan membawa istri beserta Yurika untuk ke kota besar.
Karena memang kebetulan ayahnya berencana mengajak keluarganya untuk tinggal di kota.
Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, ibu Yurika tidak terselamatkan karena saat operasi berjalan keadaan Ibunya semakin melemah sehingga operasi itu pun gagal menyelamatkan ibu Yurika.
Dan sejak saat itu pun Yurika dan ayahnya mulai tinggal di kota besar.
Ssetelah Mendengar cerita dari Yurika, Ryo hanya terdiam dan saat menoleh ke arah Yurika ternyata Yurika sedang meneteskan air mata.
Ryo langsung menghapus air mata Yurika.
"Tapi akhirnya kamu bisa menepati janji bukan? Jadi jangan merasa bersalah"
Mereka pun saling bertatapan.
Lalu setelah itu kembang api mulai menghiasi langit malam, Yurika terpukau melihat keindahan kembang api tersebut.
Ryo masih terus memperhatikan Yurika.
"Kenapa saat itu aku membantumu? Kenapa saat itu aku terus menunggumu? Lalu kenapa kita di pertemukan lagi dengan cara yang aneh. Kenapa saat pertemuan kita saat itu, aku tak ingat wajahmu sama sekali. Aku tidak suka dengan perasaan ini"
Guman Ryo dalam hati.
Tangan Ryo pun memegang pipi Yurika membuat Yurika menoleh padanya, wajah mereka saling berdekatan.
__ADS_1
"Yurika, apa aku sedang menyukaimu?"
"Eh?"
Bibir mereka pun bertemu dalam indahnya malam, tak peduli seberapa ramai dan bisingnya tempat itu Ryo terus mencium bibir Yurika.
Tapi tiba-tiba Ryo merasa Yurika menjadi lemah.
Setelah melepas ciuman hidung Yurika mengeluarkan darah dan Yurika saat itu pun sudah pingsan.
Karena merasa khawatir, Ryo langsung menggendong Yurika dan kembali ke rumah Yurika.
Ia berlari sekencang mungkin agar cepat sampai di rumahnya.
Hingga beberapa menit berlari ia pun sampai, pelayan di rumah itu yang kebetulan berada di luar rumah langsung membantu Ryo membawa Yurika masuk kemarnya.
Keluarga Nyonya Aiko yang mengatahui keadaan Yurika segera memanggil dokter pribadi yang sering membantu Pak Hiro.
Setelah menghubungi dokter, Nyonya Aiko juga menghubungi Pak Hiro.
Ryo terus berada di samping Yurika dan tak henti memanggil namanya.
Dokter pun datang dan memeriksa keadaan Yurika.
Dokter itu mengatakan bahwa Yurika harus segera di rawat di rumah sakit yang biasanya merawat dirinya.
Dan besok Pak Hiro akan menjemput Yurika bersama dengan Ryo kembali ke kota.
Karena dari itu, Ryo memutuskan untuk kembali kerumahnya dan bersiap membereskan barangnya.
Lalu ia langsung meminta izin pada kakeknya karena dia ingin menjaga Yurika sampai Pak Hiro datang menjemput mereka.
Ryo bergegas menuju rumah Yurika dan langsung meminta izin untuk berada di kamar Yurika untuk menjaganya.
Nyonya Aiko yang melihat ketulusan Ryo langsung menyetujui permintaan Ryo tersebut.
Ryo pun masuk ke kamar Yurika dan terus memegang tangan Yurika.
Ryo sangat khawatir, terakhir kali saat melihat Yurika pingsan perasaannya tak selhawatir ini.
Ryo terus mengusap-usap kening Yurika.
Esok harinya Pak Hiro pun sampai kekediaman lamanya dan menengok keadaan Yurika.
Terlihat Ryo yang seperti terjaga semalaman untuk menjaga Yurika.
Pak Hiro langsung membawa mereka pulang kembali ke kota.
Ryo duduk di depan bersama pak Hiro yang hari ini menyetir sendiri.
"Ada satu hal yang mungkin Yurika rahasiakan padamu Ryo, sebenarnya Yurika..."
--------------------Bersambung-----------------
Haloo para Reader's sekalian!!
Sekarang kalian bisa berdonasi untuk Author di link Trakteer di bawah ini ya!
https://trakteer.id/pican-goreng-rtxcn
Hanya dengan Rp. 5000 kalian sangat membantu Author untuk bisa berkembang dan berkarya!
Terima Kasih Banyak !!
__ADS_1