SYNCHRONICITY

SYNCHRONICITY
Bagian 17


__ADS_3

"Wah ramalan hari ini sangat unik! Bagi nama panggilannya dimulai dari huruf abjad R, hari ini bukan hari yang bagus untuk keluar rumah. Karena bisa saja hari ini kamu ditimpa kesialan"


Ryo mematikan televisi dan duduk di meja makan.


Seperti biasa, ibunya selalu memutar acara pagi favoritenya.


Ibunya meletakkan sepiring sarapan untuk Ryo.


"Hah, ini bukan hari keberuntunganmu ya" ucap ibunya sambil menyetel kembali saluran televisi tersebut.


"Ibu kapan kembali kerja?"


"Setelah kamu mengatakan keinginanmu di hari ulang tahunmu"


Ryo membuang nafas dan mengatakan kalau dia akan memikirkannya.


Ryo tidak mau ibunya terbebani karena dirinya.


Setelah sarapan Ryo langsung berpamitan untuk segera berangkat ke sekolah.


Ketika dia membuka pintu, ia melihat sebuah mobil hitam terparkir di depan pintu.


Mobil yang sama dengan mobil ayah Yusuke.


Terlihat pria tersebut keluar dari mobil sambil melepas kacamata hitamnya, tatapan matanya seakan meminta Ryo untuk masuk ke dalam mobilnya.


Entah ini terhitung sebagai kesialannya atau bukan, tapi dia sudah terlanjur melangkah menuju mobil tersebut.


Ia pun masuk ke dalam dan duduk di kursi belakang bersama ayah Yusuke.


*


*


*


*


Mobil itu berhenti di depan cafe yang tidak jauh dengan sekolahnya.


Ayah Yusuke mengajak Ryo masuk ke dalam cafe itu.


Ayah Yusuke memesan beberapa menu di cafe tersebut.


Ryo menggerakkan kakinya dan menatap ayah Yusuke tanpa rasa takut.


"Jadi tujuan saya sebenarnya adalah ingin menanyakan sesuatu padamu. Apa yang sudah kamu lakukan pada anakku?"


Ryo masih terdiam dan memasang raut wajah dingin.


"Sejak dia kabur dari rumah, ia jadi makin sering menyelinap keluar malam-malam, apa dia sering datang kerumahmu. Aku hanya khawatir dengan anakku, jadi tolong jawablah"


"Untuk apa anak Anda sering menemui saya, apa Anda tidak tahu tentang anak Anda sendiri?"


Ayah Yusuke itu mulai memandang Ryo dengan tatapan kesal.


Seorang pelayan datang membawakan pesanan dari ayah Yusuke.


Ayah Yusuke menyilangkan kakinya dan kembali bertanya pada Ryo tentang Yusuke.


Namun Ryo tetap terus menyudutkan ayah Yusuke, mata Ryo tidak lepas memandang kedua bola mata ayah Yusuke.


"Anda sudah cukup berbicara dengan saya bukan? Kalau begitu saya permisi"


Ryo beranjak dari bangkunya dan berjalan keluar tapi tiba-tiba dua bodyguard ayah Yusuke menahan dirinya agar tidak pergi.


Ayah Yusuke dengan santai meminum kopi yang dia pesan.


Ryo terdiam tidak bergerak.


Tak lama ia mendengar suara seseorang yang ia kenal.


Ketika dua bodyguard itu menoleh pada sumber suara, mereka pun kaget dan melepas Ryo.

__ADS_1


Dari balik jendela ayah Yusuke juga melihat sosok itu.


Lantas ia pun langsung berlari keluar dan menyambut kedatangannya.


"Pak Hiro senang bertemu dengan Anda" ucap ayah Yusuke.


Ryo juga lumayan kaget karena melihat Pak Hiro datang ke tempat seperti ini.


Pak Hiro berjalan ke arah Ryo dan memegang pundak Ryo.


"Maaf Pak Nagawa, apakah Anda punya masalah dengan Ryo? Saya lihat tadi bodyguard Anda menyekap Ryo"


Ayah Yusuke pun berdalih pada pada Hiro.


Pak Hiro pun percaya dengan alasan pak Nagawa.


Karena kebetulan mereka bertemu di cafe, Pak Nagawa mengajak Pak Hiro untuk mengobrol di cafe.


Pak Hiro pun menyetujuinya dan meminta Ryo untuk segera ke sekolah.


Ryo pun memberi salam dan langsung menuju ke sekolah.


*


*


*


*


Pak Hiro menikmati teh panas miliknya.


Pak Nagawa masih merasa canggung karena hampir saja dia ketahuan oleh Pak Hiro, namun untung saja Pak Hiro itu terlalu naif dan mudah percaya.


Pak Hiro pun membahas masalah tentang pemilihan yang akan di laksanakan.


Pak Nagawa memang sedang mengumpulkan suara untuk pemilihan, bisa dibilang dia menjadi salah satu tim sukses dan di gadang-gadang akan menjadi anggota parlemen.


Karena itu dia pun dekat dengan para pengusaha-pengusaha sukses, termasuk Pak Hiro.


"Oh Ryo? Yah dia itu calon suami anak saya hoho" ucap Pak Hiro dengan percaya diri.


( Di tempat lain Ryo tiba-tiba bersin saat dia sedang berlari menuju sekolah )


Mengetahui hal tersebut, Pak Nagawa langsung menelan ludahnya.


Ia merasa kali ini harus bergerak hati-hati, terlebih waktu kali pertama pertemuan mereka Ryo sama sekali tidak takut dengannya dan malah mengancamnya.


Ia berpikir kalau ancaman yang dia maksud adalah karena dia adalah calon menantu Pak Hiro.


( Saat Ryo mempercepat larinya tiba-tiba telinganya terasa panas )


Pak Hiro melihat jam tangan miliknya dan berpamitan dengan Pak Nagawa, karena hari ini dia sedang ada urusan.


*


*


*


*


Ryo berlari sangat kemcang, ia melihat guru olahraga mulai menutup gerbang.


Dengan kecepatan penuh Ryo melaju dan berhasil melewati gerbang.


Ryo mencoba duduk untuk mengatur nafasnya.


Ketika nafasnya membaik dia pun langsung bergegas berlari kembali menuju ruang kelas.


"Ada apa sih dengan hari ini!" Umpatnya dalam hati.


Saking terburu-buru dia menuju kelas tanpa sengaja ia menabrak Hana yang sedang membawa banyak buku dari perpustakaan.

__ADS_1


Buku-buku itu pun berhamburan jatuh ke lantai.


Ryo pun langsung membantu memungut buku-buku tersebut.


"Ryo, sepertinya kamu terburu-buru. Lebih baik kamu segera pergi" ucap Hana.


"Ah, baguslah. Aku pergi dulu. Maaf ya"


Ryo langsung berlari menuju kelasnya, Hana terbengong mendengar ucapan Ryo tadi.


Benar-benar cowok yang sedikit menyebalkan.


Sampainya di kelas ia langsung membuka pintu dan begitu kagetnya dia karena di dalam kelas itu para siswa perempuan di kelasnya sedang berganti baju.


"KYAAAAAAAAAAA!!!"


Yurika tampak berlari ke arah Ryo dan langsung menendang wajah Ryo sampai dia terpental.


"Dasar mesum!"  *Braaaaaak*


Yurika langsung menutup pintu kelasnya.


Ryo mengelus wajahnya yang memerah karena tendangan Yurika, ia berusaha berdiri dan mencari teman sekelasnya di ruang ganti.


Ryo lupa kalau minggu ini adalah jatah bagi para siswa perempuan berganti pakaian di kelas.


Ryo berulang kali menepuk kepalanya mencoba melupakan sebuah pemadangan surga yang baru pertama kali ia lihat.


*


*


*


*


Jam istirahat pun tiba.


Ryo berbaring di atap sekolah bersama dua temannya.


Ryo melihat mata panda Yusuke yang terlihat jelas.


Tidak ada hanya Ryo tapi juga Tsukasa juga menyadarinya.


"Hey, Yusuke. Lebih baik aku jujur saja. Tadi pagi ayahku menemuiku"


"APA?!" Teriak Yusuke dan Tsukasa bersamaan.


"Ada apa denganmu, Yusuke. Memang setelah mengajari Tsukasa kamu tidak pulang?"


"Hah, oke aku jujur. Aku memang kabur dari rumah setiap malam hari" jawab Yusuke.


Ryo langsung mencubit pipi Yusuke sangat kencang.


Ia mengumpat pada Yusuke karena ulahnya dia jadi kerepotan hari ini, terlebih lagi ramalan payah yang ada di Televisi benar-benar terjadi padanya.


Yusuke hanya bisa meminta maaf pada Ryo tapi saat ini Yusuke tidak bisa menceritakan semuanya pada Ryo dan Tsukasa.


Ryo menghela nafas.


Tsukasa merangkul kedua sahabatnya itu.


"Hey hey, apapun yang terjadi kita harus saling bantu. Benarkan? Nah sekarang aku lapar apa ada yang bisa membantuku untuj beli makanan di kantin?"


Ryo dan Tsukasa saling melirik satu sama lain.


"JAN KEN PON!!!"


Akhirnya mereka pun melakukan Jankenpon untuk memutuskan siapa yang akan membeli makanan.


Yusuke mulai sedikit kembali ceria seperti biasa.


Di balik senyum Ryo juga terdapat sebuah rencana untuk membantu temannya.

__ADS_1


------------------Bersambung-----------------


__ADS_2