
"Ku dengar, Yurika akan mulai mengikuti kompetisi lari itu"
"Ah, bukannya dia orang kaya. Tapi kenapa ingin ikut kompetisi ya?"
"Ah entahlah, orang kaya bebas mau ngapain aja"
Semua sedang bergosip tentang Yurika yang akan segera mengikuti kompetisi lari tersebut.
Mengetahui hal tersebut, Aoi segera berlari ke kelas untuk memastikan keadaan sahabatnya itu.
Namun rasa khawatirnya tersebut hilang setelah melihat Yurika yang masih ceria seperti biasa.
Namun kelihatannya wajah Yurika tampak lebih pucat dari sebelumnya.
Aoi menghapiri Yurika dan menepuk pipi sahabatnya itu.
"Aoi, kenapa?" Tanya Yurika.
"Aku ingin bicara denganmu"
Mereka pun berjalan menuju taman sekolah, mereka berdua duduk di salahsatu bangku di sana.
"Yurika, apa kamu benar-benar tidak apa-apa?"
"Hm? Aku tidak apa-apa kok"
"Aku tahu maksudmu baik ingin membantunya tapi kalau sampai membuatmu jadi begini aku tidak tega melihatnya"
"Aku juga tidak tega melihatnya duduk sendirian meratapi nasibnya"
Yurika berdiri dan berjalan meninggalkan Aoi dan dengan cepat Aoi mengejar Yurika lalu memeluk punggung sahabatnya itu.
"Jika kamu butuh bantuanku, tolong panggil aku ya"
"Iya, Aoi"
****
Jam istirahat sekolah Ryo, Yusuke dan Tsukasa seperti biasa berkumpul di atap sekolah.
Yusuke yang biasanya bermain game itu entah karena apa baru kali ini dia memilih untuk tidur daripada bermain game.
Tsukasa terus menjahili Yusuke tapi Ryo meminta Tsukasa untuk berhenti.
Ryo memperhatikan wajah Yusuke yang tertutupi oleh sebuah buku.
Karena Tsukasa yang bosan karena biasanya selalu bercanda dengan Yusuke akhirnya menjahili Ryo yang saat itu membaca buku seperti biasa.
****
Sore itu saat sekolah sudah usai terlihat Yurika sedang berlari mengitari lapangan tak sengaja saat itu Ryo melihatnya.
Ryo melihat wajah Yurika yang sangat pucat bahkan nafasnya pun tak teratur.
Ryo mencari mesin minuman dan membeli sekaleng minuman untuk Yurika.
Saat ia kembali ia melihat Yurika yang tiba-tiba jatuh ke tanah dan kesulitan berdiri.
Dengan sigap Ryo berlari menghampiri Yurika dan membantunya berdiri.
Karena Yurika tidak sanggup berdiri akhirnya Ryo menggendong Yurika menuju ke bangku terdekat.
Ryo mengecek kondisi kaki Yurika.
"Apa kamu terkilir?" Tanya Ryo.
"I-iya"
__ADS_1
Ryo melihat Yurika yang tampak memalingkan wajahnya lalu mencoba menggerakkan pergelangan kaki Yurika.
Tiba-tiba air mata Yurika menetes namun ia berusaha menutupi matanya itu.
Ryo memberikan sapu tangannya untuk menghapuskan air mata Yurika.
"Sebentar lagi lomba akan di mulai bukan? Apakah kamu kehilangan kepercayaan karena ucapan orang-orang?"
"Ternyata kamu mendengarnya ya?"
"Kamu tidak lihat aku punya telinga?"
Ryo memberikan minuman kaleng yang tadi ia beli pada Yurika, pipi Yurika memerah.
"Apa ini dari Tsukasa?"
"Tidak, ini aku yang beli sendiri. Soalnya kamu terlihat lelah"
Setelah itu Ryo berdiri dan melambaikan tangan pada Yurika.
"Semangat" ucap Ryo dengan lirih.
Yurika tertawa kecil dan meminum minuman yang di berikan Ryo.
****
Hari dimana lomba lari tersebut di selenggarakan pun tiba.
Beberapa murid datang untuk menyaksikan namun ada pula yang memilih menonton melalui siaran langsung.
Ryo diminta oleh Aoi untuk mengawasi Yurika alasannya karena Aoi khawatir pada Yurika dan hari itu ia tidak bisa menemani Yurika karena ada urusan yang harus di lakukan.
Ryo melihat Yurika dari jauh, terlihat ia sedang melakukan pemanasan.
Namun kelihatannya dia sedang gugup, tarikan nafasnya pun tidak stabil.
Pembawa acara mulai mengucapkan salam pada para penonton dan memperkenalkan para peserta yang terpilih.
Semua peserta berdiri pada posisi yang di tetapkan.
Beberapa penonton mulai bersorak menyerukan para peserta yang mereka dukung.
Suara peluit berbunyi dan para peserta mulai berlari.
Pada kompetisi ini mereka harus berlari sebanyak 2 putaran.
Yurika menjadi peserta yang berlari paling depan namun tak di sangka ada seorang murid yang menyamai kecepatannya.
Putaran pertama sudah ia lewati.
Pada putaran kedua ini nafas Yurika mulai tidak terkontrol dan tanpa ia sadar hidungnya mengeluarkan darah, Ryo langsung berdiri dari bangku penonton dengan wajah yang penuh khawatir.
Akhirnya Ryo memutuskan untuk turun dari podium.
Garis finish semakin dekat namun tiba-tiba Yurika terjatuh dan peserta lain mulai mendahuluinya.
Ia berusaha untuk bangkit tapi kakinya menolak untuk bergerak.
Perlahan pandangannya mulai kabur dan darah mimisannya mulai semakin banyak.
Sekilas ia melihat Ryo yang berlari ke arahnya.
Matanya pun perlahan tertutup.
****
Yurika perlahan membuka mata dan berusaha bangun lalu Ryo datang dan meminta Yurika untuk kembali berbaring.
__ADS_1
"Aku dimana, Ryo?"
"Kamu di pusat pengobatan yang di sediakan oleh panitia"
"Padahal sebentar lagi, padahal sedikit lagi aku bisa mewujudkan mimpi anak itu tapi kenapa semua tidak berjalan dengan lancar"
Air mata Yurika pun menetes, Ryo memperhatikan Yurika.
Air mata yang tulus tapi dia terlalu naif.
Ryo menghela nafas.
"Kejadian buruk itu bisa datang tanpa mengenal waktu dan tempat, bahkan saat kita meniriskan mie instan pasti akan beberapa mie yang terjatuh dan terbuang. Tapi bukankah masih ada sisa mie yang bisa kita makan?"
Yurika terdiam mendengar ucapan dari Ryo.
"Jangan lihat hasilnya tapi lihatlah bagaimana kamu berusaha, ketulusan itu pasti akan di sadari"
"Pft, ternyata kamu bisa bijak juga ya. Dengar aku tidak bilang untuk meminta pendapatmu"
Ryo memalingkan wajahnya.
****
Di sebuah rumah sakit, terlihat beberapa dokter sedang menjalani operasi.
Mereka terlihat panik karena detak jantung pasien mulai tidak stabil.
Hingga berjam-jam berlalu pasien itu menghembuskan nafas terakhir.
Dokter keluar dari ruang operasi dan sudah di sambut oleh Aoi.
"Bagaimana dokter?"
Dokter itu hanya menggelengkan kepalanya, Aoi pun syok mendengar kenyataan tersebut.
Ia menangis kencang di lorong rumah sakit tersebut.
Tak lama Yurika menelpon dirinya menanyakan kabar orang tersebut, Aoi menarik nafas dan mengatakan kenyataan yang pahit tersebut.
****
Di sebuah pemakaman terlihat Yurika memutarkan video perlombaannya pada sebuah makam yang tertulis nama "Hiro Kuroyama".
"Maaf karena aku sudah gagal memenuhi permintaan terakhirmu, maafkan aku" ucap Yurika sambil terus menangis di depan makam tersebut.
Aoi memeluk Yurika untuk menenangkannya.
Setelah itu mereka pun berjalan kembali pulang, Yurika menggandeng tangan Aoi.
"Apakah aku akan berakhir seperti dia?" Tanya Yurika.
"Tidak, kamu pasti bisa melewatinya! Bukankah selama ini kamu sudah berusaha keras?"
"Tapi bisa saja aku terjatuh lagi dan tidak akan bisa berdiri lagi. Sejujurnya aku takut tapi aku harus menerima kenyataan itu"
"YURIKA!"
*plaaak*
Sebuah tamparan mendarat pada pipi Yurika yang membuat Yurika terdiam.
"Aku yakin kamu pasti bisa melewatinya, jika kamu butuh aku panggilah aku! Bukankah aku sudah bilang begitu"
"Maaf, Aoi"
Yurika memeluk Aoi dengan sangat erat, tubuh Yurika seakan bergetar ketakutan.
__ADS_1
Aoi pun membalas memeluk Yurika dengan sangat erat.
-------------------Bersambung-----------------