
Yurika perlahan membuka matanya dan melihat keadaan di sekelilingnya.
Ia melihat infus yang tertancap pada tangannya, ia juga tidak dapat merasakan kakinya.
Tak lama pintu kamarnya terbuka dan ia melihat Ryo yang berjalan mendekatinya.
Ryo duduk di kursi yang berada dekat dengan kasur Yurika.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau sebenarnya kamu terkena kanker otak?"
Yurika menggigit bibirnya untuk menahan air mata yang hendak menetes dari kedua matanya.
Namun hal yang mengejutkan lagi adalah Ryo yang malah meneteskan air matanya.
Yurika membuang nafasnya dan meminta Ryo untuk tidak menangis.
Untuk saat ini, Yurika akan menjalani perawatan yang sangat ketat agar kondisinya membaik.
Ryo dan Pak Hiro di bertahu oleh dokter kalau Yurika kemungkinan akan lumpuh total bahkan dokter tidak yakin kalau keajaiban yang ia dapat dulu akan datang lagi.
Dengan kondisi yang seperti ini, Yurika bisa bersekolah tapi harus menggunakan kursi roda.
Ryo terus memegang tangan Yurika dan berjanji pada Yurika akan menjaga dirinya.
Tak lama Pak Hiro masuk ke dalam kamar Yurika dan ia mencium kening anaknya tersebut.
Dia tidak akan mengulang kesalahan yang sama lagi dimana ia sibuk bekerja di kota dan meninggalkan istri dan Yurika yang lumpuh di desa.
Memang itu adalah keinginan istrinya untuk tinggal di desa tapi Pak Hiro tetap memelih untuk bekerja di kota meski alasannya agar bisa menemukan rumah sakit yang bisa membawa kesembuhan untuk Yurika.
*
*
*
*
Setiap hari Ryo selalu datang menjaga Yurika, bahkan Aoi, Yusuke, dan Tsukasa juga datang menjenguk Yurika.
Ryo selalu menemani Yurika hingga kondisinya membaik.
Untuk Yurika bahkan dia menolak semua tawaran dari orang-orang yang meminta jasanya.
Ryo menyadari kalau sejak dari awal mereka bertemu, Ryo memang menyukai Yurika.
Rasa sukanya tertutupi oleh egonya yang masih berfikir kalau berhubungan dengan banyak orang itu menyusahkan, termasuk dalam hubungan percintaan.
Karena di masa lalu ada sebuah kejadian yang membuat Ryo trauma dengan hubungan pertemanan dan alasan itu membuat Ryo mengurung diri di kamar sejak duduk di bangku SMA.
*
*
*
__ADS_1
*
Yurika akhirnya bisa keluar dari rumah sakit meski kini Yurika harus duduk di kursi roda.
Untungnya Yurika sudah terbiasa mengalami hal ini sehingga Yurika mampu menerima keadaan yang ada.
Beberapa minggu setelahnya sekolah kembali dimulai.
Ryo berangkat sangat pagi agar bisa menunggu Yurika di gerbang sekolah.
Mobil hitam yang biasa di naiki Yurika akhirnya sampai di gerbang sekolah.
Yurika turun dari mobil dengan di bantu oleh Pak Hiro, mengetahui Ryo sudah menunggu Yurika akhirnya Pak Hiro meminta Ryo untuk menjaga anak satu-satunya.
Yusuke kebetulan juga baru sampai di sekolah dan melihat Ayah Yurika yang sangat dekat dengan Ryo.
Kenyataan kalau Yusuke menyukai Yurika memang tidak bisa di elak namun Yusuke menyadari kalau dia harus mengikhlaskan perasaannya demi sahabatnya.
Terlebih Yurika yang tampak lebih nyaman bersama dengan Ryo.
Yusuke menghela nafas dan berlari menghampiri kedua temannya itu.
Yusuke menemani Ryo berjalan ke kelas sambil mendorong kursi roda Yurika.
Semua anak di sekolah memperhatikan Yurika, siswi sekolah yang biasanya berkelahi dengan berandalan, sangat aktif, dan berlari sangat kencang kini hanya bisa duduk di kursi roda.
Meski tahu kini semua murid sedang menatap Yurika tapi Yurika masih tetap tersenyum ceria seperti biasa.
Sampainya di kelas, Yurika menyapa semua temannya dengan sangat ceria.
Tak lama Aoi sampai di kelas dan membantu Ryo menempatkan Yurika di bangkunya.
Suasana kelas jadi sepi bahkan ada beberapa anak yanh berusaha menahan air matanya.
Mengetahui situasi tersebut Yurika seketika menunduk dan mencengkeram keras tangannya.
Ryo yang duduk di belakang Yurika langsung berdiri dan mulai angkat bicara.
"Kalian jangan buat Yurika semakin sedih, bersikap seperti biasa saja. Yurika tidak butuh rasa iba kalian. Dasar kalian.... Menyusahkan"
Ryo langsung duduk dan menyembunyikan wajahnya dengan buku.
Seketika seluruh anak di kelas tertawa lucu melihat tingkah Ryo yang sangat terlihat kalau Ryo menyukai Yurika.
Beberapa murid mendekati Ryo dan menggoda dirinya, bahkan teman kelas yang biasanya mengajak Yurika berbincang mulai kembali seperti biasa.
Perasaan Yurika jadi lebih baik berkat Ryo.
Jam istirahat pun tiba, tidak seperti biasa Ryo dan 2 sahabatnya memilih untuk berkumpul di taman sekolah.
Bersama dengan Aoi dan Yurika mereka pun duduk di bawah pohon, bermain game seperti biasa sedangkan Ryo di sibukkan dengan membaca sebuah buku.
Yurika memperhatikan mereka dengan senyumnya, sangat tidak bisa di bayangkan kalau suatu saat Yurika harus pergi meninggalkan mereka.
"Aku ingin bertahan lebih lama, aku ingin ikut ujian bersama kalian dan lulus bersama kalian. Dan.... Menikah dengan orang yang aku cintai"
__ADS_1
Semua yang ada di sana pun terdiam mendengar permintaan Yurika, Ryo menutup bukunya dan menghela nafas.
"Bodoh.... Tentu saja, kamu akan menikmati semua itu"
Setelah Ryo mengatakan itu tiba-tiba Yurika menangis.
Mengetahui hal itu Aoi langsung memeluk sahabatnya itu, Yurika menangis sekencang-kencangnya dalam pelukan Aoi.
Berhari-hari terus berlalu, perasaan Yurika kembali ceria dan mulai membiasakan diri dengan keadaannya.
Bersama dengan Yusuke, Tsukasa, Aoi, dan Ryo seakan beban mental yang sebenarnya Yurika alami perlahan mulai surut.
Dan selama itu juga, hubungan Yurika dan Ryo tidak ada kejelasan.
Apakah mereka sekarang berpacaran atau tidak, namun Yurika dan Ryo tetap menikmati setiap hari yang mereka lalui bersama.
Pada malam hari, kebetulan Tsukasa dan Yusuke menginap di rumah Ryo untuk belajar bersama.
Di tengah aktivitas belajar, Yusuke menanyakan perihal perasaan Ryo terhadap Yurika.
Namun setelah Ryo berpikir ulang perasaannya hanya sebatas perasaan lama dimasa mereka masih kecil.
Tsukasa mengelak pernyataan Ryo tersebut.
"Kurasa kamu memang menyukai Yurika. Bukan hanya sekedar perasaan masa lalu. Itu terlihat jelas dari tatapanmu pada Yurika selama ini"
"Kamu selalu membaca ekpresi orang lain tapi tidak bisa membaca ekspresimu sendiri" ucap Yusuke.
"Lagi pula kondisinya sedang tidak baik. Aku tidak mau terbawa oleh perasaan bila nanti dia pergi" jawab Ryo.
Jawaban tersebut membuat Tsukasa kesal pada Ryo seakan ucapan Ryo saat di taman sekolah waktu itu seperti tidak ada artinya.
Yusuke berusaha menenangkan Ryo, meyakinkan Tsukasa kalau Ryo pasti tidak bermaksud seperti itu.
Tsukasa mulai berpikir dengan jernih, dia mulai mengerti kenapa Ryo mengatakan hal tersebut.
Karena Ryo sudah pernah merasakan bagaimana di tinggal pergi ayahnya untuk selamanya.
Dan bahkan Ryo tidak mau hal itu terulang lagi.
Bila kematian menghampiri Yurika, Ryo sangat ingin datang ke dalam acara pemakaman Yurika dengan hati yang kuat.
Pemikiran egois Ryo yang selalu bersifat mutlak baginya memang membuat orang lain menjadi kesal di buatnya.
---------------------Bersambung----------------
Haloo para Reader's sekalian!!
Sekarang kalian bisa berdonasi untuk Author di link Trakteer di bawah ini ya!
https://trakteer.id/pican-goreng-rtxcn
Hanya dengan Rp. 5000 kalian sangat membantu Author untuk bisa berkembang dan berkarya!
Terima Kasih Banyak !!
__ADS_1