
Pagi hari itu, Yusuke masih asyik bermain game di rumah Ryo.
Untungnya hari ini sekolah libur, jadi Yusuke memutuskan untuk tidak pulang.
Ryo sedang membuat makanan untuk mereka sarapan.
Setelah matang Ryo langsung menyajikan di meja makan dan mengajak Yusuke untuk sarapan.
Raut wajah Ryo lebih datar dari biasanya, Yusuke memperhatikan mata Ryo yang terlihat seperti orang yang habis menangis.
"Ryo, kupikir kamu hanya salah paham dengan Tsukasa. Mungkin karena kamu lelah, kami jadi tidak bisa membaca raut wajah Tsukasa"
Ryo melirik ke arah Yusuke.
"Dengar, Tsukasa sama sekali tidak memberitahukan kesemua murid kalau kamu adalah hacker. Kalau boleh jujur, Tsukasa juga melakukan hal tersebut padaku. Sampai membuatku malu sendiri, dia bodoh sekali"
"Begitu ya?" Ryo tertunduk sembari berfikir.
"Jangan terlalu dipikirkan, kamu sudah banyak menguras tenagamu untuk membantu Tsukasa. Jadi kurasa Tsukasa juga mengerti kondisimu sekarang"
Mereka pun selesai makan dan memutuskan untuk bermain game bersama, namun bunyi bel rumah Ryo membuat mereka harus menunda rencana mereka.
Ryo berjalan dan membuka pintu rumahnya, begitu terkejutnya Ryo melihat Yurika bersama Tsukasa yang datang menghampiri rumahnya.
Yurika menengok ke dalam rumah Ryo dan melihat Yusuke.
"Hey kalian berdua, Ikut aku sekarang!" Ucap Yurika.
****
Sekarang mereka berada di taman bermain.
Ryo, Tsukasa, dan Yusuke terbengong.
"Dengar ya, ini adalah permintaan ayahku karena sudah sedikitĀ membantunya membongkar kelicikan Keluarga Yamada. Taman bermain ini di pegang oleh ayahku, jadi kalian bebas main apa saja dengan Gratis" ucap Yurika.
Yurika pun langsung menarik mereka dan mulai menaiki beberapa wahana.
Dari wahana yang bikin malaikat maut kena trap sampai wahana yang bisa di terima manusia.
Ryo kehabisan tenaga dan memutuskan untuk duduk di salah satu bangku, tak lama Tsukasa datang dan menawarkan air minum.
Mereka pun duduk bersebelahan dengan suasana canggung.
Yurika dan Yusuke sedang bersembunyi memperhatikan mereka dari jauh.
"Heh, kamu itu Tsundere tapi bisa di tebak ya" ucap Yusuke.
Namun Yurika langsung membalas ucapan Yusuke dengan cubitan kencang di pantatnya.
Tsukasa terlihat menarik nafas.
"Maaf...."
Ternyata Ryo mengucapkannya bersamaan dengan Tsukasa.
Mereka saling menatap dengan jijik dan mereka pun tertawa.
"Maafkan aku Ryo, aku tidak bisa memahami perasaanmu. Aku hanya memikirkan diriku sendiri" ucap Tsukasa.
"Iya, aku juga. Aku hanya memikirkan diriku sendiri tanpa berfikir dan mendengar penjelasanmu dulu"
Merekan pun bersalaman dengan senyum yang terlukis pada wajah mereka.
__ADS_1
Yurika menghela nafas lega.
Yusuke melihat Yurika sedang memasang senyum tipis membuat wajah Yusuke merona di buatnya.
Karena Yusuke merasa tidak nyaman akhirnya Yusuke berjalan menghampiri Ryo dan Tsukasa, Yurika pun berjalan di belakang Yusuke.
Karena lapar akhirnya mereka memutuskan mencari restoran untuk mengisi perut mereka.
Di sebuah restoran makanan cepat saji, mereka makan bersama.
Yurika duduk berhadapan dengan Ryo.
Diam-diam Yurika terus memperhatikan Ryo yang fokus memakan burger miliknya.
Tentu saja Tsukasa dan Yusuke mengetahui gerak-gerak Yurika yang terlihat jelas itu.
Mereka berdua bersamaan memalingkan wajah.
Ryo menoleh memperhatikan kedua sahabatnya itu.
"Kalian kenapa?" Ucap Ryo.
Yurika yang kaget pun langsung melanjutkan memakan makanannya, namun tiba-tiba Yurika mengeluarkan darah di hidungnya.
Ryo terlalu sigap dan langsung memberikan tissu pada Yurika, wajah Yurika memerah.
"Kamu.... Tidak apa-apa?" Ucap Ryo.
Tsukasa dan Yusuke yang sedaritadi memalingkan wajahnya pun mulai menoleh ke arah Yurika.
"Aku tidak apa-apa" Yurika langsung berlari menuju kamar mandi.
Yurika membersihkan hidungnya yang mimisan tersebut dengan air.
"Padahal sebentar lagi aku harus ikut lomba lari" gumannya dalam hati.
Yurika kembali ke bangkunya dan melanjutkan makan, namun suasana jadi canggung.
Yurika jadi kesal dan memarahi 3 orang tersebut.
"Kalian jangan berfikir macam-macam, aku hanya kelelahan karena terlalu banyak berlatih untuk persiapan lomba" ucap Yurika.
"Kenapa kamu ingin ikut lomba tersebut? Kamu kan kaya bisa membiayai kuliahmu kelak bukan?" Tanya Yusuke.
"Ya suka-suka aku lah" jawab Yurika dengan judes.
Setelah selesai makan mereka pun pulang kerumah masing-masing.
Kecuali Yusuke yang masih ingin bermalam di rumah Ryo.
Ryo hanya pasrah toh selama Yusuke menginap dirumahnya, Yusuke tidak pernah mengganggu dan mengusiknya.
Namun mereka hendak masuk rumah, Yusuke melihat 2 pria berjas hitam berdiri di depan gerbang rumah Ryo.
Dari balik kegelapan pun muncul seorang pria paruh baya menatap penuh kesal pada Yusuke.
"Yusuke, pulang sekarang" ucapnya.
Ryo terdiam dan hanya memperhatikan mereka.
Yusuke menunduk dan berpamitan dengan Ryo, lalu berjalan masuk ke dalam mobil yang di siapkan.
Pria tersebut mendekati Ryo dan memberikan beberapa uang.
__ADS_1
Ryo tertegun kaget.
Pria itu tersenyum licik, Yusuke melihat Ryo dengan tatapan yang begitu kesal.
"Apa maksud anda?" Ryo mengembalikan uang tersebut pada pria itu.
"Anggap saja ucapan terima kasihku karena sudah menjaga anakku untuk beberapa hari"
"Hm, aku itu teman Yusuke bukan babu Anda. Satu lagi, jangan macam-macam dengan saya, saya bisa lakukan sesuatu yang buruk pada Anda" Ryo menatap sinis.
Lalu Ryo mengangkat tangannya dan menunjukan jari kelingkingnya pada Yusuke.
Yusuke tertawa kecil dan membalas sapaan jari itu.
Ayah Yusuke merasa kesal karena sudah diremehkan oleh anak sekolah, ia pun berjalan masuk ke dalam mobil.
Ryo pun mulai masuk dan mengunci rumahnya.
Ia membuka komputer dan melihat CCTV.
Ia memotong bagian video tersebut dan mulai mencari informasi tentang Ayah Yusuke untuk berjaga-jaga.
****
Di rumah Yusuke, ia tampak sedang mengunci diri di kamarnya.
Berulang kali ibunya mengetuk pintu kamarnya untuk mengajaknya makan tapi Yusuke tidak memperdulikannya.
Yusuke memasang earphone dan bermain game seperti biasa.
Ibu Yusuke mulai menyerah dan menemani suaminya di meja makan.
"Sudah ku bilang, jangan paksa dia untuk mengikuti jalanmu. Lebih baik dia mengikuti jalanku saja" ucap Ibu Yusuke.
"Dia itu anakku! Dia anak laki-laki yang harus bisa di andalkan di keluarga kita! Lebih baik kau urus saja, anak perempuanmu yang cacat itu!"
"Kamu mau mengajak bertengkar lagi?!"
"DARITADI AKU DIAM DAN MENIKMATI MAKANANKU, TAPI KAMU MEMULAI PEMBICARAAN YANG MEMBUATKU KESAL"
"Ckh"
Lalu tiba-tiba terdengar suara piring yang pecah.
Lalu ibu Yusuke bergegas pergi ke dapur dan melihat anak perempuannya yang jatuh ke lantai dengan mimisan di hidungnya.
"Apa yang kamu lakukan?! Menyusahkan saja!!" Ucap Ibu Yusuke.
"Aku hanya ingin mengambil makan agar bisa makan dengan ayah dan ibu" ucap gadis kecil itu.
"SUDAH IBU BILANG TIDAK USAH KAN!"
*Plaaaak*
Ibu Yusuke itu menampar gadis kecil itu.
Gadis itu pun hanya terdiam dan menangis tersedu-sedu.
Tak lama Yusuke datang dan mendorong ibunya agar menjauh dari gadis itu.
Tanpa mengatakan apapun Yusuke langsung menggendong gadis itu kembali ke kamarnya, ia menidurkan gadis itu perlahan-lahan.
Lalu Yusuke membersihkan darah dan luka di tubuh gadis itu.
__ADS_1
--------------------Bersambung-----------------