SYNCHRONICITY

SYNCHRONICITY
Bagian 16


__ADS_3

Esok harinya sepulang sekolah, Ryo menuju rumah Yurika dengan menaiki mobil Yurika.


Terpaksa dia harus meninggalkan sepedanya di sekolah.


Perjalanan menuju rumah Yurika lumayan jauh, butuh sekitar 1 jam sampai dirumahnya.


Terlihat gerbang besar bertuliskan nama keluarga Yurika.


Gerbang tersebut secara otomatis terbuka sendiri.


Begitu kagetnya Ryo melihat halaman rumah Yurika yang begitu luas.


"Kamu orang kedua yang aku undang kerumahku, jadi jangan merasa bangga begitu fufu"


"Aku hanya takjub dengan kekayaan ayahmu saja"


"Tanggapanmu sama dengan Aoi rupanya"


Mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah Yurika.


Di pintu masuk mereka sudah di sambut oleh para pelayan di rumah tersebut.


"Akan ku pertemukan dengan ayahku terlebih dulu"


Yurika mengetuk sebuah pintu lalu membukanya.


Terlihat ayah Yurika yang duduk di meja kerjanya, Hiro Miura.


Dia terlihat sangat berwibawa dan berkharisma dengan jas hitamnya.


Matanya tertuju pada Ryo, tentu saja Ryo langsung memberi salam kepada ayah Yurika.


"Ayah, dia Ryo . Malam ini aku minta bantuan dia untuk mengajaruki belajar"


"Oh, jadi kamu Ryo. Sebelumnya saya berterima kasih karena sudah sangat meringankan masalah saya dengan keluarga Yamada. Terima kasih banyak"


Ayah Yurika berdiri dan membungkuk pada Ryo.


"Pak , mohon jangan membungkuk. Masalah dengan keluarga Yamada memang berhubungan dengan teman saya jadi saya hanya membantu teman saya saja" ucap Ryo.


"Baiklah, kalau tidak keberatan setidaknya ikutlah makan malam bersama kami, Ryo"


"Baiklah, terima kasih banyak pak"


****


Di meja makan Ryo begitu menikmati makanan mewah yang di sajikan oleh para pelayan disana.


Pak Hiro meletakkan alat makannya dan tersenyum pada Ryo.


"Ryo, mungkin kita bisa atur pertemuan kita selanjutkan. Kebetulan aku melihat sesuatu darimu, jadi saya tertarik untuk membicarakan sesuatu dengan kamu"


"Ah, saya usahakan pak. Terima kasih untuk tawaran tersebut"


Setelah semua selesai makan, Yurika mengajak Ryo menuju sebuah ruangan khusus yang sudah disiapkan untuk mereka belajar.


Yurika menutup pintu lalu menghela nafas kesal, ia meminta Ryo untuk tidak memikirkan ucapan ayahnya tersebut.


Namun Ryo hanya terdiam dan mengangkat alisnya.


****


Mereka duduk di satu meja yang sama.


Ryo mengeluarkan buku catatan yang sudah ia tulis sebelumnya.


Yurika baru menyadari kalau selama ini Ryo sudah membuat ringkasan untuknya beberapa hari ini.


Yurika membuka tersebut dan membacanya.


Begitu kagumnya dia dengan Ryo, semua ringkasan yang ia buat lebih mudah di pahami dari yang di ajarkan di sekolah.


"Alasan kamu tidak mendapat nilai bagus itu hanya karena kamu tidak paham, benarkan?" Ucap Ryo.

__ADS_1


Yurika pun mengangguk sambil terus membaca.


"Apakah kamu juga mengerjakan dengan caramu sendiri?"


"Tidak, maaf saja aku jauh lebih cerdas"


Yurika tersenyum kesal dan rasa ingin menjitak kepala Ryo sangat meluap.


Lalu Ryo menulis sesuatu di sebuah kertas lalu memberikan kertas tersebut pada Yurika.


Ia meminta Yurika untuk mengerjakan soal tersebut sambil melihat catatan yang Ryo buat.


Ryo berpendapat kalau cara belajar agar mudah di ingat adalah menulis.


Di sekolah kita sering di minta untuk merangkum sebuah bab.


Tanpa sadar saat kita merangkum kita pun membaca lalu menulisnya dengan kata-kata kita sendiri.


Dengan sering menulis maka kita bisa mengingat dengan mudah.


Dengan bimbingan Ryo, Yurika pun mulai mengerjakan soal-soal dari Ryo.


Suara detik jam mengisi kesunyian malam itu.


Setelah Yurika selesai mengerjakan soal ia langsung memberikan pada Ryo, sebelum melanjutkan dia bertanya pada Yurika apakah masih mau di lanjut atau tidak.


Karena dia tidak mau kalau Yurika belajar dengan perasaan terpaksa.


Karena dia paham, bagaimana rasanya melakukan suatu hal dengn perasaan terpaksa.


Tidak hanya membuat perasaan tidak nyaman tapi juga membuat kita tidak mendapat hasil yang maksimal.


****


Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam.


Yurika pun memutuskan untuk berhenti belajar.


Yurika nengantar Ryo ke depan pintu, di luar sebuah mobil hitan sudah siap untuk mengantar Ryo.


"Ryo, terima kasih bantuannya" ucap Yurika sambil memalingkan wajahnya


"....dengar ya, ini hanya formalitas saja karena sudah membantu"


"Terserah saja, besok keputusanmu untuk belajar lagi atau tidak" ucap Ryo sambil melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil.


Mobil itu pun langsung melaju.


Dalam perjalanan pulang Ryo melihat pemandangan malam itu.


Supir itu mulai mengajak Ryo berbicara.


"Menurut nak Ryo, Nyonya Yurika itu bagaimana? Menurut saya, dia anak yang baik sekali hanya saja ada yang saya sayangkan..."


"Hm?"


Supir itu tidak melanjutkan ceritanya dan sampailah Ryo di depan rumahnya.


Ryo mengucapkan terima kasih pada supir tersebut.


Ryo berjalan masuk dan tersadar kalau pintu rumah tidak terkunci.


Ryo langsung panik karena seingat dia sebelum berangkat sekolah ia sudah mengunci pintu rumah.


Ia pun perlahan membuka pintu dan masuk ke rumah, terdengar suara seseorabg sedang memotong sesuatu di dapur.


Ketika melihatnya ternyata ibunya yang pulang kerumah.


Ibunya menolah pada Ryo.


"Selamat datang, Ryo"


Ryo tersenyum tipis dan berkata "Aku pulang..."

__ADS_1


****


Yurika terlihat berendam malam  di air hangat.


Setelah selesai berendam ia segera berganti baju dan meminum obatnya sebelum tidur.


Ia berbaring di kasur sambil membuka ponselnya.


Begitu banyak pesan bermunculan namun dia hanya membalas pesan dari Aoi.


Aoi begitu mengkhawatirkan keadaan Yurika.


Ketika Yurika sedang terlarut dalam lamunannya.


Suara ketukan pintu terdengar dari pintu kamarnya.


Ia pun membuka pintu kamar dan dia melihat ayahnya berdiri di depan pintu.


Ayahnya masuk ke kamar Yurika dan duduk di bangku yang ada di kamarnya.


"Apa kamu masih merasa takut? Ayah juga sedih mengetahui temanmu yang meninggal saat operasi"


".... Ayah, apa aku masih punya masa depan?"


"Tentu saja"


Yurika menundukkan kepalanya.


Ayahnya pun berdiri dan membelai kepala anaknya itu dan meminta anaknya untuk jangan terlalu dikirkan.


Ayahnya pun berjalan keluar kamar dan menutup pintunya.


Yurika merebahkan tubuhnya sembari memasang earphone lalu mendengar musik dari ponselnya.


****


Ryo tampak duduk berdua dengan ibunya di sofa.


Ibu Ryo memperhatikan Ryo yang sedari tadi menggerekan kakinya dan memainkan rambutnya.


"Ryo, masuk saja ke kamar. Ibu tahu kamu punya sesuatu yang dipikirkan jadi pasti butuh waktu sendiri"


Perkataan ibunya tersebut membuatnya sedikit tenang, setidaknya tidak seperti ayahnya yang selalu memaksa kehendak.


Ayah Ryo yang selalu ingin anaknya terlihat sempurna.


Namun bukan itubyang di ingankan Ryo.


Ryo masuk ke kamarnya dan menyalakan komputer.


"Apakah aku sudah melakukan hal yang benar? Kenapa aku malah menyusahkan diri sendiri"


Saat itu Ryo teringat kepada Yurika.


Mengingat wajah Yurika yang serius belajar.


Membuat sedikit wajahnya jadi merah.


"Ingat, jangan ikut campur"


----------------------Bersambung---------------


Jangan lupa dukung karyaku ya!


Terima kasih buanyak!!


🌺Line              : prasevia


🌺Instagram : @Viachan47


🌸Twitter       : @Chan47Vii


🌸Email          : viachan47@gmail.com

__ADS_1


__ADS_2