SYNCHRONICITY

SYNCHRONICITY
Bagian 4


__ADS_3

"Yurika tidak berangkat?"


"Iya, benar"


Semua siswa sedang heboh karena Yurika yang tidak masuk hari ini.


Padahal hari ini akan ada ujian yang berlangsung.


Ryo yang sedari tadi membaca buku di hampiri oleh Aoi.


"Aku tidak bisa konsentrasi belajar" ucap Aoi.


Yohan melirik pada Aoi yang tampaknya tidak ikut heboh, pasalnya Aoi adalah teman dekat Yurika jadi sangat tidak wajar kalau Aoi tidak khawatir.


"Ryo pasti berpikir kenapa aku tidak khawatir kan? Soalnya aku percaya Yurika pasti tidak akan apa-apa"


Aoi tersenyum pada Ryo dan membaca buku pelajaran, Ryo menutup buku pelajaran dan mengecek pesan di ponselnya.


Ternyata pesan dari ibunya, pesan itu berisi kalau ibunya sudah mengirim uang ke rekening Ryo.


Tak lama guru pun masuk ke kelas, Ryo langsung memasukkan ponselnya di tas.


Ujian pun dimulai.


Suasana ujian sangat tenang tidak ada yang berisik sama sekali.


Ryo yang cerdas mengerjakan soal sambil sesekali menguap karena semalaman penuh ia hampir tidak tidur karena bermain game dengan Yusuke.


Dan setelah selesai bermain sekitar pukul 3 pagi, Ryo tidak langsung tidur tapi ia belajar sampai pagi harinya.


Setelah selesai mengerjakan Ryo langsung maju kedepan dan menyerahkannya pada guru.


Seluruh teman kelasnya hanya tercengang karena baru pertama kali ini mereka melihat sang peringkat satu menyelesaikan ujian dengan sangat cepat.


Karena sudah selesai lebih dulu, Ryo di perbolehkan keluar atau memilih tetap di dalam ruangan sampai jam pelajaran selesai.


Tentu saja ia memilih keluar dari kelas dan pergi ke perpustakaan.


Di perpustakaan ia mencari tempat yang nyaman untuk bisa tidur sejenak.


Penjaga perpustakaan itu melihat Ryo yang sudah tidur pulas, karena dia penasaran dia pun duduk di depan Ryo dan melihat wajah Ryo yang tertidur pulas.


"Tampan....ah lebih baik tidak mengganggu"


Ia pun beranjak pergi dan menyalakan pengharum ruangan agar tidurnya makin nyenyak.


Bukannya makin pulas malah Ryo jadi terbangun karena aroma yang terlalu menyengat.


"T-tolong matikan saja, aku lebih suka aroma buku daripada pengharum ruangan" ucap Ryo.


"Anu maaf, tapi kenapa kamu tidur disini? Ini perpustakaan bukan kamar pribadi!" jawab gadis penjaga perpus itu.


"Ah baiklah aku pergi saja, maaf"


"Eh tunggu! Bukannya aku menyuruhmu pergi. Tapi mungkin kali ini saja"


Ryo dengan wajah ngantuknya pun langsung tidur kembali dengan pulas.


Gadis penjaga itu pun mematikan pengharum ruangan itu.


Tak lama temannya datang.

__ADS_1


"Eh kenapa ada yang tidur disini?"


"Shht, biarkan saja. L-lebih baik kita keluar"


Gadis itu pun mendorong temannya itu.


Mengajaknya mengobrol di luar perpustakaan.


Sekali lagi, temannya memperhatikan wajah Ryo untuk memastikan.


"Hooo, Ryo Senpai. Dia kakak kelas kita yang katanya selalu dapat juara 1, padahal dari tahun pertama di sekolah dia tidak pernah masuk. Hebatkan!" Ucap temannya itu.


"Iya hebat" wajahnya tersipu malu.


Sampai saat jam pelajaran berganti Ryo baru terbangun dari tidurnya.


Gadis penjaga perpus itu membawakan air putih untuk Ryo.


Ryo melihat jam dinding dan meminum air putih pemberian gadis itu.


"Anu, Ryo Senpai. Kamu sepertinya terlambat pelajaran selanjutnya"


"Tidak masalah, terima kasih minumannya. Aku mau membaca buku disini saja".


Ryo mengelilingi rak-rak buku mencari buku yang menarik perhatiannya.


Diam-diam gadis penjaga perpus itu menawarkan sebuah buku yang cukup menarik perhatian Ryo.


"Ini menarik, aku akan membacanya"


"Anu, namaku Hana Haruki kelas 1"


"Iya"


Hana jadi malu karena melakukan perkenalan yang konyol dengan Ryo.


Buku itu berjudul 'Synchronicity'


Buku itu tidak begitu tebal, tapi cukup menarik.


Hana menghampiri Ryo.


"Aku percaya adanya Synchronicity, sebuah kebetulan yang bahkan kita tidak tahu kalau itu sebuah pertanda untuk kita" ucap Hana.


"Aku tidak, itu cuma kebetulan"


"Bahkan pertemuan kita dengan seseorang juga bisa sebuah kebetulan dan pertanda" ucap Hana.


"....kamu bisa meminjamnya untuk di bawa pulang selama 1 minggu" lanjut Hana.


Hana pun kembali ke tempatnya meninggalkan Ryo yang masih membaca buku tersebut.


Tak begitu lama, Ryo menghampiri Hana dan memberikan kartu perpusnya untuk meminjam buku tersebut.


Setelah selesai ia pun langsung pergi sambil membaca buku tersebut, Hana hanya tertawa kecil.


Ia tidak berniat masuk kelas sampai jam istirahat dan memilih untuk pergi ke atap sekolah.


Ternyata di sana sudah ada Yusuke dan Tsukasa, Ryo berbalik badan berniat pergi tapi Tsukasa langsung menarik tubuhnya agar duduk dengan mereka bertiga.


Yusuke asyik dengan gamenya, Ryo fokus membaca buku, dan Tsukasa hanya memperhatikan mereka berdua.

__ADS_1


"Hoy! Kalian ini memang selalu begini kalau berkumpul?" tanya Tsukasa


"Iya" jawab Ryo dan Yusuke dengan kompak


"Hah, enak sekali kalian yang sudah pintar dan bebas keluar kelas"


"Kalau begitu otakmu yang kosong itu harusnya kamu isi dengan pelajaran di kelas hari ini" jawab Yusuke.


Tsukasa pun kesal dan langsung mecekik Yusuke sampai pingsan.


Ryo menyembunyikan tawanya di balik buku yang ia baca.


Yusuke yang mengetahui itu langsung menggelitiki Ryo.


Tsukasa yang melihat Yusuke dan Ryo dengan wajah sedih.


"Sebenarnya aku ingin berhenti jadi anak brandalan. Aku kemari karena ingin menjauh dari teman-teman gengku." Ucap Tsukasa


"Ehem.... Kenapa?" Ryo membenarkan bajunya dan berpura-pura membaca.


------------------------------------Story Tsukasa


Aku adalah anak pertama dari 3 bersaudara, sebagai anak pertama aku harus membantu kedua orang tuaku mengurus pekerjaan rumah dan sesekali membantu melayani pelanggan.


Keluarga kami memiliki hutang yang jumlahnya begitu besar.


Aku yang malah bergaul dengan anak berandalan malah membuat kedua orang tuaku kesusahan.


Terkadang aku bimbang harus menikmati masa mudaku atau membantu kedua orang tuaku.


Yah, kupikir teman itu saling mengerti tapi teman-temanku mencoba membuat keributan di kedai ayahku.


Terpaksa aku pun berkelahi dengan teman-temanku.


Dan saat ibuku mencoba melerai kami, tanpa sengaja temanku memukul ibuku dan mereka langsung kabur begitu saja.


Ibuku saat ini sedang di rawat di rumah sakit dan kami terpaksa berhutang lagi.


--------------------------------------------------------


Ryo dan Yusuke menangis.


"Woy Kalian kenapa nangis, kampret!"


"Ah maaf, maaf, tapi intinya semua tergantung pilihan hatimu. Kami juga akan menerimamu sebagai teman kami" ucap Yusuke.


"Hm, baiklah"


Yusuke dan Tsukasa pun bersalaman, Yusuke menarik tangan Ryo agar ikut bersalaman meski Ryo sambil tetap membaca buku.


Di lain tempat, Yurika sedang menaiki mobil menuju perusahaan ayahnya.


Ia berjalan dengan anggun menyembunyikan sifat tomboynya.


"Yurika, bagaimana pemeriksaan hari ini?" Ucap Ayahnya.


"Aku tidak apa-apa, bahkan aku bisa berjalan dengan lancar. Jadi apa besok aku bisa berangkat ke sekolah?"


"Tentu..."


Yurika tersenyum lega dan memeluk ayahnya dengan manja.

__ADS_1


--------------------Bersambung-----------------


__ADS_2