
Malam itu, Ryo mengurung dirinya di kamar setelah usai sekolah.
Matanya terus tertuju menghadap layar komputer di kamarnya.
Ia sedang membaca artikel-artikel yang bahkan tidak dipahami orang biasa.
Lalu dia membuka email dan mendapati tawaran pekerjaan.
Selama bertahun-tahun Ryo belajar meretas sistem keamanan atau meretas data-data pribadi seseorang.
Bisa di bilang Ryo adalah seorang Hacker.
Namun selama ini dia tidak pernah mencuri data atau pun mengambil uang mereka, dia hanya menjebol dan lalu mengembalikan seperti semula.
Hingga akhirnya kini ia di tawari pekerjaan dimana ia harus menjebol sistem keamanan dan membuat sistem keamanan itu jadi lebih kuat.
Tanpa pikir panjang Ryo menerima tawaran itu.
Suara ketukan pintu terdengar dari dalam kamarnya, ibunya meminta dia untuk pergi makan malam.
Saat di meja makan, ibunya baru sadar kalau wajah Ryo penuh perban.
"Ryo? Kok kamu bisa terluka?"
"Tidak apa-apa, hanya kecelakaan kecil"
"Ryo, ada yang ingin ibu katakan. Ibu harus pergi kerja di luar kota. Setelah kepergian ayahmu, tabungan ibu dan ayah tidak cukup untuk hidup kita jadi...."
"Iya bu, tidak apa-apa. Aku tidak akan bolos sekolah, itukan yang membuat ibu khawatir?"
Ibu Ryo tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca.
Dia beranjak dari meja makan dan memeluk anak satu-satunya itu.
Sebuah kecelakaan mobil 1 tahun lalu telah merenggut nyawa ayah Ryo.
Kecelakaan itu terjadi karena sebuah mobil yang tanpa sengaja menabrak mobil milik ayah Ryo.
Nyawa ayah Ryo tidak bisa di selamatkan.
Kabar kecelakaan tersebut membuat ibu Ryo syok berat, terlebih Ryo yang pada hari itu juga bertengkar dengan ayahnya karena Ryo yang tidak mau keluar kamar.
Pada hari pemakaman pun Ryo masih tetap di kamar dan menangis sendirian.
Sejujurnya saat itu ibunya sangat kecewa pada Ryo, tapi ibunya pun menyadari kalau setiap anak memiliki pilihan hidupnya sendiri.
Dan 5 hari setelah kematian ayahnya, akhirnya Ryo keluar dari kamar dan ikut makan bersama ibunya.
Ryo memeluk ibunya yang tampak kurus itu.
Sejak hari itu perlahan-lahan Ryo mau membantu ibunya mengurus pekerjaan rumah bahkan keluar rumah untuk sekedar membeli bahan makanan.
Meskipun Ryo tidak pernah keluar untuk bersekolah dan hanya mengikuti kelas online tapi ibunya pun juga mengetahui kalau Ryo adalah anak yang cerdas.
Hingga setelah sekian lama akhirnya Ryo mengatakan kalau dia akan pergi ke sekolah.
Tentu saja ibunya sangat bahagia melihat perubahan Ryo tersebut.
Selama ini ibunya sama sekali tidak memaksa kehendak Ryo, ibunya terus melindungi Ryo dari amarah ayah Ryo.
Meski harus bertikai dengan suaminya sendiri, dia akan terus membela anaknya karena dia yakin dan percaya kepada Ryo.
"Terima kasih, bu. Ibu tidak perlu khawatir lagi" ucap Ryo sambil terus memeluk ibunya yang menangis itu.
Keesokan harinya Ryo mengantar ibunya ke bandara.
Ryo melihat punggung ibunya yang perlahan semakin jauh.
__ADS_1
Ia melihat jam tangannya dan bergegas pergi ke sekolah.
Di tengah jalan ia melihat Yurika, tampaknya mobilnya mengalami kerusakan dan sedang di perbaiki oleh supirnya.
Ryo berusaha untuk tidak memperdulikannya tapi hari ini langit begitu cerah, tidak ada tindak kejahatan.
Tanpa sadar ia berhenti di belakang Yurika.
"Cewek preman, sampai hitungan ke 5 kalau tidak naik ke sepedaku aku akan terus mengayuh"
"Eh apa?"
"...satu"
"Tunggu, maksudmu apa?"
"....dua....tiga"
"Tapi..."
"Empat...li-"
Yurika langsung duduk di bangku belakang sepeda Ryo.
Ryo langsung mengayuh sepedanya.
Selama perjalanan ke sekolah, Ryo hanya diam dan tidak berbicara dengan Yurika.
Seakan Ryo tidak membonceng siapapun di belakangnya.
Yurika pun hanya duduk diam.
Sampailah mereka di sekolah.
Ryo memarkirkan sepedanya dan berjalan meninggalkan Yurika.
"Aku tau kamu pasti minder karena mau membalas kebaikankukan? Hah~ padahal aku tidak berharap kamu membalas pertolonganku saat hujan itu"
Ryo masih diam.
"Hey jika kamu di ajak bicara harusnya kamu menghargai lawan bicaramu"
Ryo masih diam dan malah memasang earphone.
Hal tersebut malah membuat Yurika jadi makin kesal dan terus menggoda Ryo.
Hari ini kelas Ryo mendapat jadwal pelajaran olahraga.
Seluruh murid kelas sudah berkumpul dilapangan.
Diantara semua murid Yurika menjadi murid paling bersemangat saat olahraga.
Namun berbeda dengan Ryo yang sepertinya tidak bersemangat sama sekali.
Guru olahraga mengatakan bahwa kali ini setiap murid akan di tes untuk kecepatan lari mereka.
Karena bulan depan sekolah mereka akan mengikuti lomba lari dan bersaing dengan sekolah lainnya.
Karena itu guru olahraga tersebut ingin menyeleksi mereka dan dinilai siapa yang cocok untuk menjadi kandidat perwakilan sekolah.
Hadiah untuk perlombaan kali ini adalah beasiswa untuk melanjutkan kuliah di universitas pilihan mereka.
Tentu saja seluruh murid sangat tertarik dan bersemangat.
Mereka pun mulai di uji, karena Ryo yang tidak pernah keluar rumah dan berolahraga.
Tubuhnya yang lemah itu tak kuat berlari jauh dan akhirnya diminta untuk istirahat saja.
__ADS_1
Dan Yurika menjadi murid yang memiliki waktu tercepat saat berlari yang menjadikan ia dipilih untuk di seleksi lagi diantara seluruh kandidat sekolah.
Seorang murid laki-laki dari kelas lain menghampiri Ryo yang tampak kelelahan itu.
"Padahal kulihat kamu kuat bersepeda ternyata kamu lemah juga hehe" ucapnya.
Namun Ryo tetap diam.
"Namaku Yusuke Nagawa, peringkat dua di bawahmu. Aku kagum denganmu! Padahal tidak pernah masuk sekolah tapi dapat nilai tinggi"
Ryo masih diam.
"Ckh, sikapmu ini malah jadi membuatku bersemangat untuk memaksamu bicara tahu!!"
Dengan sedikit paksaan, Yusuke menarik tubuh Ryo mengajaknya pergi ke kantin untuk membeli minuman.
Padahal jam pelajaran olahraga belum selesai.
"Tunggu kita membolos?" Ucap Ryo.
"AKHIRNYA KAMU BICARA JUGA!!!"
Ryo langsung menutup mulutnya dan memalingkan pandangannya menyembunyikan wajah malunya itu.
Yusuke tertawa keras.
"Hey dengar, sejujurnya aku juga tidak suka olahraga dan aku melihat kamu juga tidak menyukainya. Ngomong-ngomong aku lebih suka E-sport!"
Ryo mulai melirik Yusuke.
"Ini rahasiaku, aku ini juara nomer 1 E-Sport. Berbagai jenis game online aku mainkan. Bersama timku, kita memenangkan kejuaraan bersama"
"Boleh ku tebak nama timmu?" Ucap Ryo
"Tentu...!*
"The Legend of Devil/TLOD"
"YAP!! KENAPA KAMU BISA TAHU?"
"Ehem, rahasia"
Yusuke merengek kecewa karena Ryo yang malah membuatnya semakin penasaran.
Yusuke merentangkan tangan kanannya mengajak Ryo untuk bersalaman.
"Mau berteman denganku?"
Ryo tersenyum tipis dan menerima ajakan pertemanan itu.
Akhirnya karena mereka sama-sama sudah cerdas mereka memutuskan untuk membolos pelajaran seharian.
Di tempat yang jauh ternyata Yurika memperhatikan mereka.
Wajah Yurika tampak kesal.
Karena Ryo selalu bersikap dingin dan cuek padanya, sedangkan pada Yusuke dia malah bisa akrab satu sama lain.
Aoi menepuk punggung Yurika yang tentu saja membuatnya kaget.
"Lagi lihat apa, Yurika?"
"Bukan apa-apa kok, kenapa kamu disini?"
"Aku mencarimu karena guru olahraga memintamu menemuinya"
Akhirnya mereka berdua pun pergi bersama.
__ADS_1
...--------------------Bersambung-----------------...