
-Yurika berumur 14 tahun-
Suatu hari ketika Yurika sedang menjalani perawatan di rumah tak sengaja ia bertemu dengan Hiro Kuroyama.
Hiro Kuroyama adalah seorang anak laki-laki yang memiliki penyakit yang amat parah, penyakitnya tersebut membuat dirinya tidak mampu untuk berjalan.
Hiro selalu mendekati Yurika yang selalu bersikap cuek pada Hiro.
Namun suatu hari ketika Hiro sedang mencoba berjalan di kamarnya, Yurika tak sengaja melihatnya dan terus memperhatikannya.
Tiba-tiba Hiro terjatuh dan spontan Yurika berlari dan menopang tubuh Hiro.
"Eh? Yurika?"
"Bodoh, kalau sudah tidak bisa berjalan terimalah kenyataan itu"
Yurika membantunya kembali ke kasurnya.
"Larimu cepat juga, terima kasih Yurika. Aku sudah tahu kalau aku tidak akan bisa berjalan lagi tapi aku masih bisa memiliki impian"
"Untuk apa punya mimpi, toh cuma ada kematian yang menjadi masa depanmu"
"Ucapanmu kasar sekali Yurika, tapi kamu memang tidak salah sih. Karena itu selagi aku belum mati jadi aku masih bisa bermimpi entah itu akan terwujud atau tidak tapi aku menikmatinya"
Yurika hanya terdiam memikirkan ucapan Hiro padanya.
Hiro tersenyum pada Yurika dan membelai kepala Yurika.
Yurika sontak kaget dan wajahnya memerah, ia melihat wajah Hiro yang sedang tersenyum manis padanya.
"Apa mimpimu, Hiro?"
"Wuoh! Ini kali pertamamu menyebut namaku! Jika kamu penasaran, impianku adalah bisa mendapat beasiswa ke sekolah yang ku ingin"
"Kalau begitu aku bisa membiayaimu masuk kuliah itu"
"Aku menolaknya! Uang itu tidak setara dengan usaha, lebih baik aku tetap berusaha meraih impianku daripada menggunakan kekayaanmu itu"
Untuk pertama kalinya ada seseorang yang tidak memandang Yurika sebagai anak orang kaya yang selalu memanfaatkan kekayaannya.
Sejak hari itulah mereka mulai berteman.
-Yurika kelas 1 SMA-
Yurika tampak berjalan dengan wajah yang musam, beberapa murid disana tampak sedang berbicara tentang dirinya.
Saat Yurika sedang duduk sendirian di taman sekolah seorang siswi sekolah yang seumuran dengan Yurika berdiri di depannya dan menjulurkan tangannya untuk mengajaknya berkenalan.
Namun Yurika yang bersikap sangat dingin hanya mengabaikan anak tersebut dan berjalan pergi.
Sama seperti Hiro, siswi itu selalu mengikuti Yurika.
Hingga esok harinya, Yurika melihat siswi tersebut sedang di ganggu oleh beberapa siswi nakal.
Yurika pun kesal dan langsung menolongnya.
Siswi nakal tersebut kabur setelah mengetahui Yurika datang menolong.
"Terima kasih, Yurika"
"Kenapa kamu bisa di ganggu?"
"Mereka memaksaku untuk mengatakan informasi yang aku ketahui tentang seseorang, soalnya aku terlalu banyak tahu tentang gosip yang ada di sekolah"
__ADS_1
Yurika berfikir kalau sampai siswi tersebut dimanfaatkan orang lain maka murid lainnya pun akan dalam masalah, karena itulah Yurika meminta siswi tersebut berada di dekatnya.
"Namamu siapa? Maaf saat itu aku menolak berkenalan"
"Aoi Oono, aku tahu kok. Pasti kamu mengira kalau aku seperti mereka yang melihat kekayaanmu kan? Aku benar-benar ingin berteman denganmu, itu saja kok"
Hari itu juga Aoi dan Yurika menjalin ikatan persahabatan.
****
Di sore hari sepulang sekolah.
Yurika mengajak Aoi bertemu dengan Hiro di rumah sakit.
Aoi yang pertama kali bertemu dengan Hiro langsung menjadi akrab.
Di tengah asyiknya perbincangan Yurika meminta izin untuk pergi keluar sebentar untuk bertemu seseorang.
Akhirnya di ruangan tersebut hanya ada Aoi dan Hiro.
"Aoi, tolong jaga Yurika ya. Soalnya dia...."
Aoi mendengar dengan seksama cerita Hiro.
Tiba-tiba air mata Aoi menetes begitu saja.
Hiro meminta pada Aoi jika suatu hari dia meninggal, dia ingin Aoi selalu berada di sisi Yurika.
Jangan sampai Yurika menjadi putus semangat karena melihat makam yang tertulis nama Hiro.
Jangan sampai Yurika terus menerus merasa sedih karena kematian Hiro.
Aoi mengiyakan permintaan Hiro tersebut.
****
Bertahun-tahun berlalu.
Kini Yurika dan Aoi duduk di bangku kelas 3.
Sore haru itu mereka berdua menjenguk Hiro yang baru saja selesai menjalani terapi.
Rambut Hiro yang sudah habis karena rontok membuat Yurika tak kuasa menahan tangisnya.
Namun Aoi berusaha menguatkan Yurika.
Mereka pun masuk ke ruangan Hiro, wajah Hiro tampak lebih pucat dari biasanya.
Yurika pun menceritakan kalau dia berhasil mengikuri seleksi lomba lari untuk mendapat beasiswa, ia berencana jika Yurika mendapat hadiah itu maka hadiah iti akan di berikan pada Hiro.
Hiro pun menangis haru dan mengucapkan terima kasihnya pada Yurika.
Ketika Yurika pergi keluar, Hiro menyempatkan menitip pesan pada Aoi.
"Aoi, tolong jangan buat Yurika terlalu memaksakan diri hanya untuk aku yang sebentar lagi akan menemui ajalnya ini"
"Bicara apa kamu Hiro?! Kamu akan sembuh dan kamu juga pasti bisa menonton Yurika"
"Aku harap waktu masih berpihak pada diriku".
****
5 hari sebelum perlombaan.
__ADS_1
Kondisi Hiro semakin hari semakin kritis.
Hari dimana Yurika mengikuti perlombaan adalah hari dimana operasi Hiro akan di laksanakan.
Karena itulah Yurika meminta Aoi untuk di hari itu menemani Hiro saja, namun disisi lain Hiro meminta Aoi untuk menjaga Yurika.
Bagai bunga Simalakama terpaksa Aoi akan meminta tolong pada Ryo untuk mengawasi Yurika tepat di hari perlombaan Yurika.
****
Malam sebelum operasi tersebut di jalankan.
Yurika menyempatkan diri untuk bertemu dengan Hiro.
Yurika tampak duduk di samping kasur Hiro.
Melihat Hiro yang terlihat lemah tidak berdaya membuat Yurika menangis.
Ia teringat masa dimana Hiro masih sanggup menggodanya saat dirumah sakit dengan kursi rodanya.
Tangan Hiro menyeka air mata Yurika.
"Yurika, meski sifat Tsunderemu itu menyebalkan tapi kamu punya hati yang baik, itulah sebabnya aku menyukaimu"
Yurika memandang Hiro yang tampak berusaha bangun untuk membuat dirinya dalam posisi duduk.
Hiro memandang mata Yurika.
"Begitu ya, kamu tidak ada rasa padaku?"
"Maafkan aku, aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Jika kamu ingin mencium bibirku sebagai permintaan, akan ku kabulkan"
"Tidak Yurika, berikan ciuamanmu pada seseorang yang berarti bagimu. Aku masih belum pantas"
Hiro mendekatkan keningnya pada kening Yurika.
"Aku hanya mau kamu mendengarkan ucapanku yang tak berbalas ini. Aku mencintaimu"
Yurika pun tak sanggup membendung air matanya.
Hiro dan Yurika pun saling berpelukan.
****
Satu hari setelah pemakaman Hiro, Yurika jadi sering melamun.
Bahkan lebih banyak diam daripada cerewet.
Ryo yang duduk di belakang Yurika pun menjadi heran.
Aoi berjalan mendekati Yurika dan memberikan sebungkus coklat.
"Katanya makan coklat bisa membuat mood kita membaik. Apalagi coklat ini ku dengar sedang di sukai oleh banyak siswa sekolah loh" ucap Aoi.
Yurika hanya tersenyum tipis dan hanya memegang coklat pemberian Aoi tersebut.
Aoi jadi sedikit sedih dan hanya terdiam.
Ryo memperhatikan mereka berdua.
"Aku tidak mau terlibat" ucap Ryo dalam hati.
-------------------Bersambung------------------
__ADS_1