SYNCHRONICITY

SYNCHRONICITY
Bagian 11


__ADS_3

Pak Atsushi sudah berada di villa, ia masuk dengan beberapa ajudannya.


Ia melihat seseorang berhodie hitam dan memakai topeng, dia Infinity


Ia duduk menatap laptop miliknya.


Pak Atsushi duduk dan tersenyum padanya.


"Aku beri kamu waktu 1 menit untuk menceritakan keluhanmu" ucap Infinity.


"Apa?!" Jawab Pak Atsushi dengan wajah kaget.


"Waktu sudah berjalan...."


"Baiklah, aku ingin kamu membuat sistem keamanan untuk menyembunyikan semua dataku, karena ada seorang anak yang sudah mengetahui rahasia perusahaanku. Aku tidak mau perusahaanku hancur"


"Rahasia apa? Pembunuhan?"


Pak Atsushi tertegun, dan mulai berdalih dengan nada bicara yang bergetar.


"Kau pikir aku bodoh? Aku sudah tau semua kebusukanmu. Aku bahkan tidak tertarik untuk terlibat dalam kejahatanmu, oh bukan. Kejahatan anakmu"


Pak Atsushi naik darah, dia langsung menyuruh ajudannya menodongkan pistol ke arah Infinity.


Tak lama dari dalam sebuah kamar, Jiro keluar dengan wajah yang gemetar bersama dengan Tsukasa.


Pak Atsushi menelan ludah.


"Hoh, mau menyerangku? Tapi disini ada dua korbanmu. Mereka akan membongkar kejahatmu"


"Ha? Haha kau pikir aku bodoh. Sebelumnya Aku sudah meminta NO NAME untuk membantuku dan...."


Ucapan Pak Atsushi terhenti ketika melihat NO NAME dan Yurika keluar dari ruangan.


Yurika mendekati Pak Atsushi yang gemetaran melihat putri perusahaan terkaya tersebut.


"Jiro, jangan takut dan tunjukan bukti video yang kamu ambil. Dan Pak Atsushi, ayahku sangat kecewa sudah bekerja sama dengan Anda. Saya harap anda akan mempertanggung jawabkan perbuatan anda" ucap Yurika.


Pak Atsushi tidak dapat berkutik, dia begitu banyak mengeluarkan keringat.


Yurika menyalakan perekam suara dan meminta Pak Atsushi membongkar kejahatan anaknya yang menyebabkan Tsukasa dan Jiro terlibat masalah.


Setelah itu, beberapa polisi datang dan mengamankan Pak Atsushi beserta bodyguardnya.


Ryo melepas topengnya dan bernafas lega.


Sudah lama dia tidak merasa selega ini, Ryo sudah tampak pucat karena terlalu banyak menghabiskan tenaga dan pikiran.


Esok harinya di sekolah, Tsukasa sudah bisa masuk sekolah.


Dengan banyak bantuan dari Yurika.


Kabar pembunuhan yang di lakukan oleh Dai mulai merambat luas, di tambah lagi kabar berita keluarga Yamada yang memberi investasi kepada rumah sakit yang merawat orang tua Tsukasa.


Rumah sakit tersebut sering melakukan praktik ilegal atas permintaan Keluarga Yamada.


Karena itulah, ayah Yurika semakin kecewa dan akhirnya rumah sakit tersebut di ambil alih oleh ayah Yurika.


Semua hutang keluarga Tsukasa juga sudah di anggap lunas oleh keluarga Yamada.


Hari itu di perpustakaan, Ryo mengembalikan buku tersebut.


"Tapi ini belum waktunya mengembalikan bukunya" ucap Hana.


"Um, aku sudah mengingat semua isinya" ucap Ryo.


"Begitu, anu begini. Senpai bolehkah...aku..."


"Aku harus pergi"

__ADS_1


Ryo pergi meninggalkan perpustakaan, Hana yang belum selesai bicara hanya membuang nafas kecewa.


Ryo berjalan di lorong, banyak murid yang memperhatikannya.


Lalu terdengar suara tepukan tangan dari salah seorang murid dan lalu di ikuti oleh murid lainnya.


Ryo hanya terdiam tidak mengerti.


Lalu Tsukasa merangkulnya dari belakang.


"Terima kasih, sahabatku! Semua murid disini sudah tahu kalau kamu yang menyelamatkanku" ucap Tsukasa.


Ryo kaget dan langsung mendorong Tsukasa.


Tanpa mengatakan apapun, Ryo berlari melewati kerumunan murid itu.


Tanpa peduli apa yang terjadi Ryo langsung berlari menuju kelasnya dan langsung menutup telinganya dengan earophone.


Yurika hanya memperhatikan bingung, tak lama Tsukasa datang menghampiri Ryo.


"T-tunggu kamu ada apa?! Kenapa tiba-tiba kamu lari tadi? Apa aku mengucapkan sesuatu yang salah?" Tanya Tsukasa.


Ryo berdiri dan memukul mejanya.


"PERGI!!" Ucap Ryo dengan nada tinggi.


Suara Ryo terdengar oleh semua teman kelasnya, suasana yang ramai mulai menjadi sunyi.


Tsukasa terlihat geram, dengan sigap Yurika langsung menarik Tsukasa untuk keluar dari kelas.


Ryo kembali duduk dan memasang eaephonenya.


Yurika memojokkan Tsukasa di tembok.


"Apa yang terjadi dengan kalian? Apalagi kamu mau memukulnya? Kamu mau nama baikmu hancur lagi setelah semua perjuangan Ryo untukmu" ucap Yurika.


"Eh?"


Yurika melepaskan Tsukasa dan ikut bingung kenapa Ryo bisa semarah itu.


Tapi yang jelas, Yurika memberitahu kalau saat ini lebih baik Tsukasa tidak mengganggu Ryo sama sekali.


Selama jam pelajaran, Ryo terus memakai earphonenya, karena guru tahu kalau Ryo anak yang cerdas.


Dia membiarkan Ryo asalkan dia mengerti apa yang di ajarkan hari ini.


Sekolah pun berakhir, Ryo bergegas mengambil sepedanya dan kembali ke rumahnya.


Yusuke yang menunggu bis di halte melihat Ryo yang tergesa-gesa itu.


Tak lama, Tsukasa merangkul Yusuke dan memaksa Yusuke untuk ikut dengannya.


****


Tsukasa menceritakan semua yang terjadi pada Yusuke sambil meminum soda di sebuah supermarket.


Yusuke menepuk jidatnya lalu menatap Tsukasa.


"Apa kamu tidak pernah berteman dengan orang introvert atau hikikomori?"


"Be-belum sih" jawab Tsukasa dengan polos.


"Haduuuuuh, yang jelas untuk sementara kamu jauhi Ryo dulu. Jangan ganggu dia"


****


Yurika terus memperhatikan ponselnya, saat ini dia sedang bingung.


Sejujurnya saat ini dia mengkhawatirkan Ryo, baru kali ini ia melihat Ryo semarah itu.

__ADS_1


Entah apa yang di sembunyikan Ryo padanya.


Semakin dia memikirkannya, semakin dia jadi penasaran.


Tiba-tiba, hidungnya mengeluarkan darah.


Dengan cepat ia ambil tisu dan menyumbat hidungnya.


Karena memikirkan Ryo, dia sampai lupa untuk minum obat.


Setelah keadaannya membaik ia segera meminum obatnya dan segera tidur.


****


Ryo terlihat mengerjakan pekerjaannya untuk memperkuat sistem keamanan.


Pikirannya masih kacau karena kejadian hari ini.


"Kenapa manusia itu tidak dapat di percaya, lihat ayah. Inilah alasan kenapa aku tidak bisa percaya dengan orang lain lagi"


Ryo memeriksa ponselnya ternyata dia mendapat pesan singkat dari ibunya.


^^^"Apa semua baik-baik saja?^^^


^^^-Ibu"^^^


Ryo tidak menjawab pesan itu dan lanjut mengerjakan pekerjaannya, tapi ternyata tiba-tiba dia mendapat telepon dari seseorang.


Ia pun mengangkat telepon itu dan lalu mengecek CCTV.


Ryo menutup telepon dan berjalan keluar kamar untuk membuka pintu rumahnya.


Terlihat Yusuke yang membawa banyak makanan, Ryo menghela nafas dan mempersilahkan Yusuke masuk ke dalam rumah.


Ryo mengajak Yusuke masuk ke dalam kamarnya.


Tanpa memperdulikan Yusuke, Ryo melanjutkan pekerjaannya.


Yusuke melihat kalau Ryo sedang sibuk, dia pun juga menghabiskan waktu untuk bermain game.


Berjam-jam mereka tidak bicara sama sekali, hingga saat Ryo selesai dengan pekerjaannya.


Ryo mengambil makanan yang di bawa Yusuke dan memakannya.


"Anggap saja ini sebagai ganti karena kamu tidak datang ke atap saat istirahat" ucap Yusuke.


"Berisik...."


"Hey, kadang bercerita itu penting"


Ryo hanya terdiam.


".... Apa kamu tidak percaya denganku? Aku mengerti perasaanmu, bagaimana kalau kita main game saja?"


"Tidak pulang?"


"Tenang saja! Aku kabur dari rumah diam-diam hihi"


Mereka pun mulai bermain game bersama.


Setelah berjam-jam bermain, Yusuke pun ketiduran.


Ryo berjalan menuju teras rumahnya untuk mencari udara segar.


Dalam kesunyian malam itu, air mata Ryo menetes membasahi pipinya.


Dengan pergelangan tangannya, ia menutupi matanya itu.


-------------------Bersambung------------------

__ADS_1


__ADS_2